AI Mulai Dipakai untuk Deteksi Kecurangan Klaim Asuransi, Begini Cara Kerjanya
JAKARTA, iNews.id - Artificial Intelligence (AI) kini mulai dimanfaatkan untuk membantu industri asuransi menganalisis data klaim dalam jumlah besar. Teknologi ini dapat digunakan untuk menemukan pola tertentu dalam data dan mengidentifikasi indikasi penyalahgunaan yang mungkin sulit ditemukan melalui pemeriksaan manual.
Pemanfaatan AI tersebut menjadi bagian dari perkembangan teknologi di sektor keuangan yang tidak hanya berfokus pada kecepatan layanan, tetapi juga bagaimana perusahaan dapat meningkatkan akurasi analisis sekaligus menjaga keamanan data nasabah.
Salah satu penerapannya terlihat pada proses klaim medis. AI dapat membantu menganalisis pola dari data klaim secara lebih cepat dan menyeluruh untuk menemukan indikasi yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Secara sederhana, sistem AI bekerja dengan mengolah data dan mencari pola yang berbeda atau tidak biasa. Hasil analisis tersebut kemudian dapat menjadi sinyal bagi petugas untuk melakukan pemeriksaan lebih mendalam.
Namun, AI tidak serta-merta menentukan apakah sebuah klaim merupakan kecurangan. Analisis manusia tetap diperlukan untuk memahami konteks dan memastikan keputusan yang diambil tidak hanya bergantung pada hasil sistem.
Chief Digital & Technology Officer Prudential Indonesia, Pradeep Grewal, mengatakan AI pada dasarnya merupakan teknologi yang dirancang untuk membantu manusia bekerja lebih efektif.
"Kami percaya bahwa AI memiliki potensi besar untuk membantu manusia bekerja lebih efektif dan menciptakan solusi yang lebih baik bagi masyarakat. Namun, teknologi hanyalah instrumen pendukung, yang terpenting adalah bagaimana manusia menggunakannya secara bijak untuk memberikan dampak positif," ujar Pradeep dalam Risk Awareness Series 2026 di Jakarta, belum lama ini.
Menurut dia, semakin besar kemampuan dan penggunaan AI, semakin penting pula perusahaan memiliki sistem pengamanan yang sesuai.
Dalam penerapannya pada klaim medis, AI digunakan untuk membantu menganalisis pola klaim secara lebih cepat, mengidentifikasi indikasi penyalahgunaan, serta mendukung akurasi proses penilaian. Meski demikian, proses tersebut tetap didukung analisis manusia untuk mengidentifikasi klaim secara lebih lengkap.
Penggunaan AI dalam proses klaim juga memperlihatkan perubahan cara perusahaan memanfaatkan teknologi. AI dapat menangani pengolahan data dalam skala besar, sementara manusia tetap dibutuhkan untuk melakukan verifikasi dan mengambil keputusan berdasarkan konteks kasus.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena keputusan terkait klaim dapat berdampak langsung terhadap nasabah. Karena itu, penerapan AI perlu mempertimbangkan aspek akurasi, keadilan, keamanan data, dan pengawasan manusia.
Pradeep menegaskan bahwa penggunaan AI di industri asuransi tidak semata-mata berkaitan dengan teknologi.
"Bagi kami, pemanfaatan AI bukan sekadar tentang teknologi, melainkan menghadirkan kombinasi terbaik antara kecerdasan teknologi dan empati manusia untuk memberikan pengalaman yang lebih baik bagi Nasabah," katanya.
Tantangan lain yang muncul adalah persoalan privasi. Berdasarkan PwC Indonesia Voice of the Consumer 2025, sebanyak 91 persen konsumen Indonesia mengkhawatirkan dampak AI terhadap data pribadi dan privasi mereka. Sementara itu, 89 persen konsumen menyoroti kurangnya regulasi dan tata kelola AI.
Data tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan AI di sektor keuangan tidak hanya membutuhkan kemampuan teknologi, tetapi juga tata kelola yang mampu menjaga informasi pengguna.
Dalam diskusi Risk Awareness Series 2026 bertema 'AI Ethics and Cyber Threats of Unethical AI', Director of Information Technology PT Bank Central Asia Tbk (BCA), David Formula, juga menyoroti pentingnya kontrol, keterlibatan fungsi risiko dan kepatuhan, serta perlindungan data dalam penerapan AI.
Sementara Founder & Chief Executive Officer Privy, Marshall Pribadi, menyoroti tantangan lain yang muncul seiring perkembangan AI, yakni semakin pentingnya memastikan keaslian identitas, suara, video, hingga dokumen.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa AI membawa dua sisi sekaligus. Di satu sisi, teknologi dapat membantu perusahaan mengolah informasi dan meningkatkan efisiensi. Di sisi lain, penggunaan AI membutuhkan pengamanan dan tata kelola agar teknologi tidak menimbulkan risiko baru.
Selain membantu analisis klaim, teknologi AI juga mulai digunakan untuk mendukung layanan nasabah. Salah satunya melalui chatbot berbasis AI yang dapat membantu memberikan informasi mengenai manfaat dan layanan produk.
Sementara untuk kebutuhan administrasi, layanan digital memungkinkan nasabah mengakses informasi polis, memantau status klaim, hingga melakukan sejumlah transaksi secara mandiri.
Pada akhirnya, perkembangan AI di industri asuransi bukan hanya tentang menggantikan pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual. Teknologi tersebut lebih banyak diarahkan untuk membantu manusia mengolah data dalam jumlah besar, menemukan pola, dan mempercepat proses yang membutuhkan analisis.
Karena itu, tantangan berikutnya bukan sekadar seberapa canggih AI yang digunakan, melainkan bagaimana teknologi tersebut diterapkan secara aman, transparan, dan tetap berada dalam pengawasan manusia.
Editor: Muhammad Sukardi