Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Dokter Indonesia Ciptakan AI yang Bisa Cegah Pasien Gagal Jantung Bolak-balik Masuk RS
Advertisement . Scroll to see content

Inovasi Anak Bangsa! Kini Ada AI Buatan Dokter RI untuk Deteksi Gagal Jantung

Selasa, 14 Juli 2026 - 17:54:00 WIB
Inovasi Anak Bangsa! Kini Ada AI Buatan Dokter RI untuk Deteksi Gagal Jantung
Teknologi AI kesehatan. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini tak hanya dimanfaatkan di sektor industri, tetapi juga mulai menghadirkan terobosan di bidang kesehatan. Salah satu inovasi terbaru datang dari Indonesia, di mana dokter spesialis jantung berhasil mengembangkan teknologi AI yang mampu mendeteksi dini kondisi pasien gagal jantung melalui analisis suara paru-paru.

Inovasi tersebut dikembangkan oleh Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Primaya Hospital Tangerang dr. Rony M. Santoso, SpJP, SubSp.K.I(K), SubSp.Vas(K), FIHA. Teknologi ini dirancang untuk membantu tenaga medis mengenali penumpukan cairan di paru-paru yang kerap luput terdeteksi saat pemeriksaan menggunakan stetoskop konvensional.

Menurut dr. Rony, keterbatasan pendengaran manusia menjadi salah satu tantangan dalam mendeteksi kongesti atau penumpukan cairan di paru-paru. Padahal, kondisi tersebut merupakan salah satu penyebab utama pasien gagal jantung harus kembali menjalani perawatan di rumah sakit setelah dipulangkan.

Dokter ciptakan alat AI. (Foto: Mei Sada Sirait)
Dokter ciptakan alat AI. (Foto: Mei Sada Sirait)

"Setelah kami lihat, salah satu faktor pencetus daripada rehospitalisasi atau rawat berulang, itu adalah kondisi di mana di dalam paru-parunya itu masih ada cairan atau kongesti yang subklinis," ujar dr. Rony, Selasa (14/7/2026).

Dia menjelaskan, cairan yang masih tersisa di paru sering kali tidak terdengar melalui stetoskop biasa sehingga dokter berpotensi menganggap kondisi pasien sudah stabil.

"Dokternya tidak mengetahui. Jadi alat dengan stetoskopnya tidak mendengarkan adanya cairan di dalam paru tersebut," katanya.

Berangkat dari permasalahan itu, AI yang dikembangkan bekerja dengan menganalisis suara paru-paru pasien menggunakan algoritma pembelajaran mesin. Sistem tersebut dapat mengenali pola suara yang mengindikasikan masih adanya cairan di paru, sehingga membantu dokter mengambil keputusan medis dengan lebih akurat.

"Kami mencoba membuat alat yang bisa membantu dokter. Yang bisa membedakan, ini loh masih ada air, ini loh masih ada cairan. Sehingga pasien yang kami periksa kalau dia positif artinya jangan dipulangin dulu," jelas dr. Rony.

Menariknya, teknologi ini tidak hanya dirancang untuk digunakan di rumah sakit. Ke depan, AI tersebut juga dapat dimanfaatkan pasien secara mandiri melalui stetoskop portabel yang terhubung dengan aplikasi di ponsel pintar.

"Nanti di gadget ada aplikasi, alatnya disambungkan, kemudian pasien bisa mendengarkan sendiri. Kalau hasilnya positif, pasien bisa segera ke rumah sakit," ungkapnya.

Seluruh hasil pemeriksaan nantinya akan dikirim ke sistem cloud sehingga dokter dapat memantau kondisi pasien secara real time dari jarak jauh. Konsep ini menjadi bagian dari pengembangan layanan telemedicine dan home-based monitoring yang memungkinkan pasien memperoleh pengawasan medis tanpa harus sering datang ke rumah sakit.

Selain meningkatkan akurasi deteksi dini gagal jantung, pemanfaatan AI ini juga diharapkan dapat mengurangi angka rawat ulang pasien, menghemat biaya pengobatan, sekaligus meningkatkan kualitas hidup penderita penyakit jantung.

"Pengobatan yang bisa dikerjakan sendiri oleh pasien di rumah. Tidak bolak-balik ke rumah sakit, tidak antre BPJS berjam-jam, itu yang ingin kami bantu," tutup dr. Rony.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut