Reefer Container Bukan Cold Storage, Apa Bedanya? Ini Penjelasannya!
JAKARTA, iNews.id - Reefer container dan cold storage sama-sama berkaitan dengan penyimpanan produk pada suhu rendah. Namun, keduanya ternyata memiliki fungsi dan peruntukan yang berbeda.
Kekeliruan dalam membedakan dua teknologi tersebut bahkan dinilai dapat memengaruhi efisiensi operasional, terutama bagi pelaku usaha yang membutuhkan sistem rantai dingin untuk menyimpan produk perikanan, makanan, hingga komoditas lainnya.
Reefer container pada dasarnya dirancang sebagai kontainer berpendingin untuk mengangkut muatan selama perjalanan. Sementara cold storage lebih ditujukan untuk menjaga produk tetap berada dalam kondisi suhu tertentu selama penyimpanan.
Perbedaan fungsi tersebut menjadi penting karena kebutuhan pendinginan selama transportasi tidak selalu sama dengan kebutuhan penyimpanan dalam jangka waktu lebih panjang.
Reefer container atau refrigerated container merupakan kontainer yang dilengkapi sistem pendingin. Teknologi ini digunakan untuk menjaga suhu muatan selama proses distribusi dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
Dalam rantai pasok makanan dan hasil perikanan, sistem tersebut memungkinkan produk tetap berada dalam kondisi suhu yang dibutuhkan ketika berpindah dari pelabuhan, gudang, pusat distribusi, hingga lokasi tujuan.
Namun, penggunaan reefer container sebagai fasilitas penyimpanan permanen perlu mempertimbangkan kebutuhan operasional dan konsumsi energinya.
Advisor TITAN Indonesia dari PT DS Solutions International, Kelvin Lim, mengatakan bahwa masih ada pelaku usaha yang menyamakan reefer container dengan cold storage karena keduanya sama-sama menggunakan sistem pendinginan.
"Banyak pelaku usaha yang berkembang, ketika butuh solusi penyimpanan dingin, refleksnya langsung membeli reefer container karena paling mudah ditemukan di pasaran. Tapi ini keliru sejak awal," kata Kelvin dalam seminar RHVAC Expo 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK2, Kamis (10/9/2026).
Menurut dia, reefer container dirancang untuk mengangkut muatan dalam perjalanan, bukan menjadi fasilitas penyimpanan yang berorientasi pada efisiensi energi dalam jangka panjang.
Berbeda dengan reefer container, cold storage merupakan fasilitas yang memang diperuntukkan bagi penyimpanan produk pada suhu tertentu.
Sistem ini menjadi salah satu bagian penting dalam rantai dingin atau cold chain, terutama untuk komoditas yang mudah mengalami penurunan kualitas apabila tidak segera didinginkan setelah dipanen atau ditangkap.
Dalam sektor perikanan, kebutuhan tersebut menjadi semakin penting. Data dalam seminar menunjukkan produksi perikanan nasional pada 2025 mencapai sekitar 14,6 juta ton.
Namun, sistem rantai dingin di Indonesia masih menghadapi keterbatasan. Sebelumnya, Anggota Komisi IV DPR Rokhmin Dahuri menyebut kurang dari 12 persen produksi perikanan nasional dapat ditangani menggunakan sistem rantai dingin.
Kondisi tersebut membuat teknologi penyimpanan dingin tidak hanya berkaitan dengan menjaga suhu, tetapi juga efisiensi biaya dan kemampuan mempertahankan mutu produk sebelum sampai ke konsumen.
Sistem pendingin yang bekerja sepanjang waktu membutuhkan energi dalam jumlah besar. Karena itu, pemilihan teknologi tidak cukup hanya mempertimbangkan kemampuan menurunkan suhu.
Dalam paparannya, Kelvin memberikan simulasi sebuah unit dengan konsumsi listrik rata-rata 5 kW yang beroperasi selama 24 jam sehari dan 30 hari dalam sebulan.
Dengan asumsi tersebut, konsumsi listrik mencapai sekitar 3.600 kWh per bulan. Jika menggunakan tarif Rp1.444 per kWh, biaya listrik yang dihitung mencapai sekitar Rp5,2 juta setiap bulan.
Perhitungan itu menunjukkan bahwa biaya operasional perlu menjadi bagian dari pertimbangan ketika pelaku usaha menentukan teknologi rantai dingin.
"Angka Rp5,2 juta itu bukan biaya sekali bayar, itu biaya yang terus berjalan setiap bulan, setiap tahun, selama unit itu beroperasi," ujar Kelvin.
Selain perbedaan fungsi, perkembangan teknologi cold storage juga mulai mengarah pada efisiensi energi dan penggunaan sumber energi yang lebih ramah lingkungan.
Dalam materi seminar, salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah cold storage portable yang dapat ditempatkan di berbagai titik rantai pasok. Konsep tersebut memungkinkan kapasitas penyimpanan dingin ditambahkan tanpa harus selalu membangun fasilitas permanen.
Sementara itu, Rokhmin Dahuri mendorong pemanfaatan teknologi rendah karbon hingga tanpa karbon dalam sektor perikanan, termasuk penggunaan energi surya untuk kapal penangkap ikan, cold storage, refrigerator, dan cool box.
Menurut dia, potensi energi matahari di Indonesia dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan sistem pendinginan terhadap bahan bakar fosil.
Di sisi lain, pengembangan teknologi tersebut juga dinilai perlu dibarengi dengan penguatan industri dalam negeri. Transfer teknologi, peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta penciptaan nilai tambah menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi impor.
Dengan demikian, persoalan cold chain bukan sekadar memilih perangkat yang mampu membuat produk tetap dingin. Fungsi alat, pola penggunaan, konsumsi energi, hingga kebutuhan di setiap titik rantai pasok menjadi faktor yang menentukan apakah sebuah sistem pendinginan benar-benar efisien.
Editor: Muhammad Sukardi