Chivu Galau Inter Tanpa Kemenangan dalam 7 Derbi Milan: Puncak Klasemen Tak Berarti!
MILAN, iNews.id – Inter Milan belum mampu mengalahkan AC Milan dalam tujuh derbi terakhir meski sukses menjuarai Liga Italia dan Piala Italia musim lalu. Pelatih Cristian Chivu meminta para pemain melakukan evaluasi sekaligus memberikan pengorbanan lebih untuk menghentikan catatan buruk tersebut.
Inter menelan lima kekalahan dan meraih dua hasil imbang dalam tujuh pertemuan terakhir melawan rival sekotanya. Kemenangan terakhir mereka dalam Derby della Madonnina terjadi pada April 2024.
Bahkan, dua pertemuan di Liga Italia musim 2025-2026 seluruhnya dimenangi Milan. Kini, Inter kembali menghadapi rivalnya dengan status pemuncak klasemen, tetapi Chivu menegaskan posisi tersebut tidak memberikan keuntungan dalam derbi.
Inter akan bertindak sebagai tim tamu pada derbi pertama musim ini di San Siro, Sabtu (31/10/2026) malam waktu setempat atau Minggu (1/11/2026) pukul 02.45 WIB. Pertandingan tersebut merupakan bagian dari pekan ke-10 Liga Italia.
“Mereka siap dan sadar ini adalah derbi. Bermain dalam pertandingan ini selalu memberikan motivasi tambahan. Posisi di klasemen tidak penting, tidak berarti apa-apa,” kata Chivu dalam konferensi pers Jumat, dikutip melalui TMW.
Chivu tidak ingin Inter berpuas diri dengan pencapaian sejauh ini. Dia meminta timnya tampil dalam kondisi terbaik dan menilai penyebab kegagalan mengalahkan Milan dalam tujuh kesempatan terakhir.
“Kami harus memperlakukannya sebagai pertandingan liga. Kami tidak bisa sekadar puas dengan apa yang sudah kami lakukan sejauh ini. Kami harus menjadi versi terbaik diri kami,” ujarnya.
“Kami juga harus bertanya kepada diri sendiri jika belum memenangi tujuh derbi terakhir. Insiden tertentu, momen-momen tertentu menguntungkan mereka, seperti pertandingan pertama tahun lalu. Kami harus memberikan sedikit lebih banyak pengorbanan.”
Meski demikian, Chivu menolak menganggap hasil derbi sebagai penentu perebutan gelar. Pengalaman musim lalu menjadi alasannya: Inter kalah dalam dua pertemuan liga melawan Milan, tetapi tetap meraih gelar juara.
“Musim lalu mengajarkan saya derbi bukan pertandingan penentu. Ini tantangan besar di Liga Italia, seperti biasanya, ada tiga poin yang diperebutkan,” katanya.
Dia juga mengingatkan perjalanan Milan setelah memenangi derbi pertama musim lalu. Ketika hasil tersebut dianggap membuka kembali persaingan di klasemen, Milan kemudian kalah dari Lazio di Roma.
“Ini baru pertandingan ke-10 musim ini,” tutur Chivu.
Namun, dia tetap memahami besarnya pertaruhan di luar tiga poin. Harga diri, tekad, dan keinginan menyenangkan suporter membuat derbi memiliki tekanan tersendiri.
“Tidak ada tim favorit dalam derbi. Ada banyak keinginan dan ambisi. Anda perlu menemukan energi dan motivasi. Semua orang berada di bawah tekanan, tetapi kami tidak boleh terlalu memikirkannya. Anda hanya perlu melakukan hal-hal yang benar,” ujarnya.
Dalam persiapan menghadapi Milan, Chivu menekankan keseimbangan fisik dan pikiran. Menanggapi kecenderungan lawan tampil cepat sejak awal pertandingan, dia meminta pemain memahami waktu yang tepat untuk mengambil keputusan.
“Kami mengetahui kekuatan Milan dan bagaimana mereka bisa menyakiti kami. Mereka tim yang bagus secara teknik. Kami harus siap menjaga kekompakan dan memberikan perlindungan di belakang garis pertahanan,” katanya.
Chivu juga menghadapi keterbatasan akibat cedera pemain. Carlos Augusto menjadi salah satu pilihan karena bisa dimainkan sebagai bek sayap maupun bek dalam susunan pertahanan.
“Saya dibatasi oleh cedera, dan sesekali semua orang harus beristirahat. Dia merupakan pilihan sebagai bek sayap dan sebagai bek. Saya selalu berusaha melakukan rotasi yang tepat, ada beberapa yang harus saya lakukan,” ujarnya.
Sementara itu, Chivu belum memastikan kemungkinan Josep Martinez kembali mengisi posisi penjaga gawang dalam derbi. “Kita lihat besok,” katanya singkat.
Inter sejauh ini sudah mengumpulkan 13 poin dari pertandingan ketika mereka sempat tertinggal. Catatan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai pentingnya menghindari kebobolan saat menghadapi Milan.
Chivu menjelaskan dia tidak menempatkan menyerang di atas bertahan. Menurutnya, pemain harus memahami situasi pertandingan, termasuk kapan perlu mengerahkan seluruh kemampuan.
“Saya marah kepada mereka yang terlena atau terlalu percaya kepada rekan setim hingga melupakan prinsip dasar tim. Saya selalu berangkat dari pemahaman, ketika membicarakan pertahanan, kita sedang membicarakan 11 pemain yang harus jelas dalam menjalankan tugasnya,” ujarnya.
Dia menyebut Inter terus mengerjakan aspek tersebut. Pelaksanaannya terkadang baik dan terkadang buruk sehingga menemukan keseimbangan menjadi pekerjaan penting.
Ditanya mengenai kemungkinan menerima hasil imbang 0-0, Chivu tidak memberikan jawaban pasti. Dia justru menekankan keinginan melihat pemain memberikan segalanya dan meninggalkan lapangan dengan kepala tegak.
“Saya tidak tahu. Jika kalah 0-1, itu buruk, tetapi Anda senang jika menang 1-0. Meski begitu, jika Inter yang melakukannya, selalu ada saja yang dikomentari. Saya ingin para pemain memberikan segalanya dan bisa mengatakan mereka sudah berusaha,” katanya.
Chivu turut menanggapi anggapan Inter kesulitan menghadapi lawan yang bertahan rapat di dekat gawang. Dia menilai timnya membutuhkan motivasi lebih serta keberanian memaksimalkan keunggulan saat menguasai bola.
“Jika berakhir 5-3, Anda kebobolan tiga gol tetapi mencetak lima gol. Jika berakhir 2-0, seolah itu belum cukup bagus karena Anda tidak mencetak lima gol,” ujarnya.
“Masalah Inter adalah kami perlu menemukan sedikit lebih banyak motivasi. Kami harus memahami, ketika menguasai bola, kami harus memaksimalkan karakteristik terbaik kami dan menyadari kami bisa mengambil sejumlah risiko.”
Selain derbi, Chivu membahas rencana stadion baru yang diperkenalkan Inter dan Milan. Dia mendukung perubahan, meski memiliki ikatan emosional dengan San Siro sebagai mantan pemain.
“Saya harus berhati-hati dengan ucapan saya,” katanya sambil tertawa.
“Saya mendukung sesuatu yang baru, dunia terus bergerak. Di sisi lain, saya merasa sedih: saya sudah memberikan banyak hal sebagai pemain di San Siro. Namun, dunia terus berjalan dan kami harus menerimanya. Masa depan bisa menakutkan, tetapi akan membawa kebahagiaan setelah kita semua terbiasa.”
Ketika ditanya kemungkinan masih melatih Inter saat stadion baru dibuka, Chivu tidak memberikan kepastian. Dia menyebut masih ada empat tahun dan bertahan selama itu bukan hal mudah bagi seorang pelatih.
“Saya tidak akan mengatakan apa-apa, masih ada empat tahun lagi. Sulit untuk bertahan selama itu, tetapi jika budaya olahraga berubah, mungkin saja,” tuturnya.
Editor: Abdul Haris