Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : 5 Insiden Terbengis di Sepak Bola: dari Gigit Bahu hingga Tendangan Kungfu
Advertisement . Scroll to see content

Dugaan Rasisme di EPA U-20, Erick Thohir Beri Peringatan Keras: Tak Ada Toleransi!

Rabu, 22 April 2026 - 19:19:00 WIB
Dugaan Rasisme di EPA U-20, Erick Thohir Beri Peringatan Keras: Tak Ada Toleransi!
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir. (Foto: Dok PSSI Pers)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Dugaan rasisme di Elite Pro Academy (EPA) U-20 mendapat respons tegas dari Ketua Umum PSSI, Erick Thohir. Dia menegaskan tidak ada toleransi terhadap tindakan tersebut di sepak bola Indonesia.

Dia menyampaikan setiap ucapan, ungkapan, dan perilaku yang mengandung unsur rasisme harus ditindak serius oleh seluruh pihak.

Menurut dia, kompetisi usia muda seperti Elite Pro Academy tidak boleh hanya fokus pada hasil pertandingan semata.


PSSI Tekankan Pembinaan Karakter

Erick Thohir menilai pembinaan pemain harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter, pengendalian emosi, serta penghormatan terhadap lawan dan wasit.

“FIFA dan PSSI tidak membenarkan segala bentuk ucapan dan ungkapan rasisme di sepak bola. Baik di kancah internasional dan juga nasional. Sejak usia muda, pemain harus dibentuk dengan prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, dan penghormatan kepada wasit. Prestasi tidak cukup hanya dengan skill. Prestasi harus ditopang karakter dan watak yang baik,” ujarnya di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Dia meminta operator kompetisi seperti I-League yang mengelola EPA, Liga 1, dan Liga 2 untuk terus menegakkan nilai saling menghargai.

Klub peserta juga diminta aktif menjaga lingkungan kompetisi tetap sehat dan edukatif.

PSSI mendorong penguatan sosialisasi anti-rasisme, anti-kekerasan, toleransi, disiplin, serta kepatuhan terhadap aturan pertandingan.

Pengawasan pertandingan perlu diperketat agar kompetisi usia muda menjadi ruang belajar yang aman bagi pemain.

“Kompetisi usia muda harus menjadi wadah tumbuhnya pemain yang lebih dewasa, matang, dan berkemampuan mumpuni. Karena itu, operator, klub, ofisial, dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan pembinaan karakter berjalan sekuat pembinaan teknik,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga mengapresiasi langkah Bhayangkara FC dan Dewa United yang mempertemukan dua pemain, Fadly Alberto Hengga dan Rakha Nurkholis, untuk menyelesaikan persoalan.

“Saya apresiasi karena kedua klub tetap menomorsatukan persatuan dan kesatuan sesuai prinsip Pancasila, meskipun berbeda daerah, semua berjuang bersama demi Indonesia. Ini harus menjadi pelajaran bagi pemain,” tuturnya.

Editor: Abdul Haris

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut