Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : BRI Salurkan KUR Rp144 Triliun kepada 2,76 Juta Debitur, Jadi Motor Penggerak Sektor Produktif dan UMKM Nasional
Advertisement . Scroll to see content

Makin Melek Teknologi, 36,8 Persen UMKM Indonesia Mulai Manfaatkan AI

Selasa, 27 Oktober 2026 - 13:28:00 WIB
Makin Melek Teknologi, 36,8 Persen UMKM Indonesia Mulai Manfaatkan AI
Pelaku UMKM yang memanfaatkan AI. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai dimanfaatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia untuk mendukung aktivitas bisnis. Teknologi ini semakin dilirik, terutama untuk membantu pemasaran, pembuatan konten, hingga komunikasi dengan pelanggan.

Berdasarkan Survei UMKM 2026 yang dilakukan platform pengiriman Lalamove terhadap lebih dari 300 pelaku UMKM, sebanyak 36,8 persen responden mengaku telah menggunakan AI untuk mendukung kegiatan bisnis mereka.

Sementara itu, 29,6 persen responden lainnya belum menggunakan AI, tetapi mulai mempertimbangkan teknologi tersebut. Temuan ini menunjukkan adanya peluang peningkatan adopsi AI di kalangan pelaku usaha, seiring berkembangnya kebutuhan digital dalam menjalankan bisnis.

Penggunaan AI paling banyak ditemukan pada kegiatan pemasaran dan pembuatan konten, dengan persentase mencapai 42,6 persen. Adapun 23,5 persen responden memanfaatkan teknologi tersebut untuk mendukung layanan pelanggan dan komunikasi.

Pemanfaatan ini memperlihatkan bahwa AI mulai menjadi salah satu pilihan untuk membantu pekerjaan sehari-hari pelaku usaha. Dalam kegiatan pemasaran, misalnya, teknologi AI dapat digunakan untuk membantu menyiapkan ide promosi dan materi konten, sedangkan dalam komunikasi bisnis, teknologi ini berpotensi mendukung interaksi dengan konsumen.

Namun, penerapan teknologi bukan satu-satunya tantangan yang perlu diperhatikan UMKM menjelang 2027. Pelaku usaha juga menghadapi perubahan kebutuhan pelanggan yang menuntut operasional lebih fleksibel, termasuk dalam pengiriman barang.

Dalam survei yang sama, sebanyak 60,7 persen responden menyatakan semakin membutuhkan layanan pengiriman ke beberapa titik tujuan. Sementara itu, 43,3 persen membutuhkan layanan pengiriman di luar jam operasional atau dengan waktu yang lebih fleksibel.

Tuntutan pelanggan terhadap kecepatan layanan turut memengaruhi kebutuhan tersebut. Sebanyak 36,3 persen responden menyebut ekspektasi terhadap kecepatan layanan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi operasional bisnis. Selain itu, 34,3 persen responden mengaitkan perubahan kebutuhan pengiriman dengan meningkatnya jumlah pesanan pelanggan.

Dari sisi jenis barang, makanan dan minuman menjadi kategori yang paling banyak dikirim, yakni 42,4 persen. Berikutnya, dokumen dan berkas kantor mencapai 25,9 persen, sedangkan pakaian dan produk fesyen sebesar 23,2 persen.

Keragaman jenis barang dan tujuan pengiriman membuat pelaku UMKM perlu menyesuaikan kebutuhan logistik dengan karakteristik produk serta ekspektasi pelanggan. Di tengah perkembangan teknologi, kemampuan mengelola operasional secara efisien menjadi salah satu aspek yang turut menentukan kelancaran bisnis.

Managing Director Lalamove Indonesia, Andito B. Prakoso, menilai pelaku UMKM perlu beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen dan dinamika operasional bisnis.

"Pelaku UMKM perlu semakin adaptif dalam menghadapi perubahan perilaku pelanggan dan dinamika operasional bisnis. Di tengah perkembangan pemanfaatan teknologi, fleksibilitas pengiriman menjadi salah satu aspek penting untuk membantu bisnis merespons kebutuhan pelanggan yang semakin beragam," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (27/10/2026).

Selain adaptasi teknologi dan pengiriman, pengelolaan biaya juga menjadi perhatian pelaku UMKM. Kebutuhan operasional yang semakin beragam membuat mereka harus menyesuaikan pengeluaran dengan kapasitas usaha, terutama ketika jumlah pesanan meningkat.

Pelaku UMKM juga menilai dukungan pemasaran dan promosi, pembiayaan untuk pengembangan usaha, serta peluang membangun jejaring bisnis sebagai faktor yang dapat membantu pertumbuhan usaha.

Temuan survei tersebut menggambarkan bahwa kesiapan UMKM menghadapi 2027 tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memanfaatkan teknologi AI. Pelaku usaha juga perlu memperhatikan efisiensi biaya, fleksibilitas operasional, dan kualitas pelayanan agar dapat mengikuti perubahan kebutuhan pasar.

Dengan semakin banyaknya pelaku UMKM yang mulai melirik AI, pemanfaatan teknologi berpotensi menjadi bagian dari strategi pengembangan bisnis. Meski demikian, penerapannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas masing-masing usaha agar manfaatnya dapat mendukung kegiatan operasional secara optimal.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut