Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Survei Kedai Kopi: Pengusaha Jadi Profesi Impian Anak Muda, Disusul Pedagang
Advertisement . Scroll to see content

Penyintas Skizofrenia Bikin Dupa dari Ampas Kopi, Kisahnya Penuh Perjuangan!

Rabu, 04 November 2026 - 11:19:00 WIB
Penyintas Skizofrenia Bikin Dupa dari Ampas Kopi, Kisahnya Penuh Perjuangan!
Penyintas skizofrenia saat membuat dupa dari kopi. (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Ampas kopi yang biasanya dibuang setelah menikmati secangkir minuman ternyata bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Kok bisa? 

Di Denpasar, Bali, sekelompok penyintas skizofrenia memanfaatkannya sebagai bahan baku pembuatan dupa. Namun, di balik produk sederhana tersebut, tersimpan perjuangan mereka untuk kembali produktif, membangun kepercayaan diri, dan memperoleh kesempatan berkarya.

Kegiatan ini dijalankan oleh anggota Rumah Berdaya, sebuah komunitas yang menjadi ruang bagi penyintas skizofrenia untuk mengembangkan kemampuan dan beraktivitas bersama. Melalui proses pembuatan dupa, mereka memiliki kesempatan untuk terlibat dalam pekerjaan sesuai kemampuan masing-masing.

Dupa kopi dibuat penyintas skizofrenia. (Foto: Istimewa)
Dupa kopi dibuat penyintas skizofrenia. (Foto: Istimewa)

I Nyoman Sudiasa, salah satu penggerak Rumah Berdaya yang juga merupakan penyintas skizofrenia, menceritakan bahwa pemanfaatan ampas kopi sebagai bahan baku dupa mulai dicoba pada 2023. Sebelumnya, kelompok tersebut menggunakan serbuk yang dibeli dari pasaran.

"Awalnya kami menggunakan serbuk yang ada di pasaran. Kemudian, kami mencoba memanfaatkan ampas kopi untuk bahan dupa dan ternyata berhasil," ujar Sudiasa dalam keterangan resminya, Rabu (4/11/2026).

Proses pembuatannya terbilang sederhana, tetapi membutuhkan ketelatenan. Ampas kopi dikumpulkan dari sejumlah mitra, kemudian dijemur hingga kering selama kurang lebih satu hari. Setelah itu, bahan diayak agar lebih halus sebelum dicampur dengan serbuk kayu sebagai perekat.

Adonan kemudian diberi air dan tambahan aroma kopi, lalu dicetak menjadi dupa. Produk tersebut kembali dijemur hingga benar-benar kering sebelum dikemas dan dipasarkan.

Dari bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna, Rumah Berdaya kini menghasilkan dupa yang dijual Rp15 ribu per bungkus. Setiap kemasan berisi sekitar 60 batang dupa.

Setiap Anggota Punya Peran Berbeda

Di balik proses produksi tersebut, ada tantangan yang tidak sederhana. Rumah Berdaya memiliki 27 anggota, tetapi hanya sekitar 10–12 orang yang terlibat dalam pembuatan dupa.

Tidak semua anggota bisa mengerjakan tahapan produksi yang sama. Kemampuan konsentrasi dan kondisi setiap orang berbeda sehingga pembagian pekerjaan harus disesuaikan.

Ada anggota yang bertugas mencetak dupa, menjemur, membuat kemasan, hingga memasukkan produk ke dalam bungkus. Pekerjaan yang bisa dilakukan bersama juga dikerjakan secara kolektif agar semakin banyak anggota mendapat kesempatan untuk terlibat.

Dalam kondisi optimal, kelompok ini mampu mengolah sekitar delapan kilogram bahan dalam sehari. Dari setiap satu kilogram bahan, hasilnya diperkirakan mencapai 12 bungkus dupa.

Meski demikian, produksi tidak selalu berjalan lancar. Cuaca menjadi salah satu kendala, terutama ketika musim hujan karena proses pengeringan membutuhkan waktu lebih lama.

Bagi Sudiasa, kegiatan tersebut bukan semata-mata tentang mengejar keuntungan. Hasil penjualan digunakan untuk menutup biaya produksi, sedangkan kelebihannya dibagikan kepada anggota yang terlibat.

Anggota yang membantu membuat kemasan, misalnya, mendapatkan upah Rp500 per lembar. Sementara itu, anggota yang bertugas mencetak dupa memperoleh bayaran berdasarkan jumlah bahan yang berhasil dikerjakan.

"Konsep kami bukan berorientasi pada keuntungan. Biaya produksi tetap harus tertutup, tetapi kelebihan hasilnya kami kembalikan kepada teman-teman," kata Sudiasa.

Ingin Menghapus Stigma terhadap Penyintas Skizofrenia

Lebih dari sekadar menghasilkan produk, kegiatan di Rumah Berdaya menjadi kesempatan bagi para anggota untuk membangun rutinitas, melatih konsentrasi, dan berinteraksi dengan orang lain.

Sudiasa memahami betul bahwa proses pemulihan penyintas skizofrenia membutuhkan perjalanan panjang. Dia sendiri telah menjalani pengobatan selama bertahun-tahun.

Pengalaman tersebut membuatnya menyadari pentingnya kepatuhan menjalani pengobatan, pendampingan, serta lingkungan yang mendukung. Kesempatan untuk beraktivitas bersama juga menjadi bagian dari kehidupan sosial yang dibutuhkan para penyintas.

Meski kegiatan produksi dupa belum pernah diteliti secara khusus sebagai intervensi terapeutik, Sudiasa melihat aktivitas tersebut memberikan ruang bagi anggota untuk mengembangkan keterampilan dan menunjukkan kemampuan mereka.

Dia berharap masyarakat tidak lagi memandang penyandang disabilitas mental sebelah mata. Sebab, kondisi kesehatan mental tidak serta-merta menghilangkan kemampuan seseorang untuk bekerja dan menghasilkan sesuatu.

"Yang terutama adalah mengurangi stigma negatif. Kami juga ingin menunjukkan bahwa penyandang disabilitas mental tetap punya harga diri dan masih bisa berkarya," ujarnya.

Rumah Berdaya sendiri mulai mendapatkan dukungan peralatan dan pelatihan dari Pertamina sejak 2022. Dukungan tersebut turut membantu kelompok mengembangkan kegiatan produksi hingga akhirnya mencoba memanfaatkan ampas kopi sebagai bahan baku dupa.

Bagi para anggota, kesempatan untuk bekerja dan menghasilkan sesuatu memiliki arti lebih dari sekadar memperoleh penghasilan. Ada ruang untuk belajar, berinteraksi, dan merasa menjadi bagian dari lingkungan sosial.

Di sela penyelenggaraan The 9th ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) Conference and Exhibition 2026 di Bali, kisah para penyintas ini memperlihatkan sisi lain dari upaya pemberdayaan masyarakat. 

Dari ampas kopi yang kerap berakhir sebagai limbah, mereka menunjukkan bahwa kesempatan berkarya bisa tumbuh dari hal sederhana. Yang dibutuhkan bukan tuntutan agar semua orang memiliki kemampuan sama, melainkan ruang dan kesempatan agar setiap orang bisa berkontribusi sesuai kapasitasnya.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut