Instagram Dituduh Rusak Mental Anak, Mark Zuckerberg Angkat Bicara!
JAKARTA, iNews.id – Gelombang gugatan besar menghantam Meta. Lebih dari 1.600 pihak, termasuk ratusan keluarga dan distrik sekolah di Amerika Serikat, menyeret perusahaan induk Instagram itu ke meja hijau. Mereka menuding platform media sosial tersebut berkontribusi terhadap kerusakan kesehatan mental anak-anak dan remaja.
Kasus ini mulai disidangkan di Pengadilan Tinggi Wilayah Los Angeles dan menjadi yang pertama dari serangkaian gugatan gabungan yang diajukan terhadap perusahaan-perusahaan media sosial besar.
Dari total penggugat, lebih dari 350 keluarga dan lebih dari 250 distrik sekolah ikut serta dalam gugatan. Mereka menilai Instagram dirancang dengan fitur-fitur yang mendorong kecanduan, sehingga berdampak negatif pada kondisi psikologis pengguna usia muda.
CEO Meta, Mark Zuckerberg, hadir memberikan kesaksian dan membantah tuduhan tersebut. Dia menegaskan bahwa Instagram tidak pernah dirancang untuk anak-anak di bawah 13 tahun.
"Saya fokus membangun komunitas yang berkelanjutan," katanya saat ditanya apakah Meta sengaja membuat platform yang membuat orang kecanduan.
Zuckerberg juga membantah anggapan bahwa perusahaannya mengejar durasi penggunaan demi keuntungan jangka pendek.
"Jika Anda melakukan sesuatu yang tidak baik bagi orang-orang, mungkin mereka akan menghabiskan lebih banyak waktu (di Instagram) dalam jangka pendek, tetapi jika mereka tidak senang dengan itu, mereka tidak akan menggunakannya dalam jangka panjang," ungkapnya.
"Saya tidak mencoba memaksimalkan jumlah waktu yang dihabiskan orang setiap bulan,” tambahnya.
Namun, tim penggugat memaparkan dokumen internal perusahaan yang memperkirakan sekitar 4 juta pengguna Instagram pada 2018 berusia di bawah 13 tahun. Angka itu disebut setara dengan sekitar 30% anak usia 10 hingga 12 tahun di AS saat itu.
Salah satu penggugat, seorang perempuan berusia 20 tahun yang diidentifikasi sebagai KGM, mengklaim telah menggunakan media sosial sejak usia 9 tahun dan mengalami dampak buruk terhadap kesehatan mentalnya. Dia menuduh perusahaan media sosial sengaja merancang fitur yang membuat ketagihan demi keuntungan bisnis.
Menanggapi hal tersebut, Zuckerberg mengakui bahwa ada pengguna yang memalsukan usia saat mendaftar.
"Secara umum saya berpikir bahwa ada sejumlah orang, mungkin beberapa orang yang signifikan, yang berbohong tentang usia mereka untuk menggunakan layanan kami," katanya.
"Ada pertanyaan terpisah dan sangat penting tentang penegakan hukum, dan itu sangat sulit," tambahnya.
Persidangan ini diperkirakan menjadi awal dari rangkaian panjang proses hukum yang bisa berdampak besar pada industri media sosial secara global. Gugatan massal ini juga kembali memicu perdebatan tentang batas tanggung jawab platform digital terhadap kesehatan mental generasi muda.
Editor: Muhammad Sukardi