Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Tragis! 3 Astronaut China Terlantar di Luar Angkasa gegara Tabrak Puing Antariksa
Advertisement . Scroll to see content

NASA Temukan Perilaku Tak Biasa Oksigen di Mars

Kamis, 14 November 2019 - 05:45:00 WIB
NASA Temukan Perilaku Tak Biasa Oksigen di Mars
Awan di Mars (Foto: NASA)
Advertisement . Scroll to see content

CALIFORNIA, iNews.id - Tingkat oksigen telah diamati naik dan turun di Kawah Gale, Mars. Bahkan, jumlahnya tidak sesuai dengan proses kimia yang diketahui selama ini.

Data mengenai oksigen Mars berasal dari Curiosity, rover yang melakukan perjalanan lambat dan metodis melintasi kawah dan menaiki kaki Gunung Sharp. Robot ini rupanya tidak hanya meneliti bebatuan, tapi juga mengukur perubahan atmosfer musiman.

Para peneliti yang meneliti pengukuran telah memperhatikan oksigen di atmosfer Mars tidak berperilaku sepenuhnya seperti yang diharapkan. Pada dasarnya, Mars tidak memiliki banyak oksigen.

Sebagian besar atmosfer tipisnya (95 persen volume) adalah karbon dioksida atau CO2. Sisanya terdiri atas 2,6 persen molecular nitrogen (N2), 1.9 persen argon (Ar), 0.16 persen molecular oxygen (O2), dan 0.6 persen carbon monoxide (CO).

Kondisi di Bumi berbanding terbalik dengan Mars. Sebagian besar atmosfer Bumi terdiri atas nitrogen, dengan volume 78.09 persen dan oksigen 20.95 persen.

Di Mars, tekanan atmosfer berubah sepanjang tahun. Di belahan Bumi musim dingin, CO2 membeku di atas kutub, yang menyebabkan tekanan turun. Akibatnya terjadi redistrubusi gas dari belahan Bumi untuk menyamakan tekanan atmosfer di seluruh planet.

Di musim semi, saat cap kutub mencair dan melepaskan CO2, efek sebaliknya terjadi. Tekanan awalnya naik di belahan Bumi itu, kemudian merembes keluar saat gas didistribusikan kembali ke belahan Bumi musim dingin.

Selama musim semi dan panas, oksigen naik sekitar 30 persen, turun kembali ke tingkat normal di musim gugur. Fenomena ini terjadi setiap tahun, tapi karena jumlah oksigen yang naik bervariasi dari tahun ke tahun, sepertinya ada sesuatu yang menambahkan oksigen dan membawanya kembali.

Dikutip dari Science Alert, Kamis (14/11/2019), tidak ada proses yang diketahui yang dapat menghasilkan hasil ini. Pertanyaan yang jelas untuk pengukuran yang aneh adalah apakah mungkin ada sesuatu yang salah dengan instrumen atau perangkat lunak Mass Spectrometer Quadrupole.

Kemungkinan lain adalah apakah oksigen dapat diproduksi oleh air atau karbon dioksida yang entah bagaimana pecah di atmosfer. Namun, kemungkinan ini dengan cepat dikesempingkan.

Kini, tanah Mars memang mengandung banyak oksigen. Tapi kondisi yang dibutuhkan untuk melepaskannya belum diamati dan tidak akan menjelaskan di mana itu menghilang setiap tahun. Proses di mana radiasi Matahari memecah oksigen dan menghilang ke luar angkasa juga terlalu lambat.

"Kami sedang berjuang untuk menjelaskan ini. Fakta perilaku oksigen tidak dapat diulangi dengan sempurna setiap musim membuat kita berpikir itu bukan masalah yang berkaitan dengan dinamika atmosfer. Itu harus menjadi sumber bahan kimia dan tenggelam yang belum kita pertanggungjawabkan," kata ilmuwan planet Melissa Trainer dari Goddard Space Flight Center NASA.

Tapi ada satu petunjuk yakni metana. Unsur ini juga meningkat secara drastis selama berbulan-bulan di musim panas Mars, meningkat 60 persen. Terkadang tingkat metana dan oksigen bahkan tampaknya naik secara bersamaan.

Ada kemungkinan apa pun yang menyebabkan fluktiusi metana juga menyebabkan fluktuasi oksigen. Kedua gas dapat diproduksi melalui proses organik yakni kehidupan dan geologis.

Saat ini belum ada bukti terkait kehidupan di Mars tapi penyebab ini tidak dapat dikesampingkan. Tim percaya, kedua gas cenderung bersifat geologis.

"Kami belum dapat menemukan satu proses yang menghasilkan jumlah oksigen yang kami butuhkan. Tapi, kami pikir itu haruslah sesuatu di permukaan tanah yang berubah secara musiman karena tidak ada cukup atom oksigen di atmosfer untuk menciptakan perilaku yang kita lihat," kata astronom Tim McConnochie of the University of Maryland.

Editor: Dini Listiyani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut