ESA Kerja Sama dengan Airbus dan Voyager Space, Amankan Tempat untuk Suksesor ISS
JAKARTA, iNews.id - Badan antariksa Eropa (ESA) menandatangani kesepakatan dengan Airbus dan Voyager Space. Kesepakatan itu dibuat untuk mengamankan rumah berikutnya di orbit.
Airbus dan Voyager Space sedang mengembangkan Starlab, salah satu dari beberapa rencana pengganti International Space Station (ISS) yang akan pensiun pada 2030.
Berdasarkan perjanjian tersebut, ESA akan menilai bagaimana stasiun luar angkasa Starlab dapat digunakan untuk menyediakan akses berkelanjutan ke luar angkasa bagi Eropa setelah ISS dihentikan. Mengingat, ESA akan menggunakan Starlab untuk misi astronot dan penelitian berbasis luar angkasa.
ESA juga berpotensi menyediakan layanan transportasi kargo dan awak untuk stasiun luar angkasa baru. “ESA mengapresiasi inisiatif industri transatlantik untuk stasiun luar angkasa komersial Starlab, dan potensi kuatnya jejak Eropa yang dimilikinya untuk memberikan kontribusi signifikan bagi industri dan kelembagaan Eropa, dan penggunaan stasiun tersebut,” kata Director General ESA Josef Aschbacher.
Starlab salah satu dari beberapa proyek yang bersaing untuk menggantikan ISS. Penantang utamanya adalah Blue Origin milik Jeff Bezos, yang memimpikan “taman bisnis serba guna” bernama Orbital Reef, dan Northrop Grumman, yang ingin membangun stasiun luar angkasa modular.
NASA telah menyediakan dana untuk ketiga konsep tersebut dan sekarang akan menentukan pesaing mana yang layak mendapat dukungan lebih lanjut, sebagaimana dikutip dari The Next Web.
Starlab saat ini merupakan pilihan paling menarik bagi Eropa. Karena, kemitraannya dengan raksasa kedirgantaraan Perancis, Airbus, yang memiliki rekam jejak dalam mendukung misi luar angkasa Eropa.
Airbus baru-baru ini memasok modul layanan Eropa untuk Orion, kontribusi Eropa pada misi Artemis NASA ke Bulan. Melibatkan Airbus tidak hanya membantu pengembangan teknis Starlab, kata Presiden Voyager Space Matthew, tapi juga pengembangan bisnisnya.
“Kami memiliki hubungan baik dengan ESA, tapi yang jelas Airbus memiliki hubungan yang jauh lebih baik,” katanya.
Editor: Dini Listiyani