Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : OJK Dorong Bank Lebih Tangguh, Digital, dan Produktif
Advertisement . Scroll to see content

Kantor yang Nyaman dan Estetik Bikin Karyawan Produktif? Ini Faktanya!

Jumat, 09 Oktober 2026 - 21:15:00 WIB
Kantor yang Nyaman dan Estetik Bikin Karyawan Produktif? Ini Faktanya!
Ilustrasi kantor yang nyaman. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Kantor dengan desain estetik, kursi ergonomis, pencahayaan yang nyaman, hingga sudut kerja yang Instagramable kerap menjadi impian banyak pekerja muda. Namun, benarkah kantor yang nyaman dan enak dipandang otomatis membuat karyawan lebih produktif?

Jawabannya, tidak sesederhana itu. Desain dan kenyamanan ruang kerja memang perlu diperhatikan, tetapi ada faktor lain yang tak kalah penting, mulai dari kebutuhan karyawan, pola kerja, budaya perusahaan, hingga kemudahan berkolaborasi.

Workspace atau ruang kerja bukan sekadar tempat untuk duduk di depan laptop selama delapan jam. Ruang tersebut juga menjadi tempat karyawan berdiskusi, bertukar ide, menyelesaikan pekerjaan, dan membangun hubungan dengan rekan satu tim.

DFL Conference 2026. (Foto: Istimewa)
DFL Conference 2026. (Foto: Istimewa)

Karena itu, kantor yang terlihat bagus belum tentu menjadi ruang kerja yang efektif apabila desainnya tidak sesuai dengan aktivitas orang-orang di dalamnya.

Design Director Studio Yruna, Fayruzka Juanita, menyoroti kebiasaan pembahasan workspace yang terlalu berfokus pada aspek fisik. Menurut dia, perencanaan ruang kerja seharusnya berangkat dari tujuan bisnis dan kebutuhan penggunanya.

"Dari layout, estetika, luas area, atau budget bukan dari business objectives, ways of working, kebutuhan user, dan kebutuhan organisasi ke depan," kata Fayruzka dalam Designed for Life (DFL) Conference 2026 di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, belum lama ini.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa tren desain kantor tidak seharusnya menjadi satu-satunya acuan perusahaan. Sebelum menentukan konsep interior, perusahaan perlu memahami bagaimana karyawan bekerja dan aktivitas apa saja yang perlu difasilitasi.

Kantor Estetik Belum Tentu Cocok untuk Semua Karyawan

Bayangkan bekerja di kantor dengan interior minimalis, sofa nyaman, tanaman hias, dan ruang terbuka yang terlihat menarik. Sekilas, suasananya memang menyenangkan.

Namun, bagaimana jika ruang tersebut terlalu bising untuk karyawan yang membutuhkan konsentrasi? Atau, bagaimana jika tim kesulitan berdiskusi karena tidak tersedia ruang yang memadai untuk bekerja bersama?

Situasi tersebut menunjukkan bahwa estetika perlu berjalan beriringan dengan fungsi. Ruang kerja yang baik perlu disesuaikan dengan jenis pekerjaan, kebutuhan konsentrasi, pola komunikasi, dan aktivitas penggunanya.

Managing Director DesignPartners Indonesia (DPI), Naila Djatnika, mengatakan workspace seharusnya tidak hanya dinilai berdasarkan tampilan fisik, tetapi juga dari nilai yang dihasilkan bagi manusia dan bisnis.

"Jadi seharusnya dilihat bagaimana workspace itu mendukung produktivitas, kolaborasi, employee experience, wellbeing, hingga business performance," ujarnya.

Artinya, kantor yang menarik secara visual bukan satu-satunya tolok ukur. Perusahaan juga perlu mempertimbangkan apakah ruang tersebut membantu karyawan menyelesaikan pekerjaan, memudahkan koordinasi, dan mendukung kebutuhan mereka selama bekerja.

Bukan Cuma Fasilitas, Budaya Kerja Juga Berpengaruh

Karyawan bisa saja bekerja di kantor dengan fasilitas lengkap. Namun, fasilitas tersebut tidak otomatis membuat pekerjaan lebih efektif jika komunikasi antartim berjalan sulit atau kebutuhan operasional tidak terakomodasi.

Head of People & Culture IDN, Audya Medina, menjelaskan bahwa nilai workspace dapat dilihat dari bagaimana ruang kerja mendukung aktivitas organisasi sehari-hari.

"Ketika karyawan dapat bekerja lebih efektif, tim berkolaborasi dengan lebih mudah, people tetap terhubung dengan culture, berbagai aktivitas kerja terfasilitasi, dan workspace mendukung kebutuhan operasional perusahaan," katanya.

Dari perspektif tersebut, pengalaman bekerja tidak hanya ditentukan oleh apa yang tersedia di dalam kantor, tetapi juga bagaimana ruang itu digunakan untuk menunjang interaksi dan budaya perusahaan.

Bagi pekerja muda, misalnya, ruang kolaborasi mungkin dibutuhkan ketika harus bertukar gagasan dengan tim. Sebaliknya, area yang lebih tenang dapat membantu ketika pekerjaan menuntut fokus tinggi.

Kebutuhan setiap karyawan tentu berbeda. Karena itu, perusahaan perlu memahami karakter pekerjaan dan kebiasaan tim sebelum menentukan desain ruang yang dianggap ideal.

Kantor Nyaman Perlu Mendukung Cara Kerja, Bukan Sekadar Tren

Tren interior kantor terus berkembang. Konsep ruang terbuka, area santai, hingga ruang kerja fleksibel kerap menjadi bagian dari desain kantor modern.

Namun, mengikuti tren belum tentu menjadi solusi jika konsep tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan karyawan. Kantor yang dirancang untuk mendukung kolaborasi, misalnya, tetap perlu mempertimbangkan aktivitas yang membutuhkan ketenangan dan konsentrasi.

Fayruzka menekankan pentingnya mempertimbangkan business objectives, cara kerja, serta kebutuhan pengguna dan organisasi sejak awal proses perencanaan workspace.

Dengan pendekatan tersebut, keputusan mengenai tata letak, luas ruang, dan anggaran tidak berdiri sendiri. Seluruh elemen perlu disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai perusahaan dan kebutuhan orang-orang yang menggunakan ruang tersebut.

Hal ini juga membuat evaluasi kantor sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan apakah desainnya menarik atau fasilitasnya lengkap. Perusahaan perlu melihat apakah ruang kerja benar-benar mendukung aktivitas sehari-hari.

Jadi, Apa yang Membuat Workspace Lebih Produktif?

President Director VIVERE, William Simiadi, menilai pembahasan mengenai workspace perlu melibatkan berbagai perspektif agar kebutuhan dan persoalan dalam industri dapat dipahami secara lebih menyeluruh.

"Bagi kami, ini (DFL) bukan sekadar event. Kami ingin membangun sebuah komunitas sebagai wadah yang mempertemukan berbagai perspektif dari industri dan menciptakan percakapan yang lebih luas mengenai workspace," ujar William.

Pandangan tersebut disampaikan dalam DFL Conference 2026 bertema The Connected Workspace: Built on Culture. Driven by People. Powered by Technology.
Konferensi ini membahas hubungan antara ruang kerja, budaya, manusia, teknologi, dan kebutuhan bisnis. Tiga pilar yang diangkat meliputi Workspace as an Ecosystem, Technology and Digital Integration, serta Business & Productivity.

Jika ditarik ke kehidupan sehari-hari, ada sejumlah hal yang perlu dipertimbangkan ketika menilai apakah kantor sudah mendukung produktivitas, yaitu kesesuaian ruang dengan jenis pekerjaan, kemudahan berkolaborasi, dukungan terhadap kebutuhan karyawan, serta keterhubungan dengan budaya perusahaan.

Jadi, benarkah kantor yang nyaman dan estetik bikin karyawan produktif? Kenyamanan dan desain yang menarik dapat menjadi bagian dari lingkungan kerja yang mendukung, tetapi keduanya bukan jaminan produktivitas meningkat.

Yang lebih penting, ruang kerja perlu dirancang sesuai kebutuhan orang-orang yang menggunakannya. Sebab, kantor yang terlihat keren belum tentu efektif jika tidak membantu karyawan bekerja dengan lebih baik.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut