Sepekan Erupsi Gunung Anak Krakatau: Partikel Abu Vulkanik Masih Ada di Udara?
JAKARTA, iNews.id - Sepekan setelah erupsi besar Gunung Anak Krakatau pada 4 September 2026, masyarakat mungkin mulai bertanya-tanya apakah abu vulkanik benar-benar sudah hilang dari udara.
Pertanyaan ini penting karena abu vulkanik tidak selalu terlihat secara kasatmata. Meski langit sudah kembali tampak normal dan aktivitas penerbangan berangsur pulih, partikel berukuran sangat kecil masih dapat terdeteksi di udara.
Hal tersebut terungkap dari pemantauan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 8-9 September 2026. Pengukuran kualitas udara menggunakan particulate counter masih menemukan konsentrasi PM2,5 di atas batas aman di sejumlah lokasi, termasuk kawasan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.
Lantas, apakah PM2,5 tersebut masih merupakan abu vulkanik Anak Krakatau?
Secara sederhana, abu vulkanik bukan hanya debu kasar yang dapat dilihat menempel di kendaraan, atap rumah atau jalan.
Material erupsi terdiri dari partikel dengan ukuran yang berbeda-beda. Sebagian berukuran relatif besar, sehingga lebih cepat mengendap di permukaan. Namun, sebagian lainnya sangat halus sehingga dapat bertahan di atmosfer dan terbawa oleh angin.
Inilah yang membuat kondisi udara tidak selalu dapat dinilai hanya berdasarkan penglihatan.
Kemenkes menjelaskan bahwa partikulat berukuran kecil seperti PM2,5 perlu mendapatkan perhatian karena tidak selalu terlihat secara kasatmata. Pemantauan menggunakan alat khusus diperlukan untuk mengetahui konsentrasinya di udara.
Dengan kata lain, udara yang tampak bersih belum tentu berarti seluruh partikulat dari episode polusi telah hilang.
Istilah PM2,5 merujuk pada particulate matter dengan diameter aerodinamis sekitar 2,5 mikrometer atau lebih kecil.
Ukurannya sangat kecil jika dibandingkan dengan diameter rambut manusia. Karena berukuran mikroskopis, partikel ini dapat masuk lebih jauh ke dalam sistem pernapasan dibandingkan partikel yang lebih besar.
Inilah alasan pengukuran PM2,5 menjadi penting setelah peristiwa seperti erupsi gunung api.
Kemenkes bahkan menemukan konsentrasi PM2,5 di salah satu titik Terminal Damri Bandara Soekarno-Hatta mencapai 63 µg/m³, sementara batas aman yang digunakan dalam pemantauan tersebut adalah 25 µg/m³.
Tidak semua PM2,5 yang terukur otomatis dapat disebut abu vulkanik Anak Krakatau. Partikulat udara bisa berasal dari berbagai sumber, termasuk aktivitas kendaraan, pembakaran, debu dan sumber pencemar lainnya.
Karena itu, angka PM2,5 menunjukkan adanya partikulat di udara, tetapi tidak sendirian membuktikan seluruh partikulat tersebut berasal dari Anak Krakatau.
Namun, pengukuran tersebut menjadi tanda bahwa kualitas udara masih perlu diperhatikan di wilayah yang sebelumnya terdampak sebaran abu vulkanik.
Kemenkes sendiri melakukan pemantauan kualitas udara secara khusus setelah erupsi Anak Krakatau dan menemukan konsentrasi PM2,5 serta PM10 yang masih melebihi batas aman di sejumlah titik pada 8 September.
Besarnya perhatian terhadap partikel abu tidak terlepas dari luasnya sebaran material saat fase erupsi awal.
BMKG pada 6 September mengidentifikasi sebaran abu vulkanik Anak Krakatau di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Sehari kemudian, analisis citra satelit Himawari-9 menunjukkan abu vulkanik masih terpantau pada dua lapisan atmosfer.
Pada lapisan dari permukaan hingga sekitar 15.000 kaki, abu terpantau di sektor tenggara hingga barat laut yang mencakup sebagian Banten, Jawa Barat, Lampung dan Bengkulu.
Sementara pada ketinggian 15.000 hingga 50.000 kaki, sebarannya terpantau lebih jauh ke arah barat hingga barat daya.
Kondisi tersebut sebelumnya bahkan mengganggu operasional sejumlah bandara.
Ada perbedaan antara abu yang terlihat dan partikel halus di atmosfer.
Partikel berukuran besar memiliki kecenderungan lebih cepat jatuh akibat gravitasi. Sebaliknya, partikel yang sangat kecil dapat terbawa arus udara dan bertahan lebih lama di atmosfer.
Angin juga berperan besar dalam menentukan ke mana partikel tersebut bergerak.
Karena itu, lokasi yang jauh dari gunung api tetap dapat mengalami penurunan kualitas udara ketika arah angin membawa material vulkanik ke wilayah tersebut.
BMKG sebelumnya mencatat sebaran abu Anak Krakatau bergerak pada beberapa lapisan atmosfer dengan arah yang berbeda. (BMKG)
Salah satu mekanisme alami yang dapat membantu membersihkan atmosfer adalah hujan.
Tetes air hujan dapat menangkap sebagian partikel di atmosfer dan membawanya turun ke permukaan melalui proses yang dikenal sebagai wet deposition.
Namun, hujan tidak berarti seluruh partikel otomatis hilang. Kondisi atmosfer, intensitas hujan, ukuran partikel, arah angin dan sumber emisi lain tetap menentukan kualitas udara di suatu wilayah.
Terlebih, BMKG memprakirakan kondisi cuaca di sebagian wilayah masih didominasi musim kemarau, meskipun hujan lokal tetap berpotensi terjadi.
Partikel sangat kecil dapat masuk lebih dalam ke saluran pernapasan.
Karena itu, Kemenkes mengimbau masyarakat yang masih harus beraktivitas di luar ruangan di wilayah dengan konsentrasi partikulat tinggi untuk menggunakan masker. Kemenkes juga menekankan bahwa partikulat kecil seperti PM2,5 dapat memberikan dampak terhadap kesehatan dan tidak selalu terlihat secara kasatmata.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia dan orang dengan gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih.
BMKG juga mengimbau masyarakat di area terdampak abu vulkanik untuk membatasi aktivitas di luar ruangan serta menggunakan masker dan kacamata pelindung jika harus keluar rumah. Abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi pada mata dan saluran pernapasan.
Menariknya, kondisi atmosfer dan aktivitas gunung api harus dilihat sebagai dua hal berbeda.
Pada 10 September 2026, Badan Geologi masih mempertahankan Level III atau Siaga untuk Gunung Anak Krakatau. Dalam pengamatan CCTV pada pukul 05.55 WIB, tidak terlihat adanya erupsi pada saat pengamatan tersebut. Namun, status aktivitas tetap berlaku dan akan dievaluasi kembali jika terjadi perubahan signifikan.
Artinya, tidak terlihatnya letusan pada satu waktu tertentu tidak dapat langsung diartikan bahwa seluruh aktivitas vulkanik telah berakhir.
Begitu pula dengan udara. Tidak terlihatnya abu secara kasatmata bukan berarti udara pasti sudah bebas dari partikulat.
Jawabannya adalah partikel di udara masih dapat ditemukan, tetapi perlu dibedakan antara keberadaan partikulat dengan kepastian bahwa seluruh partikulat tersebut merupakan abu Anak Krakatau.
Data Kemenkes pada 8-9 September menunjukkan PM2,5 masih berada di atas batas aman di sejumlah titik. Sementara BMKG sebelumnya masih mendeteksi sebaran abu vulkanik melalui pengamatan satelit.
Karena itu, masyarakat tidak perlu menunggu sampai melihat debu beterbangan untuk mulai berhati-hati.
Jika berada di wilayah yang sebelumnya terdampak abu, penggunaan masker saat berada di luar ruangan, mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara buruk, serta melindungi mata dapat menjadi langkah pencegahan.
Sepekan setelah erupsi besar Anak Krakatau, langit yang terlihat bersih bukan satu-satunya indikator kualitas udara. Partikel berukuran sangat kecil justru membutuhkan alat khusus untuk mendeteksinya.
Editor: Muhammad Sukardi