Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Fenomena Gerhana Bulan Blood Moon Hiasi Langit Indonesia
Advertisement . Scroll to see content

Jangan Lewatkan! Konjungsi Saturnus dan Bulan akan Hiasi Langit, Ini Waktu Terbaik Mengamatinya

Selasa, 07 Juli 2026 - 17:07:00 WIB
Jangan Lewatkan! Konjungsi Saturnus dan Bulan akan Hiasi Langit, Ini Waktu Terbaik Mengamatinya
Fenomena konjungsi Saturnus dan Bulan akan menghiasi langit pada Rabu, 8 Juli 2026. (Ilustrasi/Chat GPT)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Fenomena konjungsi Saturnus dan Bulan akan menghiasi langit pada Rabu, 8 Juli 2026. Peristiwa astronomi ini dapat disaksikan dengan mata telanjang selama kondisi cuaca cerah dan langit bebas dari tutupan awan. 

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Izatul Hafizah menjelaskan, konjungsi merupakan fenomena alam yang dapat diprediksi secara ilmiah dan tidak berkaitan dengan perubahan cuaca, gempa bumi, maupun dampak langsung terhadap kehidupan manusia. 

Dalam astronomi, konjungsi adalah peristiwa ketika dua benda langit tampak berada sangat berdekatan jika diamati dari Bumi. Kedekatan tersebut hanyalah efek perspektif karena kedua benda memiliki bujur ekliptika yang hampir sama, bukan karena benar-benar saling mendekat di ruang angkasa.

"Walaupun terlihat berdekatan di langit, Bulan dan Saturnus sebenarnya dipisahkan oleh jarak yang sangat besar. Bulan berada sekitar 384 ribu kilometer dari Bumi, sedangkan Saturnus berjarak lebih dari satu miliar kilometer. Jadi, konjungsi hanya merupakan efek sudut pandang pengamat di Bumi," kata Izatul Hafizah.

Untuk menikmati fenomena tersebut, masyarakat tidak memerlukan teleskop. Bulan akan tampak sebagai objek yang sangat terang, sementara Saturnus terlihat seperti titik cahaya berwarna kekuningan. Namun, penggunaan binokular atau teleskop akan memberikan pengalaman observasi yang lebih baik karena cincin Saturnus dapat terlihat lebih jelas.

Fenomena ini bisa diamati sejak sekitar pukul 23.40 WIB saat Bulan mulai terbit, kemudian Saturnus menyusul sekitar pukul 23.45 WIB. Keduanya akan terlihat berdekatan sepanjang dini hari hingga menjelang Matahari terbit sekitar pukul 05.52 WIB.

"Waktu terbaik untuk mengamatinya adalah setelah keduanya sudah cukup tinggi di langit, sekitar pukul 01.00–05.00 WIB," katanya.

Izatul menjelaskan, konjungsi Saturnus dan Bulan terjadi sebagai konsekuensi alami dari gerak orbit benda-benda langit. Seluruh planet di Tata Surya mengelilingi Matahari pada bidang orbit yang hampir sama, yaitu bidang ekliptika. 

Di sisi lain, Bulan mengelilingi Bumi setiap sekitar 27,3 hari sehingga secara berkala melintasi posisi Saturnus di langit dari sudut pandang pengamat di Bumi.

Dia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengaitkan fenomena tersebut dengan berbagai isu yang tidak memiliki dasar ilmiah. Menurutnya, hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa konjungsi Saturnus dan Bulan dapat memengaruhi kondisi cuaca, memicu gempa bumi, maupun memberikan dampak langsung terhadap kehidupan manusia.

"Cuaca dipengaruhi oleh dinamika atmosfer seperti pemanasan Matahari, sirkulasi udara, kandungan uap air, serta fenomena iklim. Sementara itu, gempa bumi terjadi akibat pergerakan lempeng tektonik. Posisi tampak Saturnus dan Bulan di langit tidak memengaruhi kedua proses tersebut," ujarnya.

Masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan fenomena ini sebagai sarana untuk meningkatkan literasi astronomi dan memahami berbagai fenomena langit dapat dijelaskan melalui prinsip-prinsip sains. 

Dia menilai konjungsi Saturnus dan Bulan merupakan momentum yang tepat untuk menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus memperkuat pemahaman publik terhadap ilmu pengetahuan.

Editor: Maria Christina

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut