Ogah Terjebak Nostalgia, Olivier Giroud Siap Hancurkan Arsenal jelang Pensiun
LONDON, iNews.id - Olivier Giroud kembali menghadapi Arsenal saat Lille bertandang ke Emirates Stadium Rabu (14/10/2026) dini hari WIB. Penyerang veteran berusia 40 tahun itu berpeluang mengingatkan mantan klubnya tentang ketajamannya, terutama ketika Arsenal masih mencari formula terbaik di lini depan.
Giroud menjalani musim terakhirnya sebagai pesepak bola profesional sebelum pensiun pada musim panas mendatang. Meski usianya sudah memasuki kepala empat, striker asal Prancis tersebut masih mampu memberikan kontribusi untuk Lille dan tidak bisa dianggap sebagai ancaman yang sudah habis.
Arsenal pernah mengandalkan Giroud selama enam musim. Dia mencetak lebih dari 100 gol untuk klub asal London Utara tersebut dan membantu The Gunners meraih tiga trofi Piala FA. Dia juga mencetak gol atau memberikan assist dalam setiap final Piala FA yang dimenangi Arsenal pada periode itu.
Kontribusi Giroud tidak selalu membuat seluruh pendukung Arsenal puas. Namun, statistik menunjukkan perannya cukup penting. Arsenal mencatat tingkat kemenangan 82 persen dalam pertandingan ketika Giroud mencetak gol atau memberikan assist selama membela klub tersebut.
Giroud meninggalkan Arsenal pada 2018 ketika berusia 31 tahun. Setelah itu, dia melanjutkan karier bersama Chelsea dan AC Milan, sebelum sempat bermain di Major League Soccer (MLS). Perjalanan tersebut menunjukkan dia tetap mampu bersaing di level tinggi setelah berpisah dengan klub yang membesarkan namanya di Inggris.
Kini, Giroud membela Lille di Prancis. Pada musim sebelumnya, dia mencetak 11 gol. Sementara itu, dalam enam pertandingan pertama Ligue 1 musim ini, dia sudah membukukan satu gol dan dua assist. Kedua assist tersebut tercipta ketika Lille menghadapi juara bertahan Paris Saint-Germain (PSG).
Catatan bersama tim nasional Prancis juga mempertegas kualitas Giroud. Dia telah mengoleksi 137 penampilan bersama Les Bleus dan mencetak 57 gol. Torehan tersebut menempatkannya sebagai pencetak gol terbanyak kedua sepanjang sejarah timnas Prancis, di bawah Kylian Mbappe.
Arsenal pun punya alasan untuk tidak meremehkan mantan penyerangnya itu. Giroud pernah menjadi bagian penting dari era Arsene Wenger dan Unai Emery, terutama berkat kemampuan fisik, permainan udara, serta kontribusinya dalam membangun serangan.
Dia juga pernah menyakiti Arsenal dalam pertandingan besar. Pada final Liga Europa 2019, Giroud mencetak gol pembuka saat Chelsea menang 4-1 atas mantan klubnya. Selepas pertandingan, sebuah video viral memperlihatkan dia meneriakkan “terima kasih, Arsenal” saat memegang trofi di dalam bus tim Chelsea.
Pertemuan kali ini menghadirkan kesempatan bagi Giroud untuk kembali menunjukkan kemampuannya di Emirates. Namun, apakah dia mampu mencetak gol ke gawang mantan klubnya masih harus dibuktikan di lapangan.
Di sisi lain, Arsenal masih menghadapi persoalan dalam menentukan ujung tombak. Viktor Gyokeres direkrut dengan nilai transfer 64 juta poundsterling pada musim panas sebelumnya, tetapi belum mendapatkan banyak kesempatan bermain sejak awal musim.
Dari enam pertandingan pertama Arsenal, Gyokeres belum pernah menjadi starter dan hanya tampil tiga kali sebagai pemain pengganti. Situasi tersebut kontras dengan penampilannya bersama tim nasional Swedia, ketika dia mencetak empat gol secara beruntun selama jeda internasional.
Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, masih memilih Kai Havertz sebagai penyerang tengah meski pemain asal Jerman itu bukan penyerang nomor sembilan alami.
Havertz mengawali musim dengan mencetak gol di Community Shield, lalu menambah dua gol di tiga pertandingan awal Liga Inggris. Namun, setelah periode tersebut, produktivitas golnya menurun dan Bukayo Saka menjadi pencetak gol terbanyak Arsenal untuk sementara.
Kondisi Gyokeres juga menjadi sorotan karena dia merupakan pencetak gol terbanyak Arsenal pada musim sebelumnya dengan 21 gol. Meski belum memperoleh banyak kesempatan di klub barunya, penyerang Swedia itu tetap memiliki rekam jejak sebagai pencetak gol yang produktif.
Giroud sendiri pernah mengalami masa ketika kemampuannya diragukan. Mantan pelatihnya di Grenoble, Mehmed Bazdarevic, bahkan pernah menilai dia belum memiliki kualitas untuk bermain di Ligue 2. Namun, Giroud kemudian membangun karier panjang di level tertinggi, termasuk menjadi salah satu pencetak gol terpenting dalam sejarah timnas Prancis.
Kembalinya Giroud ke Emirates pada musim terakhirnya sebagai pemain profesional menjadi salah satu cerita menarik menjelang laga Lille kontra Arsenal. Dengan pengalaman, kekuatan fisik, dan rekam jejak golnya, striker veteran tersebut tetap memiliki potensi merepotkan pertahanan The Gunners.
Editor: Reynaldi Hermawan