Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Inspiratif! Moch Dzikry Nur Alam Raih 2 Juara Nasional, Kini Bersiap Taklukkan Kompetisi Dunia
Advertisement . Scroll to see content

Mengintip Teknologi Cerdas di Balik Gedung Menjulang Tinggi

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:29:00 WIB
Mengintip Teknologi Cerdas di Balik Gedung Menjulang Tinggi
Teknologi tidak lagi sekadar pelengkap, tetapi mulai mengambil peran penting dalam mengubah cara gedung beroperasi. (Foto: Schneider Electric)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Di balik gedung menjulang tinggi, ada persoalan besar yang menentukan masa depan, seberapa efisien bangunan tersebut menggunakan energi, seberapa tangguh menghadapi gangguan, dan seberapa nyaman bagi manusia di dalamnya. Ini mendorong perubahan besar di industri bangunan. 

Teknologi tidak lagi sekadar pelengkap, tetapi mulai mengambil peran penting dalam mengubah cara gedung beroperasi.

Business Vice President for Buildings Schneider Electric, Reza Syarif mengatakan, transformasi ini menjadi kebutuhan seiring meningkatnya tuntutan terhadap efisiensi energi dan keberlanjutan. “Bangunan dituntut beroperasi secara lebih pintar, hemat energi, tangguh, aman, dan berkelanjutan,” ujar Reza, dalam paparanya dilansir Kamis (27/8/2026).

Dia menuturkan sektor bangunan menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Di satu sisi, kebutuhan terhadap gedung terus meningkat seiring pertumbuhan aktivitas ekonomi dan perkotaan. Di sisi lain, konsumsi energi serta tuntutan pengurangan emisi juga semakin besar.

Reza mengungkapkan terdapat empat tantangan utama yang perlu dijawab industri bangunan, yaitu sustainability, resiliency, efficiency, dan people-centricity. Bangunan memiliki kontribusi besar terhadap emisi karbon global. Di saat yang sama, sebagian energi yang digunakan dalam bangunan juga masih berpotensi terbuang.

Persoalan tersebut membuat efisiensi tidak lagi cukup dilakukan secara manual. Pengelola gedung membutuhkan data untuk mengetahui bagian mana yang paling banyak mengonsumsi energi dan kapan konsumsi tersebut terjadi.

“Digitalisasi memungkinkan kita mengetahui apa yang terjadi di dalam gedung sebelum menentukan tindakan yang harus dilakukan,” katanya.

Gedung Biasa Jadi Bangunan Cerdas

Perubahan tersebut melahirkan konsep Bangunan Gedung Cerdas (BGC). Bangunan tidak lagi bekerja dengan sistem yang berdiri sendiri, tapi berbagai perangkat dapat terhubung dan bertukar data.

Kelistrikan, pencahayaan, sistem ventilasi dan pendingin udara (HVAC), pengelolaan air, lift, parkir hingga sistem keamanan dapat diintegrasikan dalam satu ekosistem. Sistem tersebut, pengelola tidak hanya mendapatkan informasi mengenai kondisi gedung. Data yang terkumpul juga dapat digunakan untuk menentukan langkah pemeliharaan dan efisiensi.

Teknologi bahkan memungkinkan pengelola memantau konsumsi energi secara lebih cepat sehingga pemborosan dapat segera diketahui. Konsep ini semakin relevan dengan perkembangan regulasi di Indonesia. Pemerintah telah menerbitkan berbagai aturan yang mendorong penerapan bangunan cerdas dan manajemen energi.

Salah satunya adalah Permen PUPR Nomor 10 Tahun 2023 tentang Bangunan Gedung Cerdas. Regulasi tersebut mendorong integrasi sistem bangunan melalui prinsip otomasi, konektivitas, manajemen energi, keamanan siber, analitik data, hingga pemantauan berkelanjutan.

“Bangunan cerdas bukan sekadar menghubungkan perangkat. Lebih penting adalah bagaimana seluruh sistem tersebut bekerja sebagai satu kesatuan,” ujar Reza.

Senjata Lawan Pemborosan

Selama ini, penghematan energi terkadang dilakukan dengan pendekatan sederhana, seperti mematikan lampu atau mengurangi penggunaan pendingin udara. Cara tersebut memang dapat memberikan dampak, tetapi belum tentu menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.

Teknologi memungkinkan pengelola melihat pola konsumsi energi secara lebih detail. Dari sana, keputusan dapat dibuat berdasarkan kondisi aktual bangunan, bukan sekadar perkiraan.

Reza mengatakan pendekatan tersebut menjadi bagian dari proses dekarbonisasi yang dapat dilakukan melalui tiga tahapan, yakni Strategize, Digitize, dan Decarbonize.

Tahap pertama adalah menyusun strategi dan target dekarbonisasi. Setelah itu, proses digitalisasi dilakukan untuk mengukur serta memantau konsumsi energi dan karbon.

Barulah kemudian dilakukan berbagai langkah pengurangan emisi, mulai dari optimalisasi sistem otomasi, pemanfaatan energi terbarukan, elektrifikasi transportasi, modernisasi sistem kelistrikan, hingga pemasangan panel surya.

“Digitalisasi menjadi fondasi sebelum kita melakukan berbagai tindakan fisik untuk mengurangi energi dan emisi,” kata Reza.

Bukan Sekadar Lingkungan

Ada alasan lain mengapa transformasi bangunan menjadi semakin penting. Dekarbonisasi tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyentuh aspek ekonomi.

Gedung yang boros energi berarti membutuhkan biaya operasional lebih besar. Sebaliknya, sistem yang efisien berpotensi membantu pemilik aset mengendalikan biaya sekaligus menjaga daya saing properti.

Perubahan regulasi juga membuat aspek keberlanjutan semakin masuk ke dalam pertimbangan bisnis. Bangunan yang tidak mampu mengikuti standar efisiensi dan keberlanjutan berpotensi menghadapi tantangan lebih besar di masa depan.

“Dekarbonisasi bukan lagi sekadar tentang kelestarian lingkungan, tetapi juga perlindungan terhadap nilai investasi dan aset properti,” ujar Reza.

Teknologi cerdas dapat dilihat bukan hanya sebagai investasi teknologi, tetapi sebagai bagian dari strategi pengelolaan aset jangka panjang.

Teknologi Harus Kembali ke Manusia

Di balik berbagai angka konsumsi energi, emisi karbon, dan sistem otomasi, ada satu faktor yang tidak boleh dilupakan, manusia. Penghuni gedung membutuhkan udara yang sehat, pencahayaan yang nyaman, suhu yang sesuai, keamanan, serta lingkungan kerja yang mendukung produktivitas.

Reza menempatkan people-centric sebagai salah satu dari empat pilar bangunan masa depan bersama hyper-efficient, resilient, dan sustainable. Teknologi seharusnya tidak membuat bangunan semakin rumit bagi manusia. Sebaliknya, teknologi harus membuat gedung bekerja lebih baik tanpa mengorbankan kenyamanan penghuninya.

Pada titik ini, transformasi bangunan tidak lagi hanya soal memasang perangkat pintar. Perubahannya jauh lebih mendasar, yakni mengubah cara sebuah gedung berpikir, merespons, menggunakan energi, dan melayani manusia.

“Bangunan cerdas dan hijau bukan lagi sekadar pilihan masa depan, melainkan kebutuhan hari ini,” kata Reza.

Gedung masa depan pada akhirnya bukan hanya tentang bangunan yang semakin tinggi atau semakin megah. Ukurannya juga ditentukan seberapa pintar bangunan tersebut menggunakan sumber daya, seberapa tangguh menghadapi perubahan, dan seberapa baik manusia berada di dalamnya merasa aman, serta nyaman.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut