Terungkap! Calon Pelatih Chelsea Liam Rosenior Ternyata Fans Berat MU dan Sir Alex Ferguson
LONDON, iNews.id - Nama Liam Rosenior mendadak jadi perbincangan hangat setelah disebut-sebut sebagai kandidat kuat pengganti Enzo Maresca di Chelsea. Di balik rekam jejak kepelatihannya yang terus menanjak, ada fakta menarik yang tak banyak diketahui publik: Rosenior merupakan penggemar berat Manchester United sejak kecil.
Meski jalur kariernya terbilang tidak lazim, dari Hull City, berlanjut ke Strasbourg, hingga kini dikaitkan dengan kursi panas Stamford Bridge, Rosenior dikenal sebagai sosok yang selalu berjalan di atas prinsipnya sendiri. Di usia 41 tahun, ia justru dianggap sebagai pilihan berani Chelsea di tengah tuntutan instan dan tekanan besar.
Statusnya sebagai fans Manchester United tak lantas menghalangi ketertarikan Chelsea. Bahkan, idolanya, Sir Alex Ferguson, disebut menjadi figur yang membentuk mentalitas kepemimpinannya.
Meski demikian, dalam urusan filosofi sepak bola, Rosenior lebih banyak terinspirasi oleh Pep Guardiola, sesuatu yang tercermin jelas dalam gaya bermain tim-tim asuhannya.
Tak sedikit yang meragukan kapabilitas Rosenior untuk menangani klub sebesar Chelsea. Ia belum pernah melatih di Premier League, dan namanya masih terasa asing jika disejajarkan dengan pelatih top Eropa. Namun, bagi sebagian pengamat, justru di situlah letak daya tariknya.
Bakat kepelatihan Rosenior sudah terlihat sejak masih aktif sebagai pemain. Ia menuntaskan lisensi UEFA A pada usia 32 tahun dan sempat terlibat dalam upaya menyelamatkan Derby County bersama Wayne Rooney saat klub tersebut dilanda krisis.
Nama Rosenior mulai benar-benar mencuat saat menangani Hull City. Dalam waktu 18 bulan, ia mengubah The Tigers dari tim papan bawah menjadi pesaing serius promosi. Hull tampil dengan sepak bola menyerang yang agresif, berani menekan tinggi, dan disiplin dalam bertahan—gaya yang membuatnya mendapat banyak pujian.
Kecintaannya pada Manchester United era Sir Alex juga terlihat dari pendekatannya terhadap pemain. Rosenior dikenal piawai membangun kedekatan emosional, memahami psikologi ruang ganti, serta tahu kapan harus memberi dukungan dan kapan menyampaikan kritik keras. Para pemain kerap merasa nyaman bekerja di bawah arahannya.
Reputasi Rosenior sebagai pengembang pemain muda juga tak terbantahkan. Di Hull, ia menjadi sosok penting di balik berkembangnya Tyler Morton, Jaden Philogene, dan Liam Delap. Ia juga berhasil menghidupkan kembali karier Fabio Carvalho yang sempat terpinggirkan di Liverpool.
Meski begitu, perjalanan Rosenior bukan tanpa cela. Hull gagal promosi dan performa tim menurun di akhir musim. Pemilik klub bahkan menilai gaya bermainnya terlalu metodis dan terkadang membosankan. Kritik lain menyebut Rosenior kurang fleksibel secara taktik, meski ia menganggapnya sebagai bentuk konsistensi terhadap filosofi bermain.
Langkah berikutnya ke Strasbourg dinilai sebagai keputusan cerdas. Selain memberinya pengalaman melatih di luar Inggris, klub Ligue 1 itu berada dalam satu kepemilikan dengan Chelsea melalui BlueCo. Di sana, Rosenior tetap setia pada prinsip: memberi kepercayaan besar kepada pemain muda dan memainkan sepak bola progresif—sesuatu yang dinilai cocok dengan karakter skuad Chelsea saat ini.
Namun, fakta bahwa Rosenior adalah fans Manchester United tetap menjadi sorotan tersendiri. Melatih Chelsea dengan latar belakang kecintaan pada rival klasik tentu akan menjadi ujian mental yang unik. Tekanan besar, ego pemain, serta tuntutan meraih trofi adalah tantangan yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Sejarah pelatih Inggris di Chelsea juga tak sepenuhnya manis. Kasus Graham Potter menjadi peringatan bahwa reputasi dan ide besar tak selalu berjalan mulus di Stamford Bridge.
Meski demikian, Rosenior dikenal sebagai pribadi yang percaya diri dan tak gentar menghadapi tantangan. Pidato-pidato motivasionalnya di ruang ganti yang beredar di media sosial menunjukkan keyakinan kuat terhadap ide dan kemampuannya sendiri.
Jika benar ditunjuk, satu hal yang akan menentukan sukses atau tidaknya Liam Rosenior di Chelsea adalah trofi. Ia belum pernah merasakan persaingan gelar di level tertinggi. Namun bagi seorang penggemar Manchester United yang tumbuh dengan standar tinggi ala Sir Alex Ferguson, tantangan besar justru bisa menjadi panggung pembuktian.
Editor: Reynaldi Hermawan