Kenapa Abu Vulkanik Berbahaya? Cek Jawabannya di Sini!
JAKARTA, iNews.id — Sekilas, abu vulkanik terlihat tidak jauh berbeda dengan debu yang biasa menempel di jalan, kendaraan, atau teras rumah. Warnanya abu-abu, sangat halus, dan mudah beterbangan ketika terkena angin.
Namun, jangan buru-buru menganggapnya sebagai debu biasa. Ya, abu vulkanik merupakan material hasil erupsi gunung api yang tersusun dari pecahan batuan, mineral, dan material vulkanik berukuran sangat kecil. Karakter partikelnya bisa membuat mata perih, kulit mengalami iritasi, hingga mengganggu saluran pernapasan ketika terhirup.
Fenomena ini kembali menjadi perhatian setelah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menyebabkan sebaran abu vulkanik mencapai sejumlah wilayah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu (6/9/2026) mendeteksi dua klaster sebaran abu vulkanik. Salah satunya bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Klaster lainnya terpantau bergerak ke arah barat daya hingga barat laut dan mencakup sebagian Banten, Lampung, serta Bengkulu.
Lantas, apa sebenarnya abu vulkanik dan mengapa material ini bisa mengiritasi tubuh?
Hal pertama yang perlu diluruskan yaitu abu vulkanik bukan seperti abu kertas atau kayu yang tersisa setelah pembakaran.
Dalam dunia vulkanologi, abu vulkanik merupakan material padat yang terbentuk ketika magma dan batuan mengalami fragmentasi selama erupsi. Pecahan tersebut dapat berukuran sangat kecil dan kemudian terlontar ke atmosfer.
Karena ukurannya kecil, sebagian partikel dapat terbawa angin dalam jarak yang jauh.
Itulah sebabnya orang yang berada puluhan hingga ratusan kilometer dari gunung api masih mungkin menemukan lapisan abu di kendaraan, rumah atau lingkungan sekitarnya jika arah angin mendukung.
Pada erupsi Anak Krakatau kali ini, BMKG bahkan mendeteksi sebaran abu pada lapisan atmosfer hingga ketinggian sekitar 50.000 kaki.
Jadi, ketika seseorang menemukan lapisan abu tipis di halaman rumah, material tersebut bukan sekadar debu jalanan yang tertiup angin. Itu bisa merupakan partikel batuan dan mineral yang sebelumnya berada dalam sistem vulkanik.
Inilah bagian yang menarik. Jika dilihat dengan mata telanjang, abu vulkanik memang terlihat lembut seperti tepung atau bedak. Namun, bentuk partikelnya tidak selalu bulat dan halus.
Partikel abu vulkanik dapat memiliki permukaan yang kasar dan bentuk yang tidak beraturan. Karakter tersebut membuat abu vulkanik bersifat abrasif.
Sederhananya, partikel itu bisa bekerja seperti butiran sangat halus yang menggesek permukaan.
Karena itu, abu vulkanik bukan hanya berpotensi mengiritasi jaringan tubuh, tetapi juga dapat menggores permukaan tertentu.
Inilah alasan mengapa mobil yang tertutup abu tidak sebaiknya langsung dilap dalam kondisi kering. Partikel yang masih menempel dapat bergesekan dengan cat atau kaca.
Hal yang sama berlaku pada mata. Jika mata kemasukan abu lalu digosok, partikel abrasif tersebut dapat ikut bergesekan dengan permukaan kornea.
Mata merupakan salah satu organ yang paling cepat memberikan respons ketika terkena abu vulkanik.
Partikel abu yang masuk dapat membuat mata terasa seperti kemasukan benda asing. Mata bisa menjadi merah, berair, terasa gatal atau terbakar.
US Geological Survey (USGS) menjelaskan bahwa paparan abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi mata dan bahkan abrasi kornea dalam kondisi tertentu. Karena itu, ada satu kebiasaan yang justru perlu dihindari ketika mata terkena abu, mengucek mata.
Mengucek mungkin terasa seperti cara tercepat untuk mengeluarkan benda asing. Namun, jika masih ada partikel abrasif di permukaan mata, gesekan tersebut justru dapat meningkatkan risiko goresan.
Prinsip yang lebih aman adalah membilas mata dengan air bersih dan menghindari menggosoknya.
Ini bagian yang paling perlu diperhatikan. Tubuh sebenarnya memiliki sistem pertahanan alami untuk menyaring partikel dari udara.
Hidung, misalnya, dapat menangkap sebagian partikel yang masuk. Saluran pernapasan juga memiliki lendir dan mekanisme pembersihan untuk membantu mengeluarkan benda asing.
Masalahnya, abu vulkanik tidak seluruhnya terdiri dari partikel besar. Sebagian partikelnya berukuran sangat halus sehingga dapat masuk lebih jauh ke sistem pernapasan.
Penelitian yang dipublikasikan melalui USGS menunjukkan bahwa abu vulkanik dapat mengandung material yang dapat terhirup berukuran kurang dari 10 mikrometer. Pada ukuran tersebut, partikel sudah cukup kecil untuk menjadi perhatian dalam konteks kesehatan pernapasan.
Sebagai gambaran sederhana, satu mikrometer hanya setara dengan sepersejuta meter.
Artinya, sebagian abu yang terlihat seperti debu tipis di udara dapat berukuran jauh lebih kecil daripada yang bisa kita lihat secara kasatmata.
Karena semakin kecil sebuah partikel, semakin besar kemungkinan partikel tersebut melewati penyaringan alami di saluran pernapasan bagian atas.
Partikel berukuran besar cenderung lebih mudah tertahan di hidung atau tenggorokan. Sementara itu, partikel yang lebih halus dapat masuk lebih dalam ke saluran pernapasan.
Paparan abu dapat menimbulkan sejumlah keluhan, mulai dari batuk, hidung berair, tenggorokan terasa tidak nyaman hingga gangguan pernapasan pada kondisi tertentu.
Dinas Kesehatan Kota Tangerang juga mengingatkan bahwa paparan abu vulkanik dapat menyebabkan batuk, tenggorokan tidak nyaman, hidung berair, hingga sesak napas pada kondisi tertentu.
Namun, bukan berarti setiap orang yang menghirup abu akan langsung mengalami kerusakan paru-paru.
Dampaknya sangat dipengaruhi oleh konsentrasi abu, ukuran partikelnya, lama paparan, serta kondisi kesehatan orang yang terpapar.
Nama silika sering muncul ketika membahas bahaya abu vulkanik. Silika memang dapat ditemukan dalam material vulkanik. Tetapi ada satu hal penting yang perlu dipahami bahwa tidak semua silika memiliki risiko kesehatan yang sama.
Yang menjadi perhatian khusus dalam kesehatan paru adalah silika kristalin yang dapat terhirup.
Dalam penelitian mengenai abu vulkanik, kandungan silika kristalin dapat berbeda-beda tergantung karakter gunung api dan material yang terlibat dalam erupsi.
USGS, misalnya, menemukan bahwa sampel abu dari erupsi La Soufrière 2021 mengandung kurang dari 5 persen silika kristalin, tetapi tetap memiliki material yang dapat terhirup berukuran kurang dari 10 mikrometer. Peneliti menyimpulkan bahwa perhatian utama pada erupsi tersebut adalah potensi abu halus meningkatkan partikulat di udara dan dampaknya terhadap sistem pernapasan.
Artinya, tidak tepat mengatakan semua abu vulkanik otomatis menyebabkan silikosis.
Risikonya bergantung pada komposisi abu, konsentrasi paparan, ukuran partikel, dan durasi seseorang terpapar.
Bayangkan tenggorokan seperti permukaan yang sangat sensitif. Ketika partikel asing masuk, tubuh akan merespons dengan mekanisme pertahanan. Salah satunya adalah batuk.
Batuk sebenarnya merupakan mekanisme tubuh untuk mencoba mengeluarkan benda asing dari saluran pernapasan.
Itulah sebabnya seseorang yang terpapar abu vulkanik dapat tiba-tiba mengalami batuk atau tenggorokan terasa mengganjal.
Paparan yang lebih tinggi dapat menyebabkan gejala yang lebih berat, terutama pada orang yang memang sudah memiliki penyakit pernapasan.
Tidak semua orang menghadapi risiko yang sama. Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih antara lain:
USGS menyebut orang dengan penyakit pernapasan sebelumnya dapat mengalami perburukan gejala setelah terpapar abu vulkanik.
Karena itu, ketika terjadi hujan abu, kelompok rentan sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menghindari paparan sebanyak mungkin.
Bisa. Kulit memang lebih tahan dibandingkan jaringan mata dan saluran pernapasan, tetapi kontak dengan abu dapat menyebabkan iritasi pada sebagian orang.
Selain karakter fisiknya, sifat kimia abu juga dapat berperan. Komposisi abu vulkanik tidak selalu sama. Material yang keluar dari gunung api bergantung pada komposisi magma dan proses yang terjadi selama erupsi.
Karena itu, jangan menganggap semua abu vulkanik memiliki sifat kimia yang identik.
Prinsipnya sederhana, kurangi jumlah abu yang masuk ke tubuh. Jika hujan abu sedang terjadi, sebisa mungkin tetap berada di dalam ruangan. Tutup pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya partikel.
Jika harus keluar, gunakan pelindung pernapasan yang sesuai dan pastikan terpasang dengan benar.
Masyarakat juga perlu melindungi mata, terutama ketika konsentrasi abu di udara tinggi.
Untuk anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan, kehati-hatian perlu ditingkatkan.
Dan satu hal yang tak kalah penting, jangan panik. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga mengingatkan masyarakat agar tidak panik. Dia menyebut ada tiga aspek kesehatan yang perlu diperhatikan ketika menghadapi abu vulkanik, yakni pernapasan, mata, dan kulit.
Jawabannya bukan karena abu vulkanik merupakan racun yang otomatis membuat orang sakit.
Bahaya abu vulkanik muncul dari kombinasi beberapa faktor, ukuran partikelnya yang sangat kecil, bentuknya yang abrasif, kandungan mineralnya, konsentrasi di udara, serta lama seseorang terpapar.
Ketika masuk ke mata, partikelnya dapat menyebabkan iritasi dan berpotensi menggores kornea.
Ketika masuk ke saluran pernapasan, partikelnya dapat menyebabkan iritasi dan, jika ukurannya cukup kecil, masuk lebih dalam ke paru-paru.
Sementara ketika menempel di permukaan kendaraan, sifat abrasifnya dapat menyebabkan goresan jika langsung digosok.
Jadi, meski terlihat seperti lapisan debu tipis, abu vulkanik sebenarnya adalah hasil fragmentasi material gunung api yang memiliki karakter fisik dan kimia berbeda dari debu rumah tangga biasa.
Memahaminya membuat kita tahu bahwa menghadapi abu vulkanik tidak perlu dengan kepanikan, tetapi juga tidak boleh dengan menganggapnya remeh.
Yang paling penting adalah mengurangi paparan, melindungi saluran pernapasan dan mata, serta mengikuti informasi resmi selama aktivitas erupsi berlangsung.
Editor: Muhammad Sukardi