Awas, Penjahat Siber Manfaatkan Nama Blackpink untuk Tipu Pengguna Internet
JAKARTA, iNews.id - Blackpink menjadi salah satu girlband Korea Selatan yang sering dicari oleh netizen Indonesia. McAfee meneliti risiko dari aktivitas mencari nama-nama artis terkenal di dunia maya yang dapat membahayakan pengguna internet.
Nama Blackpink sudah dikenal di dunia musik global. Menyusul kesuksesan dan jutaan penggemar global mereka, Blackpink menjadi artis paling dicari di Indonesia.
Peneliti McAfee menunjukkan grup atau aktor populer sebenarnya bisa menjadi artis yang paling berbahaya untuk ditelusuri. Karena, nama mereka digunakan untuk menjebak pengguna online oleh penjahat siber.
Mengikuti Blackpink, boyband asal Korea Selatan, Exo, menempati posisi kedua sebagai selebriti paling dicari dengan risiko kejahatan siber di Indonesia. Disusul Zayn Malik dan Gigi Hadid di nomor tiga dan empat.
Selebritas Indonesia yang terkenal di TV dan saluran YouTube-nya, Raffi Ahmad, menempati urutan ke-5 dalam daftar tersebut. Diposisi keenam ada Selena Gomez yang baru-baru ini merilis single dengan Blackpink.
Daftar artis yang paling banyak ditelusuri adalah peringatan bagi netizen Indonesia untuk lebih mewaspadai risiko hiburan gratis di ranah online. Konten mengenai artis populer dapat membuat netizen secara tidak sengaja mengklik tautan berbahaya.
Apalagi dengan adanya peraturan pencegahan Covid-19 seperti PSBB, penggunaan media sosial dan layanan online kian meningkat di Indonesia. Akibatnya, meningkat pula aktivitas mereka di berbagai perangkat dan menjelajahi internet untuk mencari berbagai macam hiburan.
Pelaku kejahatan siber telah mengikuti tren ini dan melihat perilaku konsumen untuk mengembangkan strategi penipuan mereka.
"Penjahat siber dengan cepat memanfaatkan ketertarikan konsumen pada budaya selebriti, menipu semakin banyak pengguna untuk mengakses situs atau konten berbahaya untuk mendapatkan hiburan gratis," kata Head of Southeast Asia Consumer McAfee Shashwat Khandelwal dalam keterangan kepada iNews.id, Kamis (8/10/2020).
Pengguna, kata Khandelwal, kemungkinan tidak sepenuhnya menyadari risiko mereka di internet dan seberapa bahaya kejahatan siber ini terlebih dengan adanya pencurian data pribadi.
"Sangat penting bagi konsumen untuk belajar melindungi kehidupan digital mereka dari aktor kejahatan online dengan berpikir dua kali sebelum mengakses situs atau konten tertentu, terutama karena penjahat terus menerapkan praktik penipuan seperti situs palsu yang menawarkan konten gratis," kata Khadelwal.
Editor: Dini Listiyani