Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Gelar Simulasi Sidang PBB MUN 2025, IPEKA IICS Siap Cetak Diplomat Andal
Advertisement . Scroll to see content

Tak Cukup Nilai Bagus, Pelajar Kini Dituntut Punya Skill Diplomasi

Rabu, 22 Juli 2026 - 15:18:00 WIB
Tak Cukup Nilai Bagus, Pelajar Kini Dituntut Punya Skill Diplomasi
Pelajar zaman sekarang dituntut memiliki banyak skill. (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Prestasi akademik dengan deretan nilai tinggi kini tak lagi menjadi satu-satunya bekal yang dibutuhkan pelajar untuk bersaing di masa depan. Lantas skill apa yang perlu dimiliki pelajar zaman now? 

Di tengah dunia yang semakin terhubung dan penuh tantangan global, kemampuan berdiplomasi, berkomunikasi, bernegosiasi, hingga bekerja sama lintas budaya mulai dipandang sebagai keterampilan yang tak kalah penting.

Ya, fenomena tersebut terlihat dari semakin tingginya minat pelajar mengikuti kegiatan simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (Model United Nations/MUN). Melalui forum ini, peserta tidak hanya dituntut memahami isu-isu internasional, tetapi juga menyampaikan gagasan secara logis, mempertahankan argumen, hingga mencari titik temu dengan peserta lain yang memiliki pandangan berbeda.

Dalam salah satu konferensi MUN yang digelar di kawasan BSD, Tangerang Selatan, sebanyak 270 pelajar dari 165 sekolah dan universitas di berbagai daerah Indonesia mengikuti simulasi diplomasi internasional. Mereka membahas beragam persoalan global, mulai dari penyalahgunaan obat resep hingga pengelolaan air berkelanjutan.

President International Global Network (IGN), Muhammad Fahrizal, menilai pengalaman seperti ini menjadi ruang belajar yang sulit didapatkan di dalam kelas. Menurutnya, pelajar perlu dibiasakan menyampaikan pendapat sekaligus menghargai sudut pandang orang lain.

"Di AYIMUN BSD Chapter ini, pelajar akan belajar menyampaikan pendapat, berdiskusi secara konstruktif, dan juga belajar mendengarkan orang-orang yang memiliki pandangan berbeda dari kalian. Kalian akan belajar menemukan solusi bersama, bukan sekadar memenangkan sebuah perdebatan," kata Fahrizal dalam keterangan resminya, Rabu (22/7/2026). 

Menurutnya, dunia kerja maupun dunia pendidikan saat ini semakin membutuhkan individu yang mampu berkolaborasi. Karena itu, kemampuan berdiplomasi bukan hanya identik dengan profesi diplomat, melainkan menjadi keterampilan hidup yang relevan di berbagai bidang.

Dalam simulasi tersebut, para peserta berperan sebagai delegasi dari berbagai negara. Mereka mengikuti proses layaknya sidang PBB, mulai dari menyampaikan pidato, melakukan negosiasi antardelegasi, hingga menyusun draft resolusi yang disepakati bersama.

Setiap keputusan yang diambil harus didukung argumentasi yang kuat serta mempertimbangkan kepentingan berbagai pihak. Situasi ini membuat peserta dituntut berpikir kritis sekaligus mampu mencari jalan tengah dalam setiap perbedaan pendapat.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kota Tangerang Selatan, Fuad, menilai pengembangan karakter dan rasa percaya diri menjadi modal penting bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan di masa mendatang.

Dalam kesempatan tersebut, Fuad juga membagikan pengalamannya saat mulai menjadi aparatur sipil negara (ASN) di usia 18 tahun. Pengalaman itu, menurutnya, menjadi bukti bahwa kesempatan bisa datang lebih awal bagi siapa saja yang mau terus mengembangkan kemampuan.

"Tingkatkan kepercayaan diri dan terus asah skill serta pengetahuan. Bekal itu akan menjadi modal penting bagi anak-anak muda untuk menghadapi tantangan di masa depan," ujar Fuad.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pelajar yang berani keluar dari zona nyaman dengan mengikuti forum yang menuntut kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan kepemimpinan.

Pengamat pendidikan menilai tren meningkatnya minat terhadap kegiatan seperti Model United Nations menunjukkan adanya perubahan cara belajar generasi muda. 

Jika sebelumnya keberhasilan sering diukur dari nilai akademik semata, kini semakin banyak pelajar yang mulai membekali diri dengan kemampuan berbicara di depan publik, memimpin diskusi, menyelesaikan konflik, hingga membangun jejaring internasional.

Di era globalisasi, kemampuan tersebut dinilai menjadi nilai tambah yang dapat membuka peluang lebih luas, baik untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri maupun memasuki dunia kerja yang semakin kompetitif. 

Nilai rapor memang tetap penting, namun kemampuan berdiplomasi, berkolaborasi, dan berpikir kritis kini menjadi bekal yang semakin dibutuhkan untuk menghadapi masa depan.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut