Sadio Mane Kembali Menghantui Mo Salah, Senegal Usir Mesir dan Tantang Maroko di Final Piala Afrika 2025
TANGIER, iNews.id – Sadio Mane kembali menjadi mimpi buruk Mohamed Salah setelah golnya mengantar Senegal menang 1-0 atas Mesir di semifinal Piala Afrika 2025 atau AFCON, Kamis (15/1/2026) dini hari WIB. Hasil ini membuat Senegal melaju ke partai puncak dan berhadapan dengan tuan rumah, Maroko.
Duel panas ini menambah panjang daftar pertemuan besar antara dua bintang Liverpool tersebut. Jika pada final AFCON 2021 dan playoff Piala Dunia 2022 Mané selalu keluar sebagai pemenang lewat adu penalti, kali ini dia memastikan kemenangan Senegal tanpa perlu drama tos-tosan.
Gol penentu tercipta 12 menit jelang waktu normal berakhir. Mané memanfaatkan kemelut di depan kotak penalti Mesir, mengontrol bola dengan dada, lalu melepas tembakan keras dari luar kotak yang tak mampu dibendung kiper Mohamed El Shenawy.
Gol tersebut sempat memicu protes pemain Mesir yang mengklaim handball dan offside. Namun wasit mengesahkan gol karena bola mengenai dada Mané dan posisi Senegal tetap onside menghadapi garis pertahanan Mesir yang sangat dalam.
Kemenangan ini membawa Senegal ke final AFCON menghadapi tuan rumah Maroko pada Minggu mendatang. Bagi Mané, ini menjadi bukti lain dominasinya dalam laga-laga penentuan melawan Salah di level internasional.
Semifinal ini jauh dari kata indah. Sepanjang pertandingan, laga diwarnai pelanggaran, tarik-menarik, buang waktu, pura-pura cedera, hingga protes berlebihan kepada wasit. Alur permainan terputus-putus dan minim kreativitas, membuat kualitas laga jatuh meski tensi tetap tinggi.
Senegal mendominasi penguasaan bola dengan hampir dua pertiga permainan. Namun dominasi itu tidak mudah diterjemahkan menjadi peluang bersih karena Mesir memilih bertahan total dengan tiga bek tengah, dua gelandang bertahan, dan hampir tanpa ambisi menyerang.
Kesabaran Senegal akhirnya terbayar.
“Kami sabar dan kami tahu kesalahan sekecil apa pun akan dihukum,” kata Mane dikutip dari The Guardian.
“Jadi sejak awal kami mencoba kompak, menekan segera setelah kehilangan bola, memberi tekanan besar, dan tidak kehilangan bola dengan mudah," ujarnya.
Mané mengaku tidak terkejut dengan pendekatan Mesir.
“Setiap tim punya cara bermain sendiri. Itu gaya mereka dan membuat lawan kesulitan. Itulah Mesir,” ujar dia.
Mesir sendiri tersingkir tanpa benar-benar memberi ancaman serius. Dengan Salah dan Omar Marmoush di lini depan, tim asuhan Hossam Hassan nyaris tidak pernah keluar dari tekanan. Banyak pihak bertanya-tanya seperti apa hasilnya jika Mesir berani bermain lebih terbuka.
Kekalahan ini berpotensi berbuntut panjang. Hossam Hassan sudah mendapat kritik tajam dari sejumlah figur senior sepak bola Mesir. Dalam konferensi pers yang panas, dia menyebut situasi tidak adil karena Senegal memiliki waktu pemulihan lebih panjang dan tidak perlu berpindah kota seperti Mesir.
Kemenangan Senegal datang dengan harga mahal. Kalidou Koulibaly dan Habib Diarra dipastikan absen di final akibat akumulasi kartu kuning. Koulibaly bahkan ditarik keluar karena cedera di babak pertama, sementara Diarra diganti saat turun minum.
Meski kehilangan dua pemain penting, Senegal tetap melangkah ke final dengan keyakinan tinggi. Sekali lagi, Mané berdiri sebagai simbol perbedaan, sosok penentu, dan tembok terakhir yang terus menggagalkan ambisi besar Mohamed Salah bersama Mesir.
Editor: Reynaldi Hermawan