Simulasi Sidang PBB Kian Diminati Pelajar Indonesia, Ini Alasannya
JAKARTA, iNews.id – Simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau Model United Nations (MUN) semakin diminati pelajar di Indonesia. Tak sekadar kegiatan ekstrakurikuler, MUN kini menjadi wadah strategis untuk melatih kemampuan diplomasi, berpikir kritis, hingga komunikasi sejak usia dini.
Fenomena ini terlihat dalam gelaran AYIMUN Presents Al-Muhajirien MUN. Sebanyak 200 delegasi dari 61 sekolah, mulai dari jenjang SD hingga perguruan tinggi, ambil bagian dalam simulasi konferensi internasional tersebut.
Dalam kegiatan ini, para peserta berperan sebagai delegasi negara dan membahas berbagai isu global layaknya forum resmi PBB. Mereka dituntut untuk menyampaikan gagasan, bernegosiasi, hingga berdebat secara sehat dalam suasana formal.
President International Global Network (IGN), Muhammad Fahrizal, menegaskan MUN bukan sekadar simulasi biasa. Menurut dia, kegiatan ini merupakan pengalaman belajar yang transformatif bagi pelajar.

"Melalui MUN, siswa diperkenalkan pada isu global, beragam perspektif, serta praktik diplomasi di dunia nyata. Ini melatih inisiatif, kesadaran global, kemampuan berpikir kritis, dan komunikasi," ujarnya, dalam keterangan resmi, Rabu (15/4/2026).
Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti. Dia menyebut program seperti MUN sejalan dengan upaya membangun generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
"Pendidikan yang baik tidak hanya mempersiapkan kita membangun bangsa, tetapi juga menjadi pemimpin global," ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono. Dia menilai program seperti MUN sangat relevan dengan kebutuhan masa depan, khususnya di kota-kota besar.

"Ini bukan sekadar kegiatan, tapi simulasi dunia nyata. Di sini pelajar belajar menyampaikan ide, bernegosiasi, dan memahami bagaimana dunia bekerja. Kita tidak hanya butuh tenaga kerja, tapi juga komunikator, negosiator, dan pemimpin," kata dia.
Dalam konferensi ini, peserta dibagi ke dalam dua council. Untuk kategori junior (usia 11–14 tahun), mereka membahas isu perlindungan ruang digital melalui topik penanganan cyberbullying. Sementara peserta usia 15 tahun ke atas membahas isu kesehatan global, khususnya perlindungan pengetahuan obat tradisional yang tetap harus melalui validasi ilmiah.
Menariknya, keterlibatan pelajar usia muda dalam isu-isu kompleks ini menunjukkan bahwa pembelajaran tidak lagi terbatas di ruang kelas. Mereka didorong untuk memahami persoalan global sejak dini sekaligus mencari solusi melalui diskusi dan kolaborasi.
Salah satu peserta, Revina Nadine Nugraha, mengaku mendapatkan perubahan besar sejak mengikuti program MUN. Dia yang sebelumnya pemalu dan cenderung antisosial, kini lebih percaya diri untuk berbicara di depan publik.
"MUN membuat saya lebih berani dan nyaman berinteraksi dengan banyak orang," ungkapnya.
Tren meningkatnya minat terhadap MUN mencerminkan pergeseran pola pendidikan yang tidak lagi hanya berfokus pada akademik, tetapi juga penguatan soft skills. Kemampuan seperti komunikasi, negosiasi, dan kepemimpinan kini menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan global.
Melalui kegiatan seperti ini, pelajar tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung mempraktikkan bagaimana menjadi bagian dari solusi atas berbagai isu dunia.
Editor: Muhammad Sukardi