5 Bahaya Penggunaan Gawai Berlebih pada Anak, dari Obesitas hingga Gangguan Mental
JAKARTA, iNews.id - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkap lima dampak penggunaan gawai dan media sosial secara berlebihan terhadap anak, mulai dari obesitas, gangguan tumbuh kembang, kecanduan, cyberbullying, hingga masalah kesehatan mental.
Dokter Anak sekaligus Ahli Tumbuh Kembang Pediatri Sosial, Dr dr Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), mengapresiasi langkah Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) dalam menerapkan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).
Menurut Bernie, pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun penting dilakukan mengingat penggunaan gawai dan media sosial yang tidak terkontrol dapat memberikan berbagai dampak terhadap tumbuh kembang anak.
Berikut lima bahaya penggunaan gawai atau main HP berlebihan pada anak:
1. Obesitas
Penggunaan gawai dalam durasi panjang dapat membuat anak lebih banyak menghabiskan waktu dalam kondisi kurang bergerak atau sedentary life.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko overweight dan obesitas. Dalam jangka panjang, obesitas pada anak juga dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti hipertensi dan diabetes.
"Kalau kebanyakan ada sedentary life, akhirnya yang disebut dengan obesitas atau overweight. Ujung-ujungnya hipertensi, diabetes, dan lain sebagainya," ujar Bernie di Kantor Komdigi, dikutip Kamis (8/10/2026).
2. Gangguan Perkembangan Anak
Penggunaan screen time secara berlebihan, terutama pada anak usia dini, juga dapat mengurangi kesempatan mereka berinteraksi secara langsung dengan keluarga dan lingkungan.
Padahal, interaksi tersebut dibutuhkan anak untuk belajar berbicara, bersosialisasi, serta mengembangkan kemampuan sosial dan emosional.
"Yang kedua, perkembangan. Andaikata kita berikan pada usia dini, di mana seharusnya dia belajar tentang keluarganya, belajar bagaimana dia berbicara, itu habis waktunya pada screen time yang hanya satu arah," katanya.
"Jadi kadang-kadang pada anak-anak yang terlalu banyak screen time, seringkali terjadi masalah dalam perkembangan, baik itu perkembangan bahasa, sosial-emosional, dan lain sebagainya," ujarnya.
3. Risiko Kecanduan
Bahaya berikutnya adalah risiko adiksi atau kecanduan. Menurut Bernie, penggunaan gawai atau aktivitas digital yang dilakukan berulang kali dan memberikan rasa menyenangkan dapat memicu pelepasan neurotransmitter dopamin.
Kondisi tersebut dapat membuat anak semakin sulit melepaskan diri dari layar dan terus ingin mengulangi aktivitas yang sama.
"Karena screen time atau apa pun itu yang selalu dilakukan berulang-ulang dan sifatnya seperti menyenangkan ya, akhirnya ini yang disebut dengan dopamin, neurotransmitter dopaminnya ini yang keluar dan ini menyebabkan adiksi," katanya.
4. Cyberbullying
Pada anak usia sekolah dan remaja, penggunaan media sosial juga membawa risiko perundungan siber atau cyberbullying.
Interaksi di ruang digital dapat membuat anak terpapar berbagai bentuk perundungan yang berpotensi memengaruhi kondisi psikologis mereka.
5. Gangguan Kesehatan Mental
Cyberbullying yang dialami anak dapat berlanjut pada persoalan kesehatan mental. Tekanan dan pengalaman negatif di ruang digital dinilai dapat mengganggu kondisi psikologis anak dan remaja.
"Dan yang keempat yang kita takutkan juga pada anak-anak usia sekolah, kemudian usia remaja, adalah cyberbullying. Kemudian yang terakhir, adanya cyberbullying ini ujung-ujungnya juga adalah mental health. Jadi kesehatan mental anak juga bisa terganggu," ucapnya.
Dengan berbagai risiko tersebut, pembatasan penggunaan gawai dan media sosial dinilai perlu diikuti pengawasan orang tua serta pendampingan sesuai usia anak. Tujuannya agar teknologi tetap dapat dimanfaatkan tanpa mengganggu aktivitas fisik, interaksi sosial, dan proses tumbuh kembang anak.
Editor: Dani M Dahwilani