Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : MNC University Gelar Seminar Smart Tax for Digital Workers, Bekali Mahasiswa dan Camaba tentang Pajak Era Digital
Advertisement . Scroll to see content

Skripsi Pakai AI, Apa Boleh? Dosen UNEJ Beri Penjelasannya

Rabu, 30 September 2026 - 13:50:00 WIB
Skripsi Pakai AI, Apa Boleh? Dosen UNEJ Beri Penjelasannya
Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember (FKIP UNEJ), Randi Pratama Murtikusuma. (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Kecerdasan buatan (AI) kini bisa dimanfaatkan mahasiswa dalam berbagai tahapan penyusunan skripsi. Teknologi tersebut dapat membantu mencari informasi hingga memberikan gambaran awal ketika mahasiswa mengalami kebuntuan.

Lantas, apakah mahasiswa boleh menggunakan AI saat mengerjakan skripsi?

Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember (FKIP UNEJ), Randi Pratama Murtikusuma, mengatakan AI dapat digunakan sebagai salah satu sumber bantuan. Namun, mahasiswa tetap harus memahami penelitian yang dikerjakan dan mampu mempertanggungjawabkan penalarannya.

"Buku, jurnal, dosen pembimbing, dan kecerdasan buatan bisa membantu penyusunan skripsi. Tapi pemahaman dan penalarannya harus dari mahasiswa sendiri, karena di situlah letak pertanggungjawaban sebuah penelitian," kata Randi dalam keterangannya, Rabu (30/9/2026).

Jangan Langsung Minta AI Membuat Skripsi

Menurut Randi, persoalan yang sering membuat mahasiswa tersendat justru muncul sebelum penulisan dimulai. Banyak mahasiswa sudah memiliki ide, tetapi belum mampu merumuskannya menjadi masalah penelitian yang jelas.

Karena itu, mahasiswa perlu menentukan arah penelitian terlebih dahulu. Langkah tersebut dapat dimulai dengan mengamati fenomena, kemudian mencari data atau bukti awal yang mendukung.

"Banyak mahasiswa sebenarnya sudah punya ide, hanya saja masih kesulitan merumuskannya menjadi masalah penelitian yang jelas. Makanya, arah penelitiannya perlu dipahami dulu sebelum menentukan judul, misalnya dari payung besar seperti ‘media sosial’ menjadi pertanyaan mengerucut soal pengaruhnya terhadap konsentrasi belajar," ujarnya.

Pada tahap ini, AI bisa dimanfaatkan untuk membantu mengeksplorasi topik atau memahami konsep awal. Namun, informasi yang diperoleh tetap perlu diverifikasi menggunakan sumber akademik.

Cari Research Gap dari Penelitian Terdahulu

Setelah menemukan persoalan yang ingin diteliti, mahasiswa dapat membaca penelitian terdahulu untuk mengetahui pembahasan yang sudah ada dan menemukan research gap atau celah penelitian.

Randi menyebut Google Scholar sebagai salah satu sumber yang dapat digunakan untuk menemukan publikasi ilmiah sesuai topik penelitian.

Dari referensi tersebut, mahasiswa dapat melihat persoalan yang belum banyak dibahas atau aspek yang masih dapat dikembangkan. Proses membaca penelitian terdahulu juga membantu mahasiswa menentukan dasar teori dan memperjelas arah penelitian.

Metode Penelitian Tetap Harus Dipahami

Kesulitan berikutnya biasanya muncul ketika mahasiswa menentukan metode penelitian. Dalam penelitian kuantitatif, mahasiswa perlu memahami dasar penentuan sampel dan pemilihan uji statistik.

Sementara penelitian kualitatif membutuhkan pemahaman mengenai informan, wawancara, pengumpulan data hingga analisis.

AI dapat membantu menjelaskan istilah atau konsep yang belum dipahami. Namun, mahasiswa tetap perlu mengetahui alasan memilih metode tertentu dan mampu menjelaskan kaitannya dengan masalah penelitian.

Kemampuan membangun argumen juga menjadi bagian penting. Mahasiswa harus dapat menjelaskan alasan memilih masalah, teori yang digunakan, serta dasar dari keputusan penelitian yang dibuat.

Jangan Takut Bimbingan karena Revisi

Selain persoalan penelitian, proses bimbingan juga kerap membuat mahasiswa menunda pengerjaan skripsi. Sebagian merasa perlu menyelesaikan tulisan terlebih dahulu karena takut mendapatkan revisi.

Padahal, menurut Randi, bimbingan merupakan bagian dari proses untuk menemukan kekurangan dan memperbaiki penelitian.

Mahasiswa disarankan menyampaikan perkembangan skripsi sekaligus bagian yang ingin dikonsultasikan secara jelas. Membaca referensi sebelum bimbingan juga membuat diskusi dengan dosen lebih efektif.

Tetap Latih Kemampuan Berpikir

Kemudahan memperoleh informasi melalui internet dan AI membuat mahasiswa perlu semakin cermat dalam memilah sumber. Informasi yang ditemukan tidak cukup hanya diterima, tetapi perlu dipahami dan disesuaikan dengan kebutuhan penelitian.

"Seimbangkan antara memanfaatkan teknologi dan melatih kemampuan berpikir sendiri. Teknologi memang bisa membantu mahasiswa bekerja lebih terarah. Tapi untuk mengambil keputusan terkait skripsi tetap harus didasari pemahaman terhadap penelitian yang sedang dikerjakan," pesan Randi.

Randi membagikan materi edukasi mengenai penyusunan skripsi melalui akun Instagram @randipopo dan TikTok @randipopo_. Kontennya membahas berbagai persoalan mahasiswa, termasuk menentukan arah penelitian dan menghadapi proses bimbingan.

Jadi, AI dapat digunakan untuk membantu proses penyusunan skripsi, tetapi mahasiswa tetap menjadi pihak yang menentukan arah penelitian, memeriksa informasi, memilih metode, dan mempertanggungjawabkan hasilnya.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut