Liga Indonesia Dibekukan, Pemain Banting Setir, Mulai Jualan Kue hingga Jadi Satpam
JAKARTA, iNews.id – Pandemi Covid-19 benar-benar memukul para pelaku sepak bola di Indonesia. Bagaimana tidak, pembekuan kompetisi yang tak jelas ujung pangkalnya, hingga pemotongan gaji besar-besaran membuat praktisi olahraga sepak-menyepak ini mendadak jadi pengangguran.
Mau tak mau, untuk menyambung hidup, mereka harus menekuni profesi lain, mulai dari penjual makanan atau minuman, petugas keamanan, dan lain sebagainya.
Sejak Maret lalu, PSSI memutuskan untuk menghentikan Liga Indonesia, bukan hanya Liga 1, strata di bawahnya juga ikut vakum. Berulang kali ada usaha federasi untuk kembali melanjutkan kompetisi, namun selalu gagal karena tak dapat izin kepolisian.
Liga diperkirakan baru bisa mulai awal tahun depan. Padahal, banyak liga di seluruh dunia sudah memutar kembali roda kompetisi, tentu dengan protokol kesehatan yang sangat ketat.
Shin Tae-yong Ingin Liga 1 dan Liga 2 Dilanjutkan
Sontak, kondisi ini membuat sempoyongan para pelaku olahraga ini, baik itu pemain, pelatih, ofisial, wasit dan lainnya. Terlebih, PSSI menghalalkan klub melakukan pemotongan gaji hingga 75 persen.
Tengok saja Bagus Nirwanto misalnya. Kapten PSS Sleman itu biasa bermain di depan ribuan fans. Tapi, setelah gajinya dipotong dua, dia beralih menjadi penjual beras curah, dan gula bersama sang istri tercinta.
Liga 1 Gagal Dilanjutkan 1 November, PSSI Siapkan 3 Opsi Kompetisi
Di sisi lain, dia seperti para pemain lainnya juga berjuang untuk tetap menjaga kebugarannya, dan berusaha tetap menjaga psikologisnya karena lama tak merumput.
“Saya sangat kecewa karena kompetisi ditunda," kata pemain 27 tahun itu, dikutip AFP.
Polri Tak Kasih Izin Liga 1 2020 Bergulir November, Ini Alasannya
“Kami sangat bersemangat dan berlatih keras untuk pertandingan pertama kami. Kami seharusnya diizinkan untuk mengadakan pertandingan tanpa penonton,” ucap pria yang menetap di Yogyakarta itu.
PT LIB Coba Yakinkan Pemerintah agar Liga 1 2020 Dilanjutkan 1 November
Pelatih Barito Putera Djadjang Nurdjaman juga buka-bukaan soal apa arti pembekuan kompetisi itu bagi dirinya dan para pemainnya.
“Semuanya berantakan dan semua yang kami rencanakan hancur. Tidak ada kepastian. Kami tidak tahu apa yang akan dilakukan,” katanya.
“Ini berdampak serius pada pemain. Ini tidak masuk akal,” tutur pelatih yang pernah membawa Persib Bandung juara Liga Indonesia pada 2014 itu.
Situasi sulit ini memaksa beberapa pemain berjualan kue buatan sendiri dan minuman es kelapa kepada orang yang lewat di jalanan. Ada juga yang jualan sate ayam, bahkan sampai yang harus rela menjadi Petugas Satuan Pengamanan (Satpam) di sebuah bank.
Pemain Borneo FC Andri Muliadi terpaksa membawa keluarganya pulang ke Sumatera karena taka da yang bisa dikerjakan di Samarinda. Di kampung halaman, dia membantu mempromosikan bisnis kopi kecil mertuanya secara online.
"Kami semua panik saat pandemi melanda," kata pemain berusia 27 tahun itu.
“Saya tidak punya pilihan selain mencari cara alternatif untuk menghasilkan uang untuk menghidupi keluarga saya selama masa sulit ini. Pemain harus menemukan cara lain untuk menghasilkan uang.
Kapten Persib Bandung Supardi Nasir pun mengakui betapa sulitnya kondisi di masa pandemi ini.
“Saya benar-benar memutar otak untuk mencari cara bagaimana menghidupi keempat anak saya,” kata bek sayap 37 tahun itu.
“Bermain sepak bola adalah satu-satunya mata pencaharian saya,” dia menegaskan.
Kondisi serbasulit ini disadari betul oleh Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan.
“Kami tidak dapat menyangkal bahwa ada efek domino. Kompetisi yang dibekukan ini memengaruhi pendapatan klub, yang pada gilirannya memengaruhi pemain (gaji). Tapi kami tidak bisa memaksa klub untuk memberikan gaji penuh kepada pemain seperti dalam situasi normal,” katanya.
Editor: Abdul Haris