DART, Cara NASA Cegah Asteroid Berbahaya Hantam Bumi
JAKARTA, iNews.id - NASA berencana meluncurkan misi untuk melindungi Bumi dari asteroid berbahaya. Disebut Double Asteroid Redirection Test (DART), misi akan diluncurkan pada 22 Juli 2021 dengan roket Falcon 9.
Dilansir laman National Geographic, Rabu (29/4/2020) langkah pertama NASA untuk menghentikan asteroid berbahaya menghantam Bumi adalah dengan menemukan benda langit tersebut. Mengingat, ada banyak asteroid di luar sana.
“Ada ratusan ribu asteroid di luar sana, dan kami ingin memisahkan asteroid yang harus kami awasi lebih dekat dan memantau dari waku ke waktu,” kata pejabat pertahanan NASA Lindley Johnson.
Johnson mengatakan sejauh ini terdapat 2.078 asteroid berpotensi berbahaya yang telah terdeteksi. NASA mengklasifikasikan asteroid yang berbahaya memiliki diameter lebih dari 140 meter dan melewati Bumi dalam jarak lima juta mil.
“Lima juta mil berasal dari beberapa banyak orbit yang dapat berubah dari waktu ke waktu,” ujar Johnson.
Lebih lanjut, misi DART yang akan diluncurkan tahun depan akan mendekati asteroid Didymos yang memiliki lebar setengah mil yang mengorbit Bulan selebar 500 kaki. Kemudian, DART tang memiliki bobot 500 kg direncanakan menabrak asteroid.
DART menampung muatan ilmiah selain sensor Matahari, pelacak bintang, dan kamera aperture 20 cm untuk mendukung navigasi otonom yang berdampak pada bulan asteroid kecil di pusatnya. Diharapkan dengan terjadinya tabrakan tersebut ada perubahan kecepatan pada urutan 0,4 mm/s, yang mengarah pada perubahan kecil dalam lintasan sistem asteroid.
Akan tetapi seiring waktu, hal tersebut mengarah pada pergeseran jalur yang besar. Secara keseluruhan, DART diperkirakan akan mengubah kecepatan orbit Didymos B sekitar setengah milimeter per detik, menghasilkan perubahan periode orbital sekitar 10 menit.
Dalam rentang jutaan kilometer, perubahan lintasan kumulatif akan mengubah tabrakan dengan asteroid yang benar-benar terikat Bumi atau komet menjadi hasil yang aman. Perubahan kecepatan aktual dan pergeseran orbital akan diukur beberapa tahun kemudian oleh pesawat ruang angkasa kecil bernama Herayang, melakukan pengintaian dan penilaian terperinci.
Editor: Dini Listiyani