Jatuh Cinta Picu Perasaan Aman dan Bahagia, Ini Penjelasan Sainsnya

Dini Listiyani ยท Kamis, 14 Februari 2019 - 05:45 WIB
Jatuh Cinta Picu Perasaan Aman dan Bahagia, Ini Penjelasan Sainsnya

Ilustrasi cinta (Foto: Free-Photos/ Pixabay)

JAKARTA, iNews.id - Kebanyakan orang jatuh cinta selalu merasa bahagia dan aman saat bersama pasangan. Perubahan emosional ini sebenarnya bisa dijelaskan secara sains.

Jatuh cinta bisa membuat Anda merasa aman dan mengembangkan kepercayaan terhadap orang yang Anda cintai. Oxytocin, hormon yang dilepaskan melalui kontak fisik seperti memeluk, menurut laporan Harvard Medical School, bisa memperdalam perasaan keterikatan pada pasangan Anda dan menghasilkan sensasi kepuasan, ketenangan, dan keamanan.

Selain itu, Oxytocin juga berperan dalam ikatan insosial, naluri, dan reproduksi. 'Hormon Cinta' secara substansial meningkatkan ketertarikan sosial dan kepercayaan di antara pasangan, sebagaimana dijelaskan dalam penelitian yang diterbutkan dalam Nature dan dilansir Business Insider, Kamis (13/2/2019).

Jatuh cinta tidak hanya membuat orang merasa aman, tapi juga bahagia. Pasalnya, jatuh cinta melepaskan dopamine, neurotransmitter yang mengontrol pusat penghargaan dan kesenangan otak, yang membuat pasangan merasa bahagia satu sama lain.

Pada 2005, studi yang dipublikasikan di The Journal of Comparative Neurologys memindai 2.500 gambar otak dari 17 orang yang mengidentifikasi diri jatuh cinta. Para peneliti menemukan, partisipan yang melihat foto seseorang yang mereka cintai menunjukkan aktivitas otak di dua area yang sangat terkait dengan dopamine yakni caudate nucleus dan ventral tegmental.

Hebatnya lagi, jatuh cinta terbukti ampuh untuk mengurangi rasa sakit meskipun sebagian besar dokter tidak akan merekomendasikan hanya mengandalkan cinta.

Sebuah studi 2010 yang diterbitkan dalam jurnal PLoS ONEtook fMRI memidai peserta yang sedang dalam romantic relationships. Para peneliti menemukan orang yang melihat gambar romantic relationship telah meningkatkan aktivitas di beberapa daerah pemrosesan di otak, menunjukkan cinta bisa mengurangi rasa sakit.

"Saat orang berada dalam fase cinta yang penuh gairah, ada perubahan signifikan dalam suasana hati mereka yang memengaruhi pengalaman rasa sakit," kata penulis senior penelitian ini Dr. Sean Mackey.

Editor : Dini Listiyani