Lazio Hancurkan Juventus di Turin, Gattuso Kirim Peringatan Keras
TURIN, iNews.id - Lazio mencatat kemenangan bersejarah setelah menghancurkan Juventus 3-0 di Turin, Senin (19/10/2026) dini hari WIB. Pelatih Gennaro Gattuso menyebut hasil tersebut sebagai bukti perkembangan timnya, tetapi mengingatkan para pemain agar tidak terlena meski kini bersaing di puncak klasemen Liga Italia bersama Inter Milan.
Kemenangan ini terasa istimewa karena Lazio terakhir kali meraih kemenangan 3-0 di kandang Juventus pada Oktober 2017. Kali ini, Oliver Provstgaard, Gustav Isaksen, dan Fisayo Dele-Bashiru menjadi penentu kemenangan tim tamu.
Provstgaard membuka keunggulan melalui sundulan, sebelum Isaksen menambah gol untuk Lazio. Dele-Bashiru kemudian memastikan kemenangan lewat aksi membawa bola dari wilayah pertahanannya sendiri hingga mencetak gol pada menit-menit akhir.
Hasil tersebut membawa Lazio mencatat awal musim terbaik sepanjang sejarah klub. Catatan itu bahkan melampaui pencapaian mereka pada musim 1999/2000 ketika berhasil menjuarai Serie A.
Gattuso mengakui kemenangan di Turin memiliki arti tersendiri dalam perjalanan karier kepelatihannya. Dia juga memberikan penghargaan kepada para pemain dan staf yang menjalankan strategi tim di lapangan.
“Ini pertama kalinya saya menang di sini sejak memulai profesi ini. Staf saya dan saya mengajukan ide, tetapi para pemainlah yang menerapkannya, jadi mereka pantas mendapatkan pujian,” ujar Gattuso kepada DAZN Italia.
Dia menjelaskan, kerja keras dalam latihan ikut membentuk kekompakan skuad Lazio. Menurut Gattuso, suasana kekeluargaan menjadi salah satu faktor penting di balik peningkatan performa tim.
“Kami berlatih keras, tetapi kami telah menciptakan sebuah keluarga yang sesungguhnya di sini. Klub juga layak mendapat pujian karena kami memiliki sedikit uang untuk bursa transfer, tetapi kami berusaha mencari orang-orang baik yang punya tekad dan benar-benar ingin datang ke sini. Prosesnya membutuhkan waktu, kami tidak punya banyak uang, tetapi saya mudah melatih mereka,” katanya.
Lazio kini mengoleksi enam kemenangan di Serie A dan juga pernah bermain imbang dramatis 2-2 melawan AC Milan. Pencapaian tersebut diraih di tengah masalah cedera yang membuat Albert Gudmundsson, Matteo Cancellieri, Nicolò Rovella, Alessio Furlanetto, dan Adam Marusic tidak bisa tampil.
Meski berada di papan atas, Gattuso meminta skuadnya tidak terlalu memikirkan posisi klasemen. Dia ingin para pemain menikmati kemenangan atas Juventus, kemudian segera mengalihkan perhatian ke pertandingan berikutnya melawan Parma.
“Kami tidak boleh melihat klasemen sekarang. Kami akan menikmati kemenangan luar biasa ini, tetapi setelah itu, kami harus kembali bekerja keras untuk menghadapi Parma. Kami tidak terbiasa berada di posisi atas, dan mungkin kami juga belum siap untuk itu, tetapi jika menjalani pertandingan satu per satu, kami bisa mengejutkan banyak orang.”
Gattuso juga menilai mentalitas dan rasa lapar akan kemenangan menjadi pembeda dalam pertandingan melawan Juventus. Dia melihat timnya menunjukkan kemajuan dalam mengendalikan jalannya pertandingan, terutama setelah sebelumnya dinilai belum konsisten ketika menghadapi Milan dan Venezia.
Menurut Gattuso, Lazio memperlihatkan peningkatan dalam menjaga keunggulan dan mengontrol permainan. Dia mengakui timnya sebelumnya kerap tampil dominan, tetapi kehilangan kendali ketika menghadapi tekanan lawan.
“Ini sebabnya saya merasa ada perkembangan, karena kami cenderung tampil habis-habisan atau tidak sama sekali. Kami belum memiliki kedewasaan untuk mengendalikan keunggulan. Itulah mengapa kami harus selalu bermain dengan intensitas tinggi, karena hal itulah yang membawa kami meraih kesuksesan ini,” tutur Gattuso.
Dari sisi taktik, Lazio berhasil menyulitkan Juventus dengan memanfaatkan kelebihan jumlah pemain di area sayap. Pergerakan pertahanan mereka juga berjalan efektif hingga membuat Juventus terjebak posisi offside sebanyak enam kali.
Gattuso tetap menilai ada sejumlah aspek yang perlu diperbaiki. Dia menyoroti pergerakan Romano ketika menghadapi Alajbegovic serta Belahyane yang dinilai belum mampu menciptakan lebar serangan sesuai harapan melalui bantuan para bek sayap.
Pelatih Lazio itu juga menjelaskan pendekatannya dalam membangun hubungan dengan para pemain. Pengalaman selama menjadi pesepak bola membuat dia menyadari pentingnya mengendalikan emosi dan memahami karakter setiap individu di dalam tim.
“Saya pernah mengatakan tidak ingin menjadi pelatih lagi karena saya pernah menjadi pemain, jadi setiap kali melihat sikap tertentu, saya pulang dengan perasaan tidak nyaman. Saya berusaha memperbaiki diri. Ada dua atau tiga hal yang tidak bisa saya toleransi, tetapi untuk hal lainnya, saya mendengarkan para pemain dan tidak semarah dulu kepada mereka. Dengan ponsel dan perangkat elektronik, itulah dunia yang mereka jalani sekarang dan saya harus menerimanya.”
Gattuso menegaskan para pemain tetap harus mematuhi sejumlah prinsip yang dia tetapkan. Dia juga berusaha memahami perbedaan karakter dan mentalitas pemain berdasarkan pengalaman bekerja di luar negeri.
“Para pemain sekarang lebih berkembang dibandingkan zaman saya, tetapi perbedaannya adalah mereka cenderung menyerah saat menghadapi kesulitan pertama. Jadi, tugasnya adalah tidak membiarkan mereka menyerah, serta mengingatkan pentingnya berlatih dengan cara yang benar dan memulihkan kondisi dengan baik,” tambahnya.
Kemenangan di Turin juga menjadi momen langka bagi pendukung Lazio untuk merayakan hasil positif bersama tim. Suporter Biancocelesti telah memboikot pertandingan kandang selama berbulan-bulan sebagai bentuk protes terhadap Presiden klub Claudio Lotito. Namun, banyak pendukung mereka hadir di Turin dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk merayakan kemenangan besar atas Juventus.
Editor: Reynaldi Hermawan