Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Heboh Pelajar SMK Bogor Kesurupan Massal saat Syuting Film di Rumah Kosong
Advertisement . Scroll to see content

Kesurupan Massal Bukan soal Mistis, Begini Penjelasannya dari Kacamata Sains 

Sabtu, 11 Juli 2026 - 12:19:00 WIB
Kesurupan Massal Bukan soal Mistis, Begini Penjelasannya dari Kacamata Sains 
Bukan soal mistis, fenomena kesurupan massal juga memiliki penjelasan ilmiah yang diakui dalam dunia psikologi modern. (Foto: Ilustrasi/AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id Kesurupan massal yang kerap terjadi di sekolah, pabrik, hingga fasilitas umum sering dikaitkan dengan hal-hal mistis. Padahal, fenomena kesurupan massal juga memiliki penjelasan ilmiah yang diakui dalam dunia psikologi modern.

Guru Besar MIPA UI, Profesor Agustino Zulys, mengungkapkan bahwa fenomena tersebut tidak bisa langsung disimpulkan sebagai gangguan makhluk halus ataupun gangguan kejiwaan semata. Menurutnya, sains menjelaskan kesurupan massal sebagai kondisi psikologis yang dipengaruhi berbagai faktor.

Dalam unggahan video di akun Instagramnya, Prof Zulys menjelaskan bahwa kondisi yang sering disebut kesurupan dikenal dalam psikologi sebagai Dissociative Trance Disorder. Gangguan ini ditandai dengan perubahan kesadaran, hilangnya kontrol sementara terhadap perilaku, hingga amnesia sesaat setelah seseorang kembali sadar.

Kondisi tersebut, umumnya muncul akibat tekanan psikologis yang berlangsung dalam waktu lama, seperti konflik batin, kecemasan, dan stres yang tidak tersalurkan.

"Penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengalami kesurupan patologis umumnya memiliki tekanan psikologis yang lama, konflik batin, kecemasan, serta mekanisme pertahanan diri yang akhirnya meledak dalam bentuk disosiasi," ujar Prof Zulys dikutip Sabtu (11/7/2026).

Mengapa Kesurupan Massal Bisa Menular?

Prof Zulys menjelaskan, salah satu alasan kesurupan massal sering terjadi di sekolah atau pabrik adalah adanya fenomena psikologis yang disebut social contagion atau penularan sosial.

Menurut dia, emosi seseorang dapat memengaruhi orang lain, terutama ketika berada dalam lingkungan yang memiliki tekanan dan kondisi psikologis yang sama.

"Ketika satu orang panik, orang lain ikut panik. Ketika satu orang histeris, otak kelompok menjadi sangat sugestif. Itulah sebabnya banyak kasus terjadi di sekolah atau pabrik yang anggotanya memiliki tekanan dan lingkungan yang sama," katanya.»

Penjelasan Sains dan Agama Tidak Perlu Dipertentangkan

Meski demikian, ProfnZulys menegaskan bahwa dalam ajaran Islam, keberadaan jin merupakan bagian dari keyakinan yang tertulis dalam Al-Qur'an. Namun, hal itu bukan berarti setiap kasus kesurupan harus langsung disimpulkan sebagai gangguan makhluk gaib tanpa upaya medis maupun psikologis.

Dia mengatakan Islam juga mengajarkan umatnya untuk berobat dan mencari sebab melalui ilmu pengetahuan. Di sisi lain, ikhtiar spiritual seperti rukyah dan membaca ayat suci Al-Qur'an tetap memiliki peran sebagai asy-syifa atau penenang hati.

Menurut Prof. Zulys, pendekatan ilmiah dan spiritual justru saling melengkapi dalam memahami fenomena kesurupan massal.

"Jadi, antara ikhtiar ilmiah dan ikhtiar spiritual tidak perlu dipertentangkan, justru saling melengkapi. Kalau semua kesurupan langsung dibilang jin, kita berhenti belajar. Kalau semua dibilang gangguan jiwa, kita juga berhenti memahami agama. Orang berilmu tidak memilih salah satu, ia mencari seluruh penjelasan yang ada," katanya.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut