FIFA Beri Ultimatum 53 Hari, UEFA Murka: Piala Dunia Bukan untuk Dijual!
ZURICH, iNews.id – Rencana FIFA menjual saham minoritas dalam perusahaan baru pengelola bisnis Piala Dunia memicu perang terbuka dengan UEFA. Presiden FIFA Gianni Infantino memberi 211 federasi anggota waktu 53 hari hingga 19 September 2026 untuk mendukung proposal tersebut.
Inggris menjadi salah satu negara yang harus menentukan sikap. Federasi anggota dijanjikan akses pendanaan hingga 40 juta dolar AS atau sekitar Rp723,24 miliar jika proposal FIFA Forward Enterprise disetujui.
FIFA menawarkan paket pengembangan sepak bola bernilai lebih dari 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp180,81 triliun. Namun, paket itu akan turun menjadi 2,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp48,82 triliun jika mayoritas anggota menolak proposal tersebut.
Skema itu langsung mengundang kecurigaan karena batas waktu dukungan disertai ancaman pencabutan pembayaran tambahan. UEFA menilai keputusan FIFA memasang tenggat sekaligus menawarkan dana besar telah memperlihatkan masalah mendasar dalam proposal tersebut.
Infantino menyampaikan proposal tersebut melalui surat kepada seluruh federasi anggota FIFA. Dia menyebut pembentukan perusahaan baru dapat membuka sumber pendanaan yang belum pernah tersedia sebelumnya.
“Menjadi tugas dan tanggung jawab saya sebagai Presiden FIFA untuk menyampaikan peluang yang mengubah permainan seperti ini kepada Anda, para anggota kami,” tulis Infantino dalam surat tersebut, dikutip dari metro.co.uk.
“Jika Anda ingin melanjutkan, paket 10 miliar dolar AS ini akan tersedia mulai 1 Januari 2027, membuka fase berikutnya dari perjalanan kita bersama.”
Infantino juga memaparkan konsekuensi jika proposal ditolak. FIFA tetap menjalankan perluasan program Forward, tetapi nilainya jauh lebih rendah dibandingkan paket yang ditawarkan melalui perusahaan baru.
“Jika Anda ingin mempertahankan kondisi saat ini dan menolak proposal ini, kami masih memiliki rencana perluasan program Forward senilai 2,7 miliar dolar AS seperti yang sebelumnya disampaikan.”
“Secara total, untuk siklus mendatang yang dimulai 1 Januari 2027, setiap asosiasi anggota memiliki kemungkinan mengakses hingga 40 juta dolar AS per asosiasi anggota melalui proposal ini.”
FIFA Forward Enterprise atau FFE akan menggabungkan kegiatan komersial dan operasional turnamen FIFA. Perusahaan itu menangani hak siar, sponsor, tiket, lisensi, serta penyelenggaraan kompetisi seperti Piala Dunia putra, Piala Dunia putri, dan Piala Dunia Antarklub.
FIFA berencana menghimpun investasi swasta hingga 4,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp75,94 triliun. FFE memiliki valuasi awal 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp361,62 triliun, sedangkan investor swasta akan memperoleh saham minoritas tanpa hak pengendalian.
FIFA menegaskan tetap memegang kendali penuh atas tata kelola sepak bola, kalender pertandingan, regulasi, format kompetisi, serta keputusan olahraga. Seluruh keuntungan bersih dari FFE juga dijanjikan kembali ke program pengembangan sepak bola dunia.
Penjelasan FIFA tidak meredakan penolakan. UEFA menyebut rencana tersebut telah melewati batas yang tidak boleh dilanggar lembaga pengelola sepak bola.
“Ini melewati batas yang seharusnya tidak pernah dilanggar lembaga pengelola sepak bola,” tulis UEFA dalam pernyataan resminya.
“UEFA memandang masalah ini dengan sangat serius. Setiap asosiasi sepak bola nasional juga harus bersikap sama. Begitu pula seluruh pemangku kepentingan, mulai dari liga, klub, pemain, pendukung, pemerintah, hingga semua pihak yang peduli terhadap masa depan permainan ini.”
UEFA juga mempertanyakan transparansi serta pihak yang berpotensi mendapatkan keuntungan finansial dari pembentukan perusahaan baru tersebut.
“Jiwa dan tata kelola sepak bola bukan aset untuk diperdagangkan, terlebih tanpa transparansi mengenai siapa yang mendapatkan keuntungan finansial.”
“Tidak seorang pun dari kita memiliki sepak bola. Sepak bola bukan milik FIFA untuk dijual.”
UEFA berencana menggelar rapat darurat bersama 55 federasi anggotanya untuk menyusun respons. Federasi Sepak Bola Inggris juga menyampaikan kekhawatiran mengenai minimnya konsultasi, tata kelola, serta informasi terperinci sebelum proposal diumumkan.
Rencana tersebut mendapat dukungan investasi dari Thrive Eternal yang dijalankan Joshua Kushner, pendiri Thrive Capital. Joshua merupakan saudara Jared Kushner, menantu Donald Trump, sehingga hubungan politik di sekitar proyek tersebut turut menjadi sorotan.
Para penentang khawatir investor swasta nantinya menuntut pengaruh terhadap arah bisnis Piala Dunia. Tekanan untuk memperluas turnamen, menambah pertandingan, menaikkan harga, atau menggelar kompetisi lebih sering dinilai dapat muncul meski investor hanya memiliki saham minoritas.
Nasib proposal kini bergantung pada dukungan mayoritas dari 211 anggota FIFA dan persetujuan Dewan FIFA. Tenggat 19 September membuat setiap federasi hanya memiliki waktu terbatas untuk menentukan pilihan antara menerima lonjakan pendanaan atau menolak masuknya modal swasta ke bisnis kompetisi terbesar sepak bola dunia.
Editor: Abdul Haris