Era Kecerdasan Buatan, Banyak Perusahaan Kesulitan Integrasikan AI
JAKARTA, iNews.id – Seiring meningkatnya adopsi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di berbagai sektor industri, banyak perusahaan menghadapi tantangan nyata dalam mengintegrasikan solusi AI ke dalam sistem operasional mereka. Kompleksitas integrasi, keterbatasan infrastruktur, hingga isu keamanan dan kedaulatan data menjadi hambatan utama dalam mempercepat transformasi digital.
Berbagai perusahaan sebenarnya telah memiliki strategi AI yang matang. Namun, saat masuk tahap implementasi, mereka kerap terbentur integrasi dengan sistem existing, keterhubungan dengan ekosistem AI, hingga proses procurement yang panjang sebelum solusi benar-benar dapat digunakan secara operasional.
Kendala teknis dan non-teknis tersebut membuat proses adopsi AI tidak selalu berjalan mulus. Selain membutuhkan kesiapan infrastruktur, perusahaan juga harus memastikan solusi yang diadopsi aman, terstandarisasi, serta mampu diskalakan sesuai kebutuhan bisnis.
Head of Industry Solution Lintasarta, Nurendrantoro, menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan AI. Namun, menurutnya, dibutuhkan sebuah wadah terintegrasi yang mampu menyederhanakan proses adopsi tersebut.
“Indonesia memiliki fondasi inovasi AI yang sangat kuat. Namun agar dampaknya optimal, dibutuhkan wadah yang mampu mengintegrasikan solusi, memperkuat kolaborasi antar pelaku ekosistem, memastikan keamanan data, serta mempercepat implementasi secara terukur. AI marketspace menjadi katalis dan memungkinkan seluruh proses tersebut berjalan lebih sederhana dan efisien,” ujar Nurendrantoro, dalam keterangan persnya, Kamis (26/2/2026)
Menurutnya, model AI marketspace memungkinkan solusi diintegrasikan, diimplementasikan, dan diskalakan dalam satu ekosistem yang terstandardisasi dan aman. Pendekatan ini, industri dapat mengurangi kompleksitas teknis sekaligus mempercepat time-to-value.
Sebagai kendaraan integrasi solusi berbasis AI, AI Marketspace dirancang untuk mengintegrasikan solusi digital dan AI secara lebih terstruktur dan terukur. Prosesnya dimulai dari pemetaan tantangan bisnis hingga implementasi use case yang relevan dengan kebutuhan industri.
Pendekatan ini dibangun di atas fondasi 4C Lintasarta, yakni Connectivity untuk memastikan keandalan sistem, Cloud untuk mendukung skalabilitas infrastruktur, Cybersecurity guna menjamin keamanan dan kepatuhan data, serta Collaboration dalam mengorkestrasi ekosistem. Kombinasi tersebut, solusi dapat diintegrasikan, diimplementasikan, dan dikembangkan secara lebih cepat, aman, dan terstandardisasi.
Sebagai implementasi konkret, Lintasarta mengembangkan Lintasarta AI Marketspace Universe (LAMPU). Platform ini menjadi kendaraan untuk mengorkestrasi berbagai solusi digital dan AI seperti Software as a Service (SaaS), Compute Services, Application Programming Interface (API) Services, data services, cybersecurity, connectivity, hingga AI dan analytics.
Melalui pendekatan tersebut, fokus utama tetap pada penyediaan solusi yang relevan dan berdampak nyata bagi kebutuhan bisnis industri. Kapabilitas 4C Lintasarta menjadi tulang punggung dalam memastikan solusi yang dihadirkan tidak hanya inovatif, tetapi juga aplikatif.
Momentum Strategis
Indonesia dinilai memiliki fondasi kuat untuk menjadi kekuatan AI regional. Hal ini didukung oleh pertumbuhan ekonomi digital yang pesat, penetrasi teknologi yang semakin luas, serta ketersediaan talenta digital yang terus berkembang.
Melalui pendekatan AI marketspace, Lintasarta membangun fondasi strategis untuk mempercepat akselerasi AI nasional. Peran tersebut sekaligus menempatkan perusahaan sebagai enabler dan ecosystem builder dalam perjalanan transformasi AI nasional menuju visi Indonesia Emas 2045.
Ke depan, integrasi yang lebih sederhana, aman, dan terukur diharapkan mampu mempercepat pemanfaatan AI lintas sektor, sehingga kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi dan daya saing nasional semakin signifikan.
Editor: Dani M Dahwilani