Cesc Fabregas Makin Dekat dengan Mimpi Latih Barcelona usai Bawa Como Bantai Lens 9-1 di Liga Champions
LENS, iNews.id – Cesc Fabregas semakin mencuri perhatian setelah membawa Como menghancurkan RC Lens dengan skor fantastis 9-1 di Liga Champions 2026-2027. Kemenangan bersejarah tersebut membuat pelatih asal Spanyol itu semakin diperhitungkan di Eropa sekaligus menghidupkan kembali ambisinya menangani Barcelona.
Como tampil luar biasa dalam pertandingan tandang melawan Lens. Klub Italia tersebut mencetak tujuh gol pada babak kedua untuk mengamankan kemenangan dengan selisih delapan gol, menyamai rekor margin kemenangan terbesar dalam sejarah Liga Champions.
Hasil tersebut memperpanjang kejutan Como pada musim debutnya di kompetisi elite Eropa. Sebelumnya, tim asuhan Fabregas sudah mengalahkan RB Leipzig dan Manchester United (MU).
Tiga kemenangan tersebut membuat Como mengoleksi sembilan poin dari maksimal 12 angka. Mereka kini menempati posisi keempat klasemen Liga Champions, sebuah pencapaian mencolok bagi klub yang belum pernah tampil di kompetisi tersebut.
Keberhasilan Como semakin menarik karena perjalanan mereka menuju panggung Eropa tidak berlangsung singkat. Klub tersebut sebelumnya berkompetisi di kasta bawah Serie B sebelum berhasil menembus Serie A dan kemudian Liga Champions.
Fabregas menjadi salah satu sosok penting di balik kebangkitan tersebut. Mantan gelandang Arsenal, Barcelona, dan Chelsea itu bergabung dengan Como sebagai pemain pada 2022 setelah meninggalkan Monaco.
Karier kepelatihannya mulai berkembang ketika dia dipercaya menjadi pelatih sementara pada November hingga Desember 2023. Fabregas kemudian ditunjuk sebagai pelatih kepala permanen pada Juli 2024, setelah Como berhasil kembali ke Serie A untuk pertama kalinya dalam 21 tahun.
Pelatih berusia 39 tahun itu langsung memberikan dampak besar. Pada musim pertamanya, Como finis di posisi ke-10 Serie A sebelum meningkat drastis ke peringkat keempat pada musim berikutnya dan mengamankan tiket Liga Champions untuk pertama kalinya sepanjang sejarah klub.
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari pendekatan taktik Fabregas. Dia menggabungkan permainan berbasis penguasaan posisi yang dipelajarinya dari Pep Guardiola dengan transisi cepat ala Arsene Wenger.
Perpaduan tersebut membuat Como mampu menghadirkan permainan menyerang yang efektif. Kemenangan telak atas Lens menjadi salah satu bukti paling mencolok dari perkembangan tim di bawah kepemimpinan Fabregas.
Di tengah meningkatnya reputasi sebagai pelatih, Fabregas ternyata memiliki ambisi besar yang sudah lama dia ungkapkan. Mantan pemain Timnas Spanyol itu bermimpi suatu hari bisa kembali ke Barcelona, bukan sebagai pemain, melainkan pelatih kepala.
Keinginan tersebut pernah disampaikan Fabregas dalam wawancara dengan RAC1 pada 2022, ketika dia mendekati akhir karier profesionalnya sebagai pesepak bola.
"Saya tidak bisa menyangkal kalau melatih Barca suatu hari nanti akan menjadi mimpi. Waktu yang akan menjawabnya. Saat ini, yang ingin saya lakukan hanyalah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menjadi pelatih," ujar Fabregas, dikutip dari Sport Bible.
Fabregas bahkan sudah mempersiapkan karier kepelatihannya sejak masih aktif bermain. Dia mengumpulkan berbagai catatan mengenai metode para pelatih yang pernah menanganinya.
"Saya memiliki buku-buku catatan berisi hal-hal yang saya sukai dan tidak sukai dari berbagai pelatih yang pernah menangani saya. Semuanya saya simpan sebagai bahan pertimbangan untuk masa depan," katanya.
Hubungan Fabregas dengan Barcelona memang sangat kuat. Dia merupakan jebolan akademi La Masia sebelum meninggalkan Camp Nou untuk bergabung dengan Arsenal pada 2003.
Fabregas menghabiskan delapan tahun bersama Arsenal di London Utara sebelum kembali memperkuat Barcelona pada 2011. Selama periode keduanya di klub Catalan tersebut, dia mencatatkan 42 gol dan 50 assist dalam 151 penampilan.
Petualangannya bersama Barcelona berakhir pada 2014 ketika dia memutuskan bergabung dengan Chelsea. Namun, keinginannya kembali ke klub masa kecil sebagai pelatih tetap menjadi salah satu ambisi terbesar dalam kariernya.
Menariknya, Barcelona bukan satu-satunya klub besar Spanyol yang berpotensi menjadi tujuan Fabregas. Meski memiliki hubungan emosional dengan Blaugrana, dia tidak secara tegas menutup kemungkinan menangani rival abadi mereka, Real Madrid.
Dalam pernyataan pada Mei lalu, Fabregas menegaskan tidak memiliki banyak batasan mengenai pilihan klub. Namun, dia memastikan hanya tertarik menjalankan peran sebagai pelatih kepala, bukan asisten.
"Saya tidak memiliki batasan mutlak. Satu batasan yang sejak awal sudah saya tegaskan adalah saya tidak ingin menjadi asisten, misalnya. Saya sudah jelas ingin menjadi pelatih kepala," ungkapnya.
Ketika ditanya secara khusus mengenai kemungkinan melatih Real Madrid, Fabregas mengaku belum pernah mempertimbangkan pilihan tersebut.
"Soal yang lainnya (kemungkinan melatih Real Madrid)? Saya bahkan belum memikirkan atau mempertimbangkannya. Saya belum punya waktu untuk hal itu," ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan Fabregas belum menentukan langkah berikutnya di luar Como. Meski Barcelona menjadi klub impiannya, kemungkinan menangani Real Madrid juga tidak dia tutup secara tegas.
Dengan pencapaian yang terus meningkat bersama Como, nama Fabregas berpeluang semakin diperhitungkan klub-klub besar Eropa. Namun, untuk saat ini, belum ada kepastian mengenai kepindahannya ke Barcelona maupun Real Madrid.
Editor: Abdul Haris