Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : BRIN Luncurkan Satelit NEO-1 Januari 2027, Seluruh Perakitan Dilakukan di Indonesia
Advertisement . Scroll to see content

NEO-1, Satelit Observasi Bumi Buatan BRIN yang Siap Meluncur 2027

Rabu, 08 Juli 2026 - 13:43:00 WIB
NEO-1, Satelit Observasi Bumi Buatan BRIN yang Siap Meluncur 2027
Kepala BRIN, Arif Satria, membahas terkait satelit NEO-1. (Foto: Niko Prayoga)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menyiapkan peluncuran Nusantara Earth Observation Satellite 1 (NEO-1) pada Januari 2027. Satelit observasi Bumi generasi terbaru ini hadir dengan sejumlah teknologi yang dirancang untuk mendukung pemetaan wilayah, pemantauan pertanian, hingga melacak aktivitas kapal di perairan Indonesia.

Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan NEO-1 merupakan satelit observasi bumi kelas kecil (mini satellite) yang dibekali kemampuan pencitraan beresolusi tinggi dan menengah. Tak hanya itu, satelit ini juga mengintegrasikan Automatic Identification System (AIS) untuk memantau lalu lintas kapal serta dilengkapi sensor optik visible dan thermal infrared yang memperluas kemampuan pengamatan dari orbit.

Menurut Arif, kombinasi teknologi tersebut membuat NEO-1 mampu menyediakan data satelit nasional yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan strategis, mulai dari pemetaan wilayah, pemantauan sektor pertanian, kehutanan, kelautan, lingkungan, hingga mitigasi bencana.

"Dan peruntukan satelit ini guna mendukung penyediaan data citra satelit nasional dan digunakan untuk pemetaan wilayah, pemantauan pertanian, kehutanan, kelautan, mitigasi bencana, pemantauan lingkungan, dan pemantauan aktivitas kapal melalui AIS," kata Arif dalam Peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia di Kantor Pusat BRIN, Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Tak hanya unggul dari sisi teknologi, NEO-1 juga menjadi pencapaian penting bagi industri antariksa nasional. Seluruh tahapan krusial pengembangannya, mulai dari perancangan misi, desain sistem, integrasi, pengujian, pengembangan perangkat lunak (software), hingga operasi satelit dan dukungan stasiun bumi, dilakukan sepenuhnya di Indonesia.

Arif mengungkapkan, satelit tersebut memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sekitar 65 persen, menunjukkan semakin besarnya kemampuan industri dan talenta lokal dalam mengembangkan teknologi satelit.

"NEO-1 ini mengandung TKDN kurang lebih sekitar 65 persen dan sekali lagi itu adalah merupakan salah satu kebanggaan dari kita semua sebagai bangsa Indonesia," ujarnya.

Menurutnya, peluncuran NEO-1 menjadi langkah besar Indonesia menuju kemandirian teknologi antariksa. Keberhasilan sebuah negara di bidang satelit tidak lagi hanya diukur dari kemampuan memiliki satelit, tetapi juga menguasai seluruh proses pembangunannya, mulai dari desain hingga operasional.

"Peluncuran NEO-1 ini akan menjadi tonggak penting yang menunjukkan bahwa Indonesia semakin mampu menguasai seluruh rantai teknologi satelit, mulai dari perancangan, integrasi, pengujian, sehingga operasi misi satelit," tutur Arif.

Meski demikian, BRIN mengingatkan bahwa pengembangan satelit nasional juga menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Orbit rendah bumi (Low Earth Orbit/LEO) kini semakin padat akibat bertambahnya konstelasi satelit global, sehingga meningkatkan risiko tabrakan, penumpukan sampah antariksa, serta persaingan memperebutkan slot orbit dan spektrum frekuensi.

Karena itu, Arif menilai Indonesia perlu segera memiliki peta jalan nasional terkait pengelolaan slot orbit, perlindungan aset satelit, pengembangan konstelasi satelit nasional, hingga penguatan diplomasi internasional agar kepentingan Indonesia tetap terjaga di tengah kompetisi antariksa yang semakin ketat.

Di sisi lain, BRIN menegaskan bahwa manfaat NEO-1 tidak berhenti pada pencapaian teknologi semata. Data yang dihasilkan satelit ini diharapkan dapat dimanfaatkan pemerintah, dunia riset, industri, hingga pelayanan publik berbasis satelit.

"Ke depan, ukuran keberhasilan Indonesia di bidang antariksa bukan hanya berapa banyak satelit yang kita operasikan, tetapi juga seberapa besar manfaat ekonomi, sosial, dan strategis yang dihasilkan bagi masyarakat," ujar Arif. 

"Keantariksaan harus mampu menciptakan lapangan kerja baru, mendorong tumbuhnya industri teknologi tinggi, menarik investasi, memperkuat pelayanan publik, serta menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional," tambahnya.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut