Fokus Hanya kepada Messi Bisa Jadi Petaka
MAYORITAS penikmat sepak bola pasti sepakat bahwa Lionel Messi adalah salah satu pemain terhebat sepanjang sejarah. Bahkan sebagian orang ada yang menyebut kalau megabintang Barcelona itu berasal dari planet lain.
Pujian itu rasanya tak berlebihan mengingat rentetan trofi yang dihadirkannya ke etalase Barcelona. Total, 32 piala mampu diraih pemain kelahiran Rosario itu sejak menembus tim utama pada 2005.
Sayang, tuah Messi di klub tak terjadi di tim nasional Argentina. Padahal, di level junior kharismanya begitu menjanjikan. Dia membantu negaranya menjadi juara Piala Dunia U-20 2005 di Tunisia bersama Lucas Biglia, dan Sergio Aguero, dua rekannya yang tergabung bersamanya dalam tim Tango di Piala Dunia 2018.
Messi juga membawa membawa Argentina meraih medali emas Olimpiade Beijing 2008, juga bersama Aguero, plus Ever Banega, Angel Di Maria, dan Javier Mascherano.
Di level senior, Messi hanya menyentuh level "nyaris juara" pada Copa America 2015, dan 2016, serta Piala Dunia 2014 saat tim Tango selalu kalah di final.
Sebenarnya, kutukan apa yang menyertai pemain yang baru berulang tahun ke-31 pada Minggu (24/6/2018) itu?

Bukan masalah teknik yang mengganggu Messi pastinya, melainkan psikologis. Setelah tiga kali gagal juara setelah sudah mencapai final tentu memukul mentalnya. Bahkan, jangan lupa pria bertinggi 170 cm itu pernah memutuskan mundur dari timnas sebelum akhirnya bisa dibujuk untuk kembali main.
Selain itu, ekspektasi yang berlebihan dari publik Argentina yang mengharapkannya bisa seperti Diego Armando Maradona kala membawa tim Tango juara Piala Dunia 1986, membuatnya semakin tergopoh-gopoh memanggul beban itu.
Ironisnya lagi, kebanyakan pelatih timnas Argentina pun terlalu bertumpu kepadanya.Tak percaya? Yang terkini lihat saja bagaimana Jorge Sampaoli, nakhoda Argentina di Piala Dunia 2018, memperlakukan sang kapten itu. Mantan pelatih Sevilla itu menentukan strategi demi melayani pemain berjuluk La Pulga itu.
Gilanya lagi, Sampaoli sampai memohon para pemainya yang lain memberi pelayanan maksimal kepada Messi.
“Seringkali sulit untuk berada di level pemain hebat seperti itu. Leo bersinar bagi kami semua, dan kami harus melakukan yang terbaik untuk mencoba berada di levelnya,” begitu kata pelatih berkepala plontos itu jelang Argentina menghadapi Prancis pada 16 besar Piala Dunia 2018, Sabtu (30/6/2018).
Terlalu fokus kepada Messi inilah penyakit sebenarnya yang menggerogoti performa Argentina di Rusia. Potensi besar dalam tim ini menjadi redup tak keluar sinarnya. Padahal, di sana bertabur bintang lainya, bukan hanya Messi. Alhasil, permainan Argentina mudah dibaca lawan. Matikan saja pergerakan Messi, maka selesailah tugas mereka.
Sampaoli mungkin perlu belajar dari Arsitek Portugal Fernando Santos memainkan peran Cristiano Ronaldo dalam armadanya. Memang, tak terbantahkan kalau pemain terbaik dunia itu sangat memengaruhi performa tim, namun Santos juga mengantongi rencana B bermain tanpa striker Real Madrid itu.
Kalau Santos tak mempersiapkan situasi tanpa Ronaldo, mungkin Portugal tak akan pernah juara Piala Eropa 2016 lalu. Kala itu, di awal babak pertama, CR7 terpaksa ditarik keluar karena cedera. Tanpa sang bintang yang hanya berteriak dari pinggir lapangan, Seleccao das Quinas mampu menang 1-0 kontra tuan rumah Prancis.
Atau, Sampaoli bisa berguru kepada Ernesto Valverde, pelatih Barcelona saat ini. Di saat Xavi Hernandez hengkang dari Barcelona, kemudian Andres Iniesta musim lalu banyak menepi karena diistirahatkan atau cedera, terbukti Messi tetap bisa memainkan fungsinya dengan baik, setidaknya membawa klub Katalan itu meraih dua titel La Liga dan Copa del Rey. Total, 45 gol dilesakkan La Pulga dari 54 pertandingan musim lalu.
Valverde menempatkan Messi sebagai striker berduet dengan Luis Suarez. Sang bos membagi beban sang bintang dengan pemain lainnya untuk membangun serangan dari tengah.
Sampaoli pun mulai melakukan itu. Pada laga ketiga Piala Dunia 2018 kontra Nigeria, Messi bermain sebagai striker berkolaborasi dengan Gonzalo Higuain. Hasilnya, Messi bisa cetak gol perdananya di Rusia, sekaligus membawa tim Tango menang 2-1 meski dengan susah payah berkat gol Marcos Rojo di menit ke-86.
Melihat ini, Pelatih Prancis Didier Deschamps juga pasang kuda-kuda untuk mengawal pergerakan Messi saat jumpa timnya. Namun, mantan pelatih Juventus itu juga harus menghindari terlalu fokus kepada La Pulga. Sebab, jika itu dilakukannya bisa berakibat petaka saat ada pemain Argentina lain yang mengambil peran Messi sebagai penentu.
Jadi, di sinilah peran penting seorang pelatih. Dia harus mampu memaksimalkan performa bintang andalannya, namun tanpa melupakan potensi pemain-pemain lainnya.
Bagaimana Sampaoli, mampu membantu Messi hapus kutukan di timnas?
Editor: Abdul Haris