Legenda MU Usir Bruno Fernandes dari Old Trafford, Diminta Pindah ke Arab Saudi
MANCHESTER, iNews.id - Paul Scholes mendesak Bruno Fernandes meninggalkan sepak bola Eropa dan melanjutkan karier di Arab Saudi setelah kapten Manchester United itu melontarkan komentar yang dinilai merendahkan Michael Carrick dan staf pelatih. Kritik tajam tersebut muncul setelah MU kalah telak 1-4 dari Como di Liga Champions.
Fernandes menjadi sorotan setelah mempertanyakan pendekatan taktik Manchester United dalam pertandingan yang berlangsung Rabu pekan lalu. Gelandang asal Portugal itu menilai keputusan tim untuk tidak menerapkan penjagaan satu lawan satu membuat Como lebih leluasa mengembangkan permainan dan meningkatkan kepercayaan diri.
Saat ditanya apakah Carrick melakukan kesalahan dalam menyusun strategi, pemain berusia 32 tahun itu menjawab, "Itu menjadi urusan manajer dan staf pelatih untuk menilainya, bukan saya."
Jawaban tersebut memicu reaksi keras Scholes. Legenda Manchester United itu menganggap pernyataan Fernandes tidak bisa diterima, terutama karena dia dipercaya mengenakan ban kapten dan seharusnya menjadi salah satu pemimpin di ruang ganti.
"Apa yang dikatakan Bruno Fernandes pekan lalu, menurut saya, tidak bisa dimaafkan," kata Scholes dalam siniar The Good, The Bad & The Football.
Dia kemudian mempertanyakan apakah Fernandes masih layak dipercaya memimpin tim mana pun yang akan dibelanya pada masa mendatang.
"Bagaimana Bruno Fernandes bisa dipercaya menjadi kapten tim mana pun yang akan dia bela nanti?"
Scholes bahkan menyarankan Fernandes keluar dari sepak bola Eropa dan memilih kompetisi di Arab Saudi. Menurut dia, komentar sang kapten dapat merusak kepercayaan yang seharusnya terbangun antara pemain, manajer, dan staf pelatih.
"Menurut saya, dia mungkin perlu meninggalkan sepak bola Eropa dan pergi saja ke Arab Saudi. Menjauh saja dari sini," ujar Scholes.
"Saya rasa tidak ada manajer atau anggota staf yang bisa memercayainya setelah itu."
Kritik terhadap Fernandes terasa kontras dengan kontribusinya sejak bergabung dengan Manchester United dari Sporting Lisbon pada 2020. Dia selama ini menjadi salah satu pemain penting klub, tetapi performanya pada musim ini dinilai belum menyamai pencapaian sebelumnya.
Pada musim lalu, Fernandes mencatatkan 21 assist dan memecahkan rekor assist dalam satu musim Liga Inggris. Namun, pada musim ini dia baru menghasilkan satu assist, yang dibuat saat menghadapi Ipswich.
Catatan golnya juga belum merata. Dari empat gol yang sudah dicetak pada musim ini, tiga tercipta ketika melawan Ipswich, sementara satu gol lainnya dibuat saat menghadapi Sabah di Liga Champions.
Nicky Butt, rekan Scholes dalam siniar tersebut, turut mengkritik pernyataan Fernandes. Dia menilai komentar sang kapten berpotensi merusak reputasi yang selama ini dibangun melalui kontribusi dan kesediaannya memikul tanggung jawab di Manchester United.
Butt sebelumnya memuji Fernandes sebagai pemain yang berani memimpin, mencetak gol, menciptakan peluang, dan tetap bertahan ketika klub menghadapi masa sulit. Namun, menurut dia, satu wawancara justru bisa menghapus kesan positif tersebut.
"Kami selalu memuji kemampuannya. Selama 12 atau 13 tahun terakhir, dia satu-satunya pemain yang mengatakan, 'Saya tahu apa artinya bermain untuk klub ini, saya cukup bagus untuk bermain sepak bola, dan saya akan memikul tanggung jawab di pundak saya serta memimpin tim ini.
'Saya akan mencetak gol. Saya akan menciptakan peluang. Saya tidak akan pergi. Saya akan bertahan. Saya akan terus berjuang.' Lalu, dia menghancurkan dirinya sendiri hanya lewat satu wawancara. Bodoh," kata Butt.
Scholes sebelumnya juga pernah menegur Fernandes setelah kapten MU itu mengkritik penampilan tim dalam kekalahan dari Hull City pada pertandingan pertama musim ini. Saat itu, Scholes meminta Fernandes untuk tidak banyak berbicara setelah timnya takluk 0-2 di Stadion MKM.
Dalam wawancara seusai pertandingan tersebut, Fernandes menilai Manchester United masih mengulangi kesalahan yang sama seperti musim lalu ketika bermain tandang. Dia menyoroti penguasaan bola lawan yang terlalu besar dan kurangnya tekanan dari para pemain MU.
"Setiap pertandingan tandang, kami terlalu banyak memberikan penguasaan bola kepada lawan. Dalam 20 menit pertama, penjaga gawang menjadi pemain dengan sentuhan bola terbanyak," ujar Fernandes.
"Kami perlu melakukan tekanan lebih besar dan bermain lebih agresif. Selain itu, kami harus kembali berlatih menghadapi bola mati dan tidak kebobolan gol seperti ini. Menghadapi tim-tim seperti ini, mereka hanya menunggu momen tersebut."
Scholes menilai Fernandes semestinya mengevaluasi penampilan pribadinya sebelum mengkritik tim. Dia juga mempertanyakan kesalahan yang dimaksud sang kapten, terutama karena Fernandes sendiri dinilai tidak tampil maksimal dalam pertandingan tersebut.
"Saya ingin tahu apa yang dia maksud dengan kesalahan-kesalahan itu," kata Scholes.
"Kesalahan apa yang mereka lakukan? Terlebih lagi, jika melihat penampilanmu sendiri, menurut saya mungkin lebih baik kamu diam saja. Dia juga tidak menampilkan permainan terbaiknya."
Selain Fernandes, Scholes juga menyoroti komentar Luke Shaw. Bek Manchester United itu mengatakan timnya seharusnya bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik, terutama karena sudah mengetahui kekuatan lawan dalam situasi bola mati dan potensi ancaman yang bisa muncul.
Scholes menilai pernyataan Shaw dapat dianggap sebagai sindiran terhadap Carrick dan staf pelatih. Dia mengingatkan para pemain untuk tidak menyampaikan komentar yang terkesan meragukan kualitas persiapan tim.
"Luke Shaw selalu mengatakan sesuatu. Itu merupakan sindiran terhadap staf pelatih dan manajer. Jika salah satu pemainmu mengatakan hal seperti itu, kamu pasti akan berpikir, 'Astaga.' Kamu akan memanggil mereka pada Senin pagi," ujar Scholes.
"Komentar seperti itu bukan hanya soal rasa hormat. Namun, ketika membicarakan rasa takut terhadap manajer dan hal-hal yang mereka katakan, itu merupakan sindiran terhadap manajer dan staf pelatih. Jika kami melakukan hal seperti itu terhadap Sir Alex Ferguson dengan mengatakan, 'Kami tidak dipersiapkan dengan baik,' astaga, kamu pasti langsung dipanggil dan dia mungkin akan menyebut namamu di depan seluruh tim."
Di tengah polemik tersebut, Manchester United memastikan Carrick masih mendapat kesempatan untuk membalikkan keadaan. Keputusan itu diambil saat klub sedang mengalami periode sulit dan belum mampu menunjukkan konsistensi hasil di Liga Inggris.
MU kini menempati posisi ke-16 klasemen sementara, hanya unggul satu poin dari zona degradasi. Situasi tersebut membuat tekanan terhadap Carrick semakin besar, sementara pernyataan Fernandes ikut memunculkan pertanyaan mengenai hubungan pemain dengan staf pelatih.
Manchester United selanjutnya akan bertandang ke Stamford Bridge pada Sabtu. Carrick berharap anak asuhnya mampu meraih kemenangan pertama sejak mengalahkan Ipswich pada akhir Agustus.
Bagi Fernandes, persoalan yang dihadapi bukan hanya penurunan performa di lapangan. Kritik dari Scholes dan Butt juga menempatkan kepemimpinannya sebagai kapten dalam sorotan, ketika Manchester United berusaha keluar dari krisis hasil dan memperbaiki posisi di klasemen Liga Inggris.
Editor: Reynaldi Hermawan