Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kenapa Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Bikin Pesawat Dilarang Terbang?
Advertisement . Scroll to see content

3 Tanda Gunung Anak Krakatau Akan Berhenti Erupsi, Ini Penjelasan Ahli

Selasa, 08 September 2026 - 12:33:00 WIB
3 Tanda Gunung Anak Krakatau Akan Berhenti Erupsi, Ini Penjelasan Ahli
Gunung Anak Krakatau. (Foto: X)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Kapan Gunung Anak Krakatau benar-benar berhenti erupsi? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab hanya dengan melihat apakah masih ada letusan atau tidak.

Aktivitas gunung api pada dasarnya dapat mengalami fase naik dan turun. Letusan bisa tampak mereda untuk sementara, kemudian kembali meningkat ketika pasokan magma dari dalam bumi masih berlangsung.

Daryono Perwira Sakti, edukator mitigasi bencana, menjelaskan para ahli vulkanologi tidak menentukan berakhirnya erupsi berdasarkan tanggal tertentu. Mereka justru membaca berbagai perubahan yang terjadi di dalam dan di sekitar tubuh gunung api melalui instrumen pemantauan.

"Yang bisa dilakukan oleh para ahli vulkanologi bukanlah menebak tanggal, melainkan membaca pola," kata Daryono, dikutip dari pernyataan resminya di X, Selasa (8/9/2026).

Lantas, apa saja tanda yang menunjukkan gunung api mulai kehilangan tenaga dan bergerak menuju akhir fase erupsi? Simak informasi selengkapnya hanya di artikel ini.

3 Tanda Gunung Anak Krakatau Akan Berhenti Erupsi

1. Gempa Dalam Mulai Berkurang

Salah satu indikator penting adalah perubahan aktivitas kegempaan di bawah gunung.

Gunung api yang masih mendapatkan pasokan magma dari kedalaman dapat menunjukkan aktivitas gempa akibat pergerakan magma dan fluida di dalam sistem vulkanik.

Menurut Daryono, salah satu tanda yang dapat diperhatikan ketika pasokan magma mulai berkurang adalah hilangnya atau menurunnya gempa dalam di bawah gunung.

Namun, penurunan gempa tidak boleh langsung dimaknai sebagai gunung api sudah aman atau erupsi telah berakhir.

Para ahli perlu melihat kecenderungan data tersebut secara terus-menerus untuk mengetahui apakah penurunan memang konsisten atau hanya bagian dari fluktuasi aktivitas.

Dalam pemantauan gunung api, perubahan kegempaan memang menjadi salah satu parameter penting untuk membaca dinamika magma di bawah permukaan. PVMBG menggunakan pemantauan instrumental tersebut bersama parameter lainnya dalam mengevaluasi aktivitas gunung api.

2. Aktivitas Gas Vulkanik Menurun

Tanda berikutnya berkaitan dengan gas yang berasal dari sistem magma.

Daryono menjelaskan, menurunnya secara drastis bau gas yang menyengat dapat menjadi salah satu petunjuk bahwa pasokan magma mulai melemah.

Magma tidak hanya membawa material cair dan panas, tetapi juga mengandung gas. Ketika sistem magmatik masih aktif dan magma terus bergerak menuju permukaan, pelepasan gas dapat menjadi bagian dari aktivitas gunung api.

Sebaliknya, ketika suplai magma dan gas dari kedalaman mulai berkurang, aktivitas degassing juga dapat mengalami perubahan.

Namun, seperti halnya gempa, perubahan gas harus dibaca bersama parameter lainnya. Penurunan satu indikator saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa gunung api sudah sepenuhnya berhenti erupsi.

Sebagai contoh, evaluasi Badan Geologi terhadap Gunung Marapi sebelumnya juga menggunakan data emisi gas SO2 bersama data deformasi dan kegempaan untuk menilai perkembangan aktivitas gunung api.

3. Tubuh Gunung Mengalami Deflasi

Tanda ketiga yang disebut Daryono adalah deflasi atau pengempisan tubuh gunung.

Ketika magma dan tekanan fluida bertambah di bawah permukaan, tubuh gunung dapat mengalami perubahan bentuk atau deformasi. Sebaliknya, ketika tekanan di dalam sistem vulkanik berkurang, tubuh gunung dapat mengalami pengempisan.

Perubahan tersebut tidak selalu dapat dilihat dengan mata. Karena itu, ahli menggunakan berbagai instrumen untuk mengukur deformasi tubuh gunung.

Deflasi menjadi salah satu parameter penting karena memberikan gambaran mengenai perubahan tekanan di dalam sistem gunung api.

Namun, sama seperti dua indikator sebelumnya, deflasi juga tidak boleh dibaca secara terpisah. Para ahli perlu melihat pola kegempaan, gas, deformasi, dan kondisi visual gunung secara bersama-sama untuk mengetahui apakah aktivitas memang sedang menuju fase akhir.

Kapan Gunung Api Benar-Benar Berhenti Erupsi?

Menurut Daryono, sebuah fase erupsi baru benar-benar menuju akhir ketika pasokan magma segar dari kedalaman berhenti dan tekanan di dalam sistem magma kembali tenang.

Ketika dorongan magma melemah, magma yang berada di dalam saluran gunung api dapat mendingin dan mengeras. Pada akhirnya, saluran tersebut dapat tersumbat oleh material yang membeku sehingga gunung api tidak lagi mampu menyemburkan material ke permukaan.

Masalahnya, para ilmuwan belum bisa mengukur secara persis berapa banyak magma yang masih tersimpan jauh di bawah permukaan.

Itulah sebabnya waktu berakhirnya erupsi tidak dapat ditentukan secara pasti hingga hitungan jam, tanggal, atau bulan. Yang dapat dilakukan adalah membaca kecenderungan.

Jika aktivitas gempa dalam terus menurun, emisi gas menunjukkan penurunan, dan tubuh gunung mengalami deflasi secara konsisten, rangkaian data tersebut dapat menjadi petunjuk bahwa sistem vulkanik mulai kehilangan energi dan bergerak menuju fase yang lebih tenang.

Meski demikian, keputusan mengenai status dan rekomendasi keselamatan tetap mengacu pada hasil pemantauan serta evaluasi lembaga berwenang seperti PVMBG.

Dengan kata lain, gunung api yang terlihat tenang belum tentu benar-benar selesai erupsi. Para ahli harus memastikan bahwa penurunan aktivitas tersebut merupakan sebuah pola yang konsisten, bukan sekadar jeda sementara sebelum aktivitas kembali meningkat.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut