Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : BYD Ungkap Bakal Bikin Robot Humanoid, Manfaatkan Teknologi Mobil Pintar
Advertisement . Scroll to see content

Viral Olimpiade Robot di China, Humanoid Pecahkan Rekor Lari Lebih Cepat dari Manusia

Senin, 24 Agustus 2026 - 12:33:00 WIB
Viral Olimpiade Robot di China, Humanoid Pecahkan Rekor Lari Lebih Cepat dari Manusia
Salah satu momen Olimpiade Robot di China. (Foto: X)
Advertisement . Scroll to see content

BEIJING, iNews.id – Kompetisi robot humanoid di China tengah menjadi sorotan dunia. Bukan tanpa alasan, dalam ajang World Humanoid Robot Games 2026, sejumlah robot bahkan mampu mencatat kecepatan lari yang melampaui rekor manusia.

Ajang yang digelar di Beijing selama lima hari mulai Sabtu (22/8/2026) tersebut mempertemukan robot humanoid dalam berbagai pertandingan. Konsepnya dibuat menyerupai Olimpiade, tetapi para pesertanya adalah robot berkaki dua.

Total ada 51 nomor pertandingan, terdiri dari 30 kompetisi olahraga dan 21 perlombaan berbasis skenario kehidupan nyata. Tantangannya pun beragam, mulai dari lari, angkat beban dan tarik tambang hingga pekerjaan yang dirancang menyerupai aktivitas di pabrik, restoran dan situasi darurat.

Yang paling mencuri perhatian terjadi pada nomor lari 100 meter.

Robot Kalahkan Rekor Usain Bolt

Dua robot humanoid tercatat mampu berlari 100 meter dengan waktu yang lebih cepat dari rekor dunia manusia milik Usain Bolt, yakni 9,58 detik.

Pencapaian tersebut menjadi lonjakan besar dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya. Pada 2025, robot yang menjadi pemenang masih membutuhkan waktu lebih dari 20 detik untuk menyelesaikan jarak 100 meter.

Namun, kemampuan berlari cepat ternyata belum sepenuhnya diikuti kemampuan mengendalikan tubuh.

Beberapa robot dilaporkan kesulitan mengerem setelah melewati garis finis. Mereka bahkan menghantam matras tebal yang ditempatkan beberapa meter setelah garis akhir untuk mengantisipasi kondisi tersebut.

Tak berhenti di nomor 100 meter, robot dari model yang sama dengan juara sprint juga mencatat waktu 39,7 detik dalam lari 400 meter.

Catatan tersebut lebih cepat daripada rekor dunia manusia milik pelari Afrika Selatan, Wayde van Niekerk, yang mencatat waktu 43,03 detik.

Bukan Sekadar Pamer Kecepatan

Meski aksi robot berlari menjadi tontonan paling viral, tujuan kompetisi ini sebenarnya jauh lebih besar. Para penyelenggara ingin menguji sejauh mana robot humanoid mampu melakukan pekerjaan yang membutuhkan kemampuan fisik dan presisi seperti manusia.

Robot diuji melakukan berbagai tugas, seperti pengisian daya kendaraan listrik, pekerjaan restoran, perakitan industri, pemindahan material hingga menyambungkan kabel.

Dalam tantangan menyambungkan kabel, misalnya, robot harus mampu mengenali benda, mengatur posisi tangan dan tubuh dengan tepat, memberikan tekanan yang sesuai serta memperbaiki kesalahan tanpa bantuan manusia.

Lebih dari 40 persen nomor dalam kompetisi tersebut bahkan mengharuskan robot beroperasi secara sepenuhnya otonom.

Tantangan Terbesar Justru Ada di Dunia Nyata

Di balik aksi spektakuler robot yang berlari dan bertanding, para pelaku industri menilai kemampuan menghadapi kondisi tak sempurna menjadi ujian sesungguhnya.

Di dunia nyata, kabel tidak selalu berada pada posisi ideal. Barang bisa bergeser, objek bisa berada di luar jangkauan dan gerakan robot bisa meleset.

Robot yang benar-benar siap digunakan di industri harus mampu mengenali perubahan tersebut dan mengambil tindakan tanpa selalu menunggu instruksi manusia.

CEO Lumos Robotics Yu Chao menilai kompetisi ini dapat membantu mendorong perkembangan teknologi robot humanoid. Namun, ia mengingatkan bahwa kemampuan berlari dan melompat saja belum cukup.

"Ketika robot mampu bekerja dalam skenario akhir tersebut, teknologi ini benar-benar memiliki nilai. Sekadar berlari dan melompat tidak akan meningkatkan efisiensi," ujar Yu Chao dalam laporan CNA, Senin (24/8/2026).

Robot Juga Diajak Main Tai Chi hingga Tenis

World Humanoid Robot Games 2026 tidak hanya mempertandingkan kemampuan robot dalam olahraga modern.

Humanoid juga mengikuti pertandingan tarik tambang dan angkat beban. Ada pula Tai Chi serta pitch-pot, permainan tradisional China yang mengharuskan peserta melempar batang mirip anak panah ke dalam vas berleher sempit.

Startup robotika Beijing, Galbot, bahkan menyiapkan pertandingan tenis humanoid secara otonom.

Robot akan ditantang memainkan pertandingan tunggal dan ganda, termasuk melacak pergerakan bola, melakukan servis dan mengembalikan pukulan.

Ajang ini menunjukkan bahwa pengembangan robot humanoid China mulai bergerak dari sekadar demonstrasi teknologi menuju pengujian kemampuan untuk bekerja di lingkungan nyata.

Chief Marketing Officer perusahaan robotika Zeroth, Hua Rong, mengatakan ujian sesungguhnya justru akan dimulai setelah robot meninggalkan arena kompetisi.

"Persaingan sebenarnya adalah ketika produk sudah dijual, apakah robot tersebut benar-benar bisa menyelesaikan masalah pengguna," kata Hua Rong.

Dengan kemampuan yang berkembang sangat cepat, pertanyaannya kini bukan lagi apakah robot humanoid bisa bergerak seperti manusia. Pertanyaan berikutnya adalah seberapa banyak pekerjaan manusia yang suatu hari bisa mereka lakukan.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut