Chelsea di Ujung Tanduk! Enzo Maresca Terancam Dipecat Januari, Jadwal Neraka Menanti
LONDON, iNews.id - Tekanan terhadap Enzo Maresca kian memuncak. Performa tim yang terus merosot, reaksi keras dari suporter, serta padatnya jadwal sembilan laga sepanjang Januari membuat manajemen Chelsea berada di persimpangan krusial terkait masa depan sang pelatih.
Pelatih asal Italia berusia 45 tahun itu disebut-sebut mulai kehabisan waktu. Jika tren negatif tidak segera terhenti, peluang Maresca bertahan hingga akhir Januari disebut semakin menipis.
Media Inggris Guardian dalam laporannya pada 1 Januari waktu setempat menyebutkan bahwa, "Jika Chelsea gagal bangkit hingga akhir Januari, manajer Enzo Maresca bisa menghadapi pemecatan." Analisis tersebut menekankan rapuhnya posisi Maresca setelah Chelsea hanya mencatat satu kemenangan dari tujuh laga terakhir Liga Inggris, ditambah sejumlah kontroversi internal yang memperburuk situasi.
Ketegangan memuncak saat Chelsea ditahan imbang 2-2 oleh Bournemouth. Para pendukung tuan rumah meluapkan kekecewaan dengan cemoohan keras. Momen paling panas terjadi ketika Cole Palmer ditarik keluar di babak kedua. Stadion langsung bergemuruh dengan teriakan "Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan." Ini menjadi sinyal jelas ketidakpuasan publik terhadap keputusan taktis sang manajer.
Masalah Chelsea tak berhenti pada hasil di lapangan. Usai kemenangan melawan Everton di awal bulan, Maresca melontarkan pernyataan yang memicu tanda tanya besar: "Itu adalah 48 jam terburuk yang pernah saya habiskan di Chelsea." Pernyataan tersebut tak pernah dijelaskan lebih lanjut. Guardian menambahkan bahwa "pernyataan ini menciptakan keretakan dengan petinggi klub," sehingga memicu spekulasi mengenai konflik internal di tubuh The Blues.
Secara klasemen, Chelsea kini terlempar ke posisi kelima. Musim ini, mereka telah kehilangan 15 poin dari situasi unggul, dengan grafik performa yang menurun tajam sejak Desember. Kekalahan dari Leeds, Atalanta, dan Aston Villa semakin menyorot kelemahan taktik serta timing pergantian pemain Maresca, yang dinilai memperparah ketegangan di ruang ganti.
Meski demikian, manajemen klub belum sepenuhnya siap mengambil langkah drastis. Trauma pemecatan beruntun terhadap Thomas Tuchel dan Graham Potter di era kepemilikan Todd Boehly–Clearlake masih membekas. Pergantian pelatih di tengah musim kembali dianggap berisiko. Sikap resmi klub masih mengarah pada prinsip “evaluasi di akhir musim”, namun celah pengecualian terbuka lebar jika situasi makin memburuk.
Ujian terberat menanti di bulan Januari. Chelsea dijadwalkan melakoni sembilan pertandingan padat: lima laga Liga Inggris, satu laga Piala FA melawan Charlton, dua semifinal Piala Carabao kontra Arsenal, serta dua pertandingan Liga Champions menghadapi Pafos dan Napoli. Stabilitas menjadi kata kunci, tetapi jika hasil negatif berlanjut, keputusan besar diyakini tak bisa lagi ditunda. Bahkan, opsi alternatif mulai dipersiapkan, dengan nama Liam Rosenior—pelatih klub afiliasi Strasbourg—mulai dikaitkan.
Sekitar 18 bulan lalu, Chelsea mengambil langkah berani dengan memutuskan kerja sama dengan Mauricio Pochettino dan mempercayakan proyek jangka panjang kepada Maresca. Musim sebelumnya, klub sempat menikmati hasil positif seperti lolos ke Liga Champions, menjuarai Liga Conference, serta Piala Dunia Antarklub. Kini, semua pencapaian itu seolah menjadi kenangan, sementara kesabaran manajemen dan fans Chelsea benar-benar berada di titik nadir.
Editor: Reynaldi Hermawan