Berawal dari Pengalaman, Pengembang Bikin Aplikasi untuk Hentikan Ketergantungan Media Sosial
JAKARTA, iNews.id - Banyak orang menggaungkan Monk Mode sejak Maret 2023. Tren ini mengajak pengguna tidak terlalu terikat dengan media sosial (medsos) dan ponsel setiap hari.
Monk mode adalah pendekatan produktivitas yang terinspirasi dari gaya hidup disiplin para biksu. Asal usulnya berasal dari kehidupan biara yang terpencil, di mana para biksu mengabdikan diri mereka pada refleksi mendalam, meditasi, dan belajar.
Di dunia yang serba cepat, monk mode telah diadaptasi sebagai strategi membantu individu mendapatkan kembali fokus dan kejernihan mental di tengah gangguan yang datang silih berganti, sebagaimana dikutip dari Fast Company.
"Dengan semakin banyaknya platform dan perangkat media sosial yang bersaing untuk mendapatkan perhatian kita, ternyata semakin banyak juga orang yang mencari cara untuk membantu menahan keinginan terus memeriksa notifikasi dan menelusuri feed media sosial," kata BBC.
Tren itu juga menghadirkan peluang bagi pembuat aplikasi. Saat ini terdapat beberapa aplikasi bernama Freedom dan FocusMe yang bisa membantu pengguna ponsel untuk tidak mendapatkan akses dari sosial media atau penggunaan ponsel lainnya.
Pengguna Freedom bisa menentukan sosial media dan situs apa saja yang tidak ingin dia akses untuk sementara waktu, termasuk ketika ingin mematikan jaringan internet secara keseluruhan.
Pembuat Freedom, Fred Stutzman mengatakan dia membuat aplikasi karena memang mengalami hal yang dirasakan semua orang saat ini. Internet dan aplikasi membuat waktu produktifnya terhambat. Akibatnya, dia tidak bisa menyelesaikan disertasi miliknya tepat waktu.
Dia justru kaget karena saat ini Freedom sudah diunduh 2,5 juta orang. Hal itu menandakan tidak semua orang benar-benar butuh akses sosial media dan jaringan internet. Dia mengatakan media sosial terlihat begitu menarik dan adiktif karena direkayasa sebaik mungkin.
Pembuat sosial media memperkerjakan orang-orang pintar untuk menstimulasi ketergantungan terhadap sosial media. "Mereka berusaha sebaik mungkin agar aplikasi yang mereka buat bisa menstimulasi penggunanya sehingga sulit untuk lepas," tuturnya.
Editor: Dini Listiyani