Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : UNY Dorong Perempuan Diaspora Indonesia di Malaysia Mandiri lewat AI
Advertisement . Scroll to see content

Generasi AI Dimulai dari Bangku SD, Mengapa Critical Thinking Jadi Kunci?

Senin, 06 Juli 2026 - 16:41:00 WIB
Generasi AI Dimulai dari Bangku SD, Mengapa Critical Thinking Jadi Kunci?
Ilustrasi anak sekolah melek AI. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin mengubah cara manusia bekerja, belajar, hingga mengambil keputusan. Namun, kemampuan berpikir kritis tetap diperlukan. 

Ya, di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, kemampuan berpikir kritis (critical thinking) kini dinilai menjadi bekal utama yang harus dimiliki generasi muda sejak usia dini.

Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF) memperkirakan AI dan perkembangan teknologi akan mengubah sekitar 86 persen model bisnis di dunia. Transformasi tersebut diprediksi melahirkan sekitar 170 juta pekerjaan baru, namun di saat yang sama juga menggantikan sekitar 92 juta jenis pekerjaan yang ada saat ini.

Perubahan itu membuat kebutuhan dunia kerja tidak lagi hanya bertumpu pada kemampuan akademik semata. Keterampilan seperti berpikir kritis, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, hingga adaptasi terhadap perubahan justru menjadi kompetensi yang paling dicari di era AI.

Sayangnya, kesiapan pelajar Indonesia dalam aspek tersebut masih menjadi tantangan. Berdasarkan hasil PISA Creative Thinking 2022, hanya sekitar 5 persen siswa Indonesia yang berhasil mencapai level tertinggi dalam kemampuan berpikir kreatif. Angka tersebut masih tertinggal jauh dibandingkan rata-rata negara anggota OECD yang mencapai 27 persen.

Temuan itu menunjukkan bahwa sistem pendidikan perlu memberikan ruang lebih besar bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan menganalisis persoalan, menghasilkan ide, serta menciptakan solusi, bukan sekadar menghafal materi pelajaran.

Founder Alta Global School (AGS) sekaligus CEO Schoters, Radyum Ikono, menilai perkembangan AI membuat pendidikan harus bergeser dari sekadar mengejar nilai menuju pembentukan karakter dan kemampuan berpikir yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Murid Alta Global School yang menjadi delegasi Indonesia untuk kegiatan internasional. (Foto: Istimewa)
Murid Alta Global School yang menjadi delegasi Indonesia untuk kegiatan internasional. (Foto: Istimewa)

"Motivasi utama orang tua yang ingin anaknya kuliah ke luar negeri adalah kualitas dan reputasi pendidikannya. Begitu juga dengan peluang karier global yang lebih besar, baik di perusahaan kelas dunia atau membangun startup mereka sendiri," ujar Radyum Ikono dalam keterangannya, Senin (6/7/2026).

"Namun, yang tidak kalah penting adalah global exposure serta pengalaman yang membentuk kemandirian, kecakapan beradaptasi, dan cara berpikir yang luas agar menjadi global citizen yang kompetitif," tambahnya.

Menurut Radyum, kemampuan tersebut idealnya mulai dibangun sejak anak berada di bangku sekolah dasar. Melalui berbagai proyek, kompetisi, hingga pengalaman belajar berstandar internasional, siswa didorong untuk terbiasa menyelesaikan persoalan nyata sekaligus mengembangkan minat sesuai potensi masing-masing.

Pendekatan tersebut dinilai semakin relevan di era AI, ketika teknologi mampu mengerjakan berbagai tugas teknis dengan cepat. Keunggulan manusia justru akan ditentukan oleh kemampuan berpikir analitis, berkolaborasi, berkomunikasi, dan menciptakan inovasi yang belum bisa sepenuhnya digantikan mesin.

Radyum menambahkan bahwa pencapaian akademik sebaiknya tidak hanya diukur melalui nilai rapor, tetapi juga dari kemampuan siswa menerapkan ilmu pengetahuan dalam situasi nyata.

"Kurikulum yang kami terapkan mendorong siswa untuk mengembangkan prestasi sesuai potensinya, dengan mengikuti lomba yang sesuai dengan talenta serta interest. Karena, prestasi adalah salah satu indikator bahwa siswa mampu menerapkan pengetahuan mereka menjadi solusi nyata, melalui inisiatif dan kemampuan memecahkan masalah," katanya.

Penerapan pendekatan tersebut mulai terlihat dari berbagai capaian siswa. Salah satunya adalah Shasa, siswi kelas delapan yang terpilih menjadi delegasi Indonesia dalam program Harvard Future Doctors. Melalui program itu, dia mempelajari konsep biokimia sekaligus mengikuti diskusi mengenai berbagai fondasi ilmu kedokteran bersama peserta dari berbagai negara.

Sementara itu, Arsya, siswa kelas tiga AGS, mampu menyeimbangkan prestasi akademik dengan aktivitas organisasi. Dia aktif di OSIS sekaligus meraih medali emas dan perak pada sejumlah kompetisi nasional di bidang sains, matematika, dan bahasa Inggris.

Di tengah pesatnya perkembangan AI, pengalaman seperti itu dinilai menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara berpikir untuk menciptakan solusi. 

Sebab, ketika AI semakin canggih mengerjakan pekerjaan rutin, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kepemimpinan akan menjadi pembeda utama yang menentukan daya saing generasi muda di masa depan.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut