Milky Way Blues, Musik Jazz Hasil Rotasi Galaksi Bima Sakti
JAKARTA, iNews.id - Siapa yang menyangka, rotasi Galaksi Bima Sakti ternyata bisa menghasilkan suara mirip musik jazz. Fakta tersebut ditemukan oleh seorang astronom dari University of Massachusetts Amherst.
Astronom dari University of Massachusetts Amherst Mark Heyer telah mengembangkan algoritma canggih. Algoritma itu kemudian digunakan untuk menerjemahkan data astronomi yang berkaitan dengan pergerakan gas di Galaksi ini dalam notes musik berjudul 'Milky Way Blues'.
"Eksperimen musik ini memungkinkan Anda mendengar gerakan Galaksi Bima Sakti kita. Notes ini terutama mencerminkan kecepatan gas yang berputar di sekitar pusat galaksi kita," kata Heyer dalam sebuah pernyataan yang dilaporkan IBTimes, Minggu (6/5/2018).
Sejatinya, ruang antara body bintang dan galaksi diisi dengan tiga fase gas, yakni atom, molekuler, dan terionisasi. Ketiganya terlihat dalam pengamatan astronomi selama bertahun-tahun, tapi semua gambar itu bekerja sebagai snapshot dan tidak mencerminkan pergerakan gas.
Peneliti menggunakan data yang diambil telekskop radio selama 20 tahun terakhir dan menetapkan nada musik, serta notes yang berbeda. Pitch dan panjang nada ditentukan berdasarkan kecepatan dan intensitas gas yang dipertanyakan.
Terakhir, berbagai instrumen digunakan untuk mengekspresikan pergerakan fase gas yang berbeda dalam nada musik. Blok kayu dan piano digunakan untuk memainkan suara gas molekuler, bass akustik untuk gas atom, dan saksofon untuk gas terionisasi.
Untuk melengkapi komposisi panjang dua menit dengan elemen visual, peneliti mengambil bantuan dari Greg Salvesen, seorang astronom dari University of California, dan mengintegrasikan komposisinya dalam video yang terperinci.
Nada tinggi dan warna biru yang ditampilkan dalam video mewakili pergerakan gas ke Bumi. Sedangkan warna merah dan notes rendah menunjukkan gas bergerak menjauh.
"Setiap pengamatan diwakili oleh garis yang menunjukkan di mana teleskop itu menunjuk. Dan posisi lingkaran sepanjang garis menunjukkan lokasi gas di galaksi yang bertanggung jawab atas notes yang dimainkan," kata Heyer.
Notes yang lebih panjang dan lingkaran yang besar dalam klip mewakili tingkat emisi gas yang lebih intens. Suara komposisi terdengar sangat mirip dengan jazz, tapi Heyer menekankan dia belum mengedit melodi.
"Saya benar dalam hal data. Saya belum membuatnya terdengar bagus, tapi mengubah apa yang sebenarnya kita amati dengan teleskop radio menjadi skala musik. Itu memberi kita nada akrab yang terdengar mengejutkan seperti musik yang kita gunakan," ujarnya.
Selain itu, astronom juga mencatat, hal ini bukan yang pertama untuk mengekspresikan fitur kosmos dalam istilah musik. Dia mengutip contoh Johannes Kepler yang menggambarkan orbit planet mengelilingi Matahari dalam komposisinya pada 1619.
Editor: Dini Listiyani