AI Lagi Tren UMKM Diminta Tak Ikut-ikutan, Ini Alasannya!
JAKARTA, iNews.id – Artificial intelligence (AI) kini semakin mudah dimanfaatkan pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Teknologi ini dapat membantu berbagai pekerjaan, mulai dari membuat konten, membaca data penjualan hingga melayani pelanggan.
Namun, pemerintah mengingatkan pelaku UMKM agar tidak sekadar ikut-ikutan menggunakan AI karena sedang menjadi tren.
Asisten Deputi Pendampingan Inovasi dan Keberlanjutan Usaha Kementerian UMKM RI, Asep Abdulloh, mengatakan pelaku usaha seharusnya tidak memulai transformasi AI dengan mencari teknologi yang sedang populer.
Menurut dia, langkah pertama justru harus dimulai dari persoalan yang dihadapi dalam bisnis.
"Jadi, nggak perlu FOMO. Bukan ‘AI apa yang sedang populer?’ pertanyaannya bukan itu, tapi mulailah dari pertanyaan ‘Masalah apa yang paling penting untuk diselesaikan dalam usaha saya?’. Mulai dari masalah," ujar Asep saat Soft Launch dan Peluncuran Resmi Teman AI, belum lama ini.
Asep menjelaskan, kebutuhan setiap UMKM berbeda. Karena itu, penggunaan AI yang efektif pada satu usaha belum tentu memberikan manfaat yang sama pada usaha lainnya.
Sebagai contoh, ada UMKM yang membutuhkan AI untuk mempercepat produksi konten. Sementara itu, usaha lain mungkin lebih membutuhkan teknologi untuk menganalisis penjualan, memahami karakter konsumen, meningkatkan pelayanan pelanggan atau membantu pencatatan administrasi.
Setelah persoalan bisnis ditemukan, barulah pelaku usaha dapat memilih teknologi yang paling sesuai.
"Mulai dari skala yang kecil, ukur hasilnya, dan kembangkan penggunaannya apabila benar-benar memberikan manfaat," katanya.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar penggunaan AI tidak berhenti sebagai eksperimen atau sekadar mengikuti tren teknologi.
Sebab, menurut pemerintah, transformasi digital tidak dapat hanya dilihat dari banyaknya aplikasi atau platform digital yang digunakan sebuah usaha.
Memiliki akun media sosial, berjualan melalui marketplace, maupun menggunakan berbagai aplikasi belum otomatis menunjukkan sebuah UMKM telah melakukan transformasi digital.
Teknologi baru bisa disebut memberikan manfaat ketika benar-benar membawa perubahan terhadap kinerja bisnis.
Asep bahkan mengibaratkan inovasi dengan sebuah rumus, yakni Innovation = Intention x Impact.
Artinya, keinginan untuk melakukan inovasi harus menghasilkan dampak nyata. Jika dampaknya tidak ada, maka inovasi tersebut pada akhirnya tidak memberikan nilai bagi usaha.
"Kalau impact-nya nol, artinya tidak berdampak, maka berapapun intention-nya, dia bukan jadi inovasi, hasilnya nol. Jadi hanya sekadar kreativitas saja," jelasnya.
Karena itu, pelaku UMKM perlu melihat penggunaan AI dari hasil akhirnya.
Beberapa indikator yang dapat digunakan antara lain apakah pekerjaan menjadi lebih cepat, biaya operasional semakin efisien, pelayanan pelanggan meningkat, jangkauan pasar semakin luas, penjualan bertambah atau keputusan bisnis menjadi lebih tepat.
Dengan cara tersebut, AI tidak hanya menjadi alat yang terlihat canggih, tetapi benar-benar digunakan untuk menyelesaikan persoalan bisnis.
Meski meminta pelaku UMKM tidak FOMO, pemerintah tetap melihat AI sebagai teknologi yang memiliki peluang besar untuk membantu usaha kecil berkembang.
Saat ini, AI dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan bisnis, seperti membuat dan menyebarkan konten, memahami perilaku konsumen, menyusun strategi pemasaran, mengelola administrasi, menganalisis data penjualan hingga membantu pelayanan pelanggan.
Kemampuan tersebut menjadi semakin relevan bagi UMKM yang kerap menghadapi keterbatasan tenaga kerja, waktu, keahlian maupun anggaran.
"AI dapat menjadi alat bantu untuk meningkatkan kapasitas dan produktivitas," ujar Asep.
Namun, pemanfaatan AI tetap membutuhkan kendali manusia. Pelaku usaha perlu memperhatikan akurasi informasi yang dihasilkan AI, keamanan data, perlindungan konsumen serta aspek etika dalam penggunaannya.
"Teknologi hanya akan memberikan nilai apabila digunakan untuk menyelesaikan persoalan usaha yang jelas," katanya.
Pemerintah menilai pengembangan kemampuan AI bagi UMKM tidak cukup dilakukan melalui pelatihan atau pengenalan berbagai aplikasi.
Pelaku usaha juga membutuhkan asesmen untuk mengetahui kebutuhan bisnis, peningkatan kapasitas, pendampingan ketika menerapkan teknologi, akses terhadap solusi yang sesuai serta pengukuran dampak setelah teknologi digunakan.
Dengan demikian, digitalisasi UMKM tidak berhenti pada aktivitas mengunduh dan menggunakan aplikasi.
Pemerintah juga mendorong terbentuknya ekosistem yang dapat mempertemukan pelaku UMKM dengan penyedia solusi teknologi. Langkah tersebut diharapkan membuat pemanfaatan AI lebih terarah dan benar-benar mendukung pertumbuhan bisnis.
Pada akhirnya, persoalan bagi UMKM bukan lagi sekadar apakah sudah menggunakan AI atau belum. Pertanyaan yang lebih penting adalah masalah apa yang berhasil diselesaikan AI dan seberapa besar dampaknya terhadap bisnis.
Editor: Muhammad Sukardi