Claude Science Jadi Andalan Riset Medis, Begini Cara AI Anthropic Bantu Ilmuwan
JAKARTA, iNews.id – Kecerdasan buatan (AI) kini tidak hanya digunakan untuk menjawab pertanyaan, merangkum dokumen, atau membantu menulis. Teknologi ini juga mulai dimanfaatkan untuk mendukung penelitian ilmiah yang kompleks, termasuk upaya menemukan obat baru.
Salah satu teknologi yang akan digunakan dalam pengembangan riset tersebut adalah Claude Science dari Anthropic. Perusahaan farmasi Novo Nordisk mengumumkan kolaborasi dengan Anthropic pada 7 Oktober 2026 untuk memanfaatkan teknologi AI dalam memperkuat penelitian dan pengembangan obat.
Melalui kerja sama ini, Novo akan menguji Claude Science pada alur kerja tertentu dalam kegiatan penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D). Pengujian tersebut akan berfokus pada persoalan ilmiah yang dinilai dapat ditangani lebih efektif melalui kolaborasi antara ilmuwan dan teknologi AI.
Langkah ini menunjukkan bagaimana model AI mulai diarahkan untuk membantu pekerjaan yang membutuhkan penalaran ilmiah, bukan sekadar menghasilkan teks berdasarkan perintah pengguna.
Claude merupakan keluarga model AI yang dikembangkan Anthropic. Teknologi ini dirancang untuk membantu pengguna mengerjakan berbagai tugas, mulai dari memahami informasi hingga mendukung pekerjaan yang membutuhkan analisis dan penalaran.
Dalam kolaborasi dengan Novo Nordisk, Claude Science menjadi salah satu teknologi yang akan diuji untuk mendukung kegiatan penelitian ilmiah.
Berdasarkan pengumuman kedua perusahaan, fokus penggunaannya mencakup penalaran biologis atau biological reasoning, yakni proses menganalisis dan memahami hubungan dalam sistem biologis. Kemampuan tersebut relevan dalam penelitian medis, misalnya ketika ilmuwan berusaha memahami mekanisme suatu penyakit atau mengevaluasi kemungkinan cara kerja kandidat obat.
Dengan dukungan AI, peneliti berpotensi memperoleh bantuan untuk menelaah informasi ilmiah, mengidentifikasi hubungan yang relevan, dan mengeksplorasi hipotesis yang dapat diteliti lebih lanjut.
Meski demikian, Claude Science tidak serta-merta dapat menemukan obat yang aman dan efektif secara mandiri. Hasil analisis AI tetap perlu diperiksa oleh ilmuwan, kemudian dibuktikan melalui eksperimen dan tahapan pengujian yang sesuai.
Dalam pengumuman kolaborasi tersebut, Novo Nordisk menyebut akan bekerja sama dengan Anthropic untuk mengatasi sejumlah tantangan dalam proses penemuan obat yang telah diidentifikasi oleh para ilmuwan dan tim komputasinya.
Kedua perusahaan juga akan mengembangkan solusi untuk menjawab tantangan ilmiah dan memperbaiki alur kerja penelitian. Tujuannya adalah mendukung penalaran biologis sekaligus membantu mempercepat proses penemuan dan pengembangan obat.
Presiden dan CEO Novo Nordisk, Mike Doustdar, mengatakan AI berpotensi meningkatkan produktivitas penelitian dan pengembangan serta membantu ilmuwan memahami biologi manusia dan mekanisme kerja obat dengan lebih baik.
"AI dapat membantu kami meningkatkan produktivitas R&D dan mempersingkat proses dari penelitian hingga produk dipasarkan," ungkap Mike Doustdar dalam keterangannya, Minggu (11/10/2026).
Ya, bagi Novo Nordisk, pemanfaatan AI tidak hanya berkaitan dengan efisiensi waktu, tetapi juga membuka peluang ilmiah baru yang sebelumnya lebih sulit dieksplorasi.
Namun, perusahaan belum menyebutkan obat tertentu yang akan dihasilkan melalui kolaborasi tersebut ataupun memastikan berapa lama waktu penelitian yang dapat dipangkas. Karena itu, dampak nyata Claude Science terhadap pengembangan obat masih perlu dilihat dari hasil penerapannya.
CEO sekaligus salah satu pendiri Anthropic, Dario Amodei, menilai perkembangan AI berpotensi mendorong kemajuan besar dalam ilmu biologi dan kedokteran.
"Dengan kemampuan AI yang terus meningkat, terobosan di bidang biologi dan medis yang biasanya dicapai dalam satu abad, berpotensi dapat terwujud hanya dalam satu dekade," ujar Dario Amodei.
Dia juga mengatakan akses bagi para peneliti terhadap model AI yang mutakhir, aman, dan terpercaya dapat membantu mempersingkat waktu penelitian serta meningkatkan hasilnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan optimisme Anthropic terhadap peran AI dalam penelitian ilmiah. Namun, percepatan terobosan medis dalam rentang waktu tertentu masih merupakan proyeksi, bukan kepastian bahwa seluruh proses penemuan obat akan berlangsung lebih singkat.
Selain mendukung penelitian medis, Novo Nordisk juga akan menggunakan model AI Anthropic untuk memperkuat pengembangan perangkat lunak. Upaya ini menjadi bagian dari rencana perusahaan memperluas pemanfaatan AI di berbagai lini operasional.
Kedua perusahaan menyatakan kolaborasi tersebut akan dilengkapi tata kelola data yang kuat dan pengawasan manusia (human oversight) agar pemanfaatan AI tetap sesuai dengan standar etika dan kepatuhan.
Penerapan Claude Science di lingkungan penelitian medis pun akan menjadi salah satu contoh bagaimana AI dikembangkan untuk membantu pekerjaan ilmiah yang membutuhkan ketelitian tinggi. Keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan model dalam menganalisis informasi, tetapi juga oleh validasi ilmiah, kualitas data, dan pengawasan manusia terhadap hasil yang dihasilkan.
Editor: Muhammad Sukardi