Bagaimana Jika Internet Tiba-Tiba Putus saat Operasi Jarak Jauh Dilakukan? Ini Jawabannya!
JAKARTA, iNews.id - Apa yang terjadi jika koneksi internet tiba-tiba terputus ketika dokter sedang melakukan operasi menggunakan robot dari jarak jauh? Pertanyaan ini menjadi penting setelah RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) melakukan bedah ginekologi jarak jauh pertama di Indonesia.
Prosedur tersebut dilakukan pada 6 September 2026 dari Kamar Operasi RSCM Kencana, Jakarta, dan ditampilkan secara langsung dalam APAGE 26th Annual Meeting yang digelar bersama IGES 13th Annual Meeting di Jimbaran Convention Center, Bali.
Jarak antara Jakarta dan lokasi kegiatan di Bali mencapai lebih dari 1.000 kilometer. Teknologi tele-robotic surgery memungkinkan tindakan bedah dilakukan dengan dukungan sistem robotik dan konektivitas jaringan.
Lantas, bagaimana jika internet tiba-tiba putus ketika operasi berlangsung? Ketahui jawabannya hanya di artikel ini.
Dalam tele-robotic surgery, jaringan komunikasi memiliki fungsi jauh lebih penting dibandingkan internet untuk komunikasi biasa.
Sistem harus mengirimkan berbagai data secara cepat antara sistem kendali dan perangkat robotik, termasuk perintah gerakan serta tampilan visual dari area operasi. Karena itu, kualitas jaringan menjadi salah satu komponen penting dalam keselamatan prosedur.
Gangguan seperti keterlambatan transmisi (latency), ketidakstabilan koneksi (jitter), atau hilangnya paket data (packet loss) dapat mengganggu visualisasi maupun kendali instrumen.
Pedoman teknis telesurgery bahkan menempatkan jaringan dengan keandalan tinggi, latensi rendah, minim kehilangan paket, dan pemantauan kondisi jaringan secara real time sebagai bagian penting dari sistem keselamatan.
Artinya, internet biasa tidak bisa begitu saja diperlakukan sebagai jaringan untuk operasi.
Jawabannya bergantung pada desain sistem robotik dan mekanisme keselamatan yang digunakan.
Sistem teleoperasi medis dirancang dengan mekanisme fail-safe untuk menghadapi gangguan komunikasi. Salah satu prinsip utamanya adalah mencegah gangguan jaringan berubah menjadi gerakan robot yang tidak terkendali.
Pedoman teknis remote robotic-assisted surgery merekomendasikan adanya mekanisme keselamatan untuk melindungi pasien ketika terjadi gangguan atau kegagalan sistem. Sistem juga perlu mampu mendeteksi kondisi koneksi, memberi peringatan, dan menangani terputusnya sesi komunikasi secara aman.
Jadi, ketika koneksi mengalami masalah, persoalannya bukan sekadar dokter kehilangan gambar di layar. Sistem harus memastikan perintah terakhir tidak berubah menjadi gerakan yang membahayakan pasien.
Koneksi yang benar-benar terputus bukan satu-satunya masalah. Penurunan kualitas jaringan secara bertahap juga dapat menjadi risiko. Misalnya, gambar dari kamera operasi terlambat, kualitas video menurun, atau perintah dokter membutuhkan waktu lebih lama untuk diterima robot.
Kondisi tersebut berkaitan dengan latency. Dalam telesurgery, jeda transmisi dapat memengaruhi koordinasi antara gerakan dokter, tampilan visual, dan respons instrumen. Kajian mengenai telesurgery menyebut latensi sebagai salah satu tantangan utama yang harus dikendalikan untuk menjaga presisi dan keselamatan tindakan.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa jaringan dengan kondisi yang tidak optimal dapat menyebabkan penurunan kualitas video akibat packet loss, yang pada akhirnya dapat memengaruhi performa dokter saat menjalankan tugas robotik.
Karena itu, sistem telesurgery perlu memantau kondisi jaringan secara terus-menerus, bukan baru bertindak ketika koneksi sudah benar-benar hilang.
Inilah alasan mengapa operasi robotik jarak jauh membutuhkan persiapan jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar menyediakan koneksi internet berkecepatan tinggi.
Pedoman teknis telesurgery menekankan pentingnya keandalan jaringan, sistem redundansi, mekanisme fail-safe, pemantauan kondisi koneksi, serta kemampuan sistem untuk menangani gangguan dan membangun kembali koneksi setelah terjadi timeout.
Dengan kata lain, skenario terburuk harus dipikirkan sebelum operasi dimulai.
Tim medis juga tetap memiliki peran penting di lokasi pasien. Teknologi robotik tidak membuat keberadaan tenaga kesehatan menjadi tidak diperlukan. Keselamatan pasien tetap membutuhkan kesiapan tim klinis dan fasilitas yang mampu menangani kondisi apabila prosedur teleoperasi harus dihentikan atau dialihkan.
Dalam prosedur bedah ginekologi jarak jauh yang dilakukan RSCM, Dr. dr. Herbert Situmorang, Sp.OG, Subsp.F.E.R, mengatakan teknologi yang digunakan telah memenuhi persyaratan untuk mendukung pembedahan jarak jauh secara aman.
"Pembedahan robotik ini merupakan operasi ginekologi jarak jauh pertama yang dikerjakan di Indonesia. Teknologi sistem robotik dan konektivitas internet yang digunakan telah memenuhi persyaratan untuk mendukung pelaksanaan pembedahan jarak jauh secara aman," ujar dr Herbert saat ditemui di RSCM Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Keberhasilan tersebut menjadi bagian dari pengembangan bedah minimal invasif dan robotik di RSCM. Rumah sakit tersebut sebelumnya telah mengembangkan tele-robotic surgery di bidang urologi dan pada 2024 melakukan tele-robotic surgery pertama di bidang tersebut.
Pengembangan teknologi ini membuka peluang baru dalam mengatasi batas geografis pelayanan kesehatan. Namun, semakin jauh sebuah prosedur bergantung pada konektivitas digital, semakin penting pula kesiapan teknologi, sistem keselamatan, dan tenaga medis yang mendukungnya.
Jadi, jika internet tiba-tiba putus saat telesurgery, bukan berarti robot otomatis terus melakukan operasi tanpa kendali. Sistem keselamatan dan protokol khusus harus dirancang agar gangguan komunikasi tidak berubah menjadi risiko bagi pasien.
Inilah salah satu tantangan terbesar sebelum teknologi operasi jarak jauh bisa digunakan secara lebih luas: bukan hanya bagaimana dokter bisa mengendalikan robot dari jauh, tetapi juga bagaimana sistem memastikan pasien tetap aman ketika jaringan tidak berjalan sempurna.
Editor: Muhammad Sukardi