Mars Kuno Banjir Selama Badai yang Berlangsung Ribuan Tahun
CALIFORNIA, iNews.id - Mars kuno diyakini memiliki badai di seluruh planet yang memenuhi danau dan sungai. Badai yang terjadi terkadang cukup untuk membanjiri permukaan Planet Merah.
Dengan menggunakan citra satelit dan topografi, tim mengamati daerah aliran sungai ‘paleolakes’ Mars. Tujuannya untuk menghitung berapa banyak curah hujan yang memenuhi dasar danau dan lembah sungai 3,5 miliar hingga 4 miliar tahun yang lalu.
Para peneliti menemukan ada antara 13 hingga 520 kaki curah hujan atau pencairan salju dalam satu peristiwa. Pada akhirnya, peristiwa tersebut menyebabkan banjir di seluruh Planet Merah.
Namun, sekarang tim sedang mengerjakan penentuan berapa lama satu episode berlangsung. Menurut mereka penentuan dalam berlangsung selama berhari-hari, bertahun-tahun atau bahkan ribuan tahun.
Iklim Mars kuno telah menjadi misteri bagi para astronom. Tapi, ahli geologi mengatakan, dasar sungai dan paleolakes menunjukkan, ada curah hujan yang signifikan di sini.
Menghitung jumlahnya rupanya menjadi tantangan tersendiri. Pasalnya, tidak ada cairan yang cukup lama untuk bisa dipelajari oleh para tim peneliti. Penulis utama Gaia Stucky de Quay, seorang rekan postdoctoral di Jackson School of Geosciences UT mengatakan, ini sangat penting karena 3,5 hingga 4 miliar tahun lalu Mars tertutup air.
“Banyak hujan atau pencairan salju untuk mengisi saluran dan danau itu. Sekarang benar-benar kering. Kami mencoba memahami berapa banyak air yang ada di sana dan ke mana semua itu pergi,” katanya yang dikutip dari Daily Mail, Sabtu (22/8/2020).
Peneliti mampu menghitung jumlahnya. Mereka memutuskan ada antara 13 hingga 520 kaki yang jatuh ke permukaan selama satu badai. Meski kisarannya besar, ini dapat digunakan untuk membantu memahami model iklim mana yang akurat.
“Ini adalah disonansi kognitif yang sangat besar,” kata Stucky de Quay.
Model iklim mengalami kesulitan dalam menghitung jumlah air cair pada waktu itu. Namun, ini adalah celah pengetahuan yang coba diisi oleh apa yang dikerjakan peneliti.
Tim memilih 96 danau cekungan terbuka dan tertutup, bersama dengan daerah aliran sungai mereka untuk penyelidikan. Mereka kemudian dapat mengukur danau, volume danau, dan daerah aliran sungai menggunakan citra permukaan satelit.
Data ini juga membantu mereka memperhitungkan potensi penguapan untuk mengetahui berapa banyak air yang dibutuhkan untuk mengisi danau. Dengan melihat danau kuno tertutup dan terbuka, serta lembah sungai yang mengaliri danau, tim dapat menentukan curah hujan minimum dan maksimum.
Danau yang tertutup menawarkan gambaran sekilas tentang jumlah maksimum air yang bisa jatuh dalam satu peristiwa tanpa menembus sisi cekungan danau. Sedangkan danau terbuka menunjukkan jumlah minimum air yang dibutuhkan untuk menutupi cekungan danau, menyebabkan air pecah ke samping dan mengalir keluar.
Di 13 formasi yang dipilih, tim menemukan cekungan berpasangan yang terdiri atas satu cekungan tertutup dan terbuka, yang dialiri oleh lembah sungai yang sama. Temuan ini, menurut para ahli, menawarkan bukti kunci dari curah hujan maksimum dan minimum dalam satu peristiwa.
Namun, Stucky de Quay mencatat mereka belum menentukan berapa lama satu badai bertahan yang bisa berlangsung selama berhari-hari, bertahun-tahun atau ribuan tahun. Studi ini dilakukan saat penjelajah Perseverance NASA Mars 2020 sedang dalam perjalanan ke Mars, yang akan menjelajahi Kawah Jezero, yang dulunya adalah sebuah danau sekitar tiga miliar tahun yang lalu.
Editor: Dini Listiyani