Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : AI Makin Canggih, Anak Muda Mulai Khawatir soal Masa Depan Dunia Kerja
Advertisement . Scroll to see content

Tak Hanya Boros Listrik, Terungkap AI Habiskan Jutaan Liter Air Sehari

Jumat, 02 Oktober 2026 - 15:51:00 WIB
Tak Hanya Boros Listrik, Terungkap AI Habiskan Jutaan Liter Air Sehari
Penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau AI yang semakin masif ternyata tidak hanya membutuhkan energi listrik dalam jumlah besar. (Foto: AI Ilustrasi)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin masif ternyata tidak hanya membutuhkan energi listrik dalam jumlah besar. Di balik kemampuannya memberikan jawaban dalam hitungan detik, teknologi AI juga membutuhkan air dalam jumlah besar untuk mendukung sistem pendinginan pusat data (data center).

Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI), Profesor Agustino Zulys, menjelaskan bahwa pusat data AI menggunakan air sebagai salah satu media untuk menjaga suhu perangkat keras agar tidak terlalu panas ketika memproses berbagai perintah pengguna.

"Menggunakan AI akan mengurangi air minum kita? Betul, data center AI butuh air bersih, tapi bukan untuk diminum, melainkan untuk mendinginkan agar otaknya tidak kepanasan," ujar Prof Zulys melalui unggahan video edukasi di akun Instagram pribadinya, dikutip Jumat (2/10/2026).

Dia menjelaskan, setiap kali pengguna memberikan pertanyaan kepada AI, proses tersebut sebenarnya melibatkan ribuan chip di pusat data. Chip bekerja melakukan miliaran operasi komputasi yang membutuhkan listrik sekaligus menghasilkan panas.

"Ketika kita bertanya kepada AI, jawaban yang muncul dalam beberapa detik itu sebenarnya dikerjakan ribuan otak atau chip di data center. Chip melakukan miliaran operasi, itu membutuhkan listrik, menghasilkan panas," katanya.

Menurut Prof. Zulys, kondisi tersebut dapat dianalogikan seperti manusia yang sedang berpikir keras ketika menghadapi ujian. Semakin berat beban komputasi yang dilakukan, semakin besar pula panas yang dihasilkan perangkat.

"Jadi gampangnya, AI itu seperti mahasiswa mau ujian. Makin berat mikirnya, makin panas kepalanya. Kalau tidak segera didinginkan, mesin data bisa rusak. Prosesnya menggunakan air. Kenapa air? Air sebagai materi menakjubkan yang punya kapasitas panas tinggi," ucap Prof Zulys.

Konsumsi Air Bisa Mencapai Jutaan Liter

Besarnya kebutuhan air untuk pendinginan menjadi perhatian seiring meningkatnya penggunaan AI di berbagai sektor. Prof Zulys merujuk penelitian University of California, Riverside bersama University of Colorado mengenai konsumsi air dalam pemrosesan model AI.

Dia menyebut model seperti GPT-3 diperkirakan membutuhkan sekitar setengah liter air untuk setiap 50 respons. Jika penggunaan AI dilakukan dalam skala besar oleh jutaan pengguna, kebutuhan air tersebut dapat terakumulasi menjadi jumlah yang sangat besar.

"Studi dari UC Riverside dan Colorado memperkirakan model AI seperti GPT-3 minum sekitar setengah liter air untuk 50 respon, kira-kira 50 mililiter air per satu jawaban. Tapi kalau yang pakai ribuan orang, skalanya jadi bikin kaget," ujarnya.

Prof. Zulys juga menyebut satu pusat data berkapasitas 100 megawatt dapat menggunakan sekitar 2 juta liter air dalam sehari. Jumlah tersebut disebut setara dengan kebutuhan sekitar 6.500 rumah tangga.

Namun, besarnya konsumsi air pusat data tidak selalu sama. Angka tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari desain pusat data, jenis sistem pendinginan, iklim dan lokasi, hingga sumber energi yang digunakan.

AI Tidak Harus Dihentikan

Prof Zulys menegaskan persoalan konsumsi air tersebut bukan berarti masyarakat harus berhenti menggunakan AI. Menurut dia, yang perlu dilakukan adalah mendorong penggunaan teknologi pendinginan yang lebih efisien dan pengelolaan sumber daya air secara lebih bijak.

Salah satu caranya dengan menerapkan sistem pendinginan siklus tertutup atau closed-loop cooling. Sistem tersebut memungkinkan air digunakan kembali dalam proses pendinginan sehingga kebutuhan air baru dapat ditekan.

Selain itu, pusat data dapat memanfaatkan air daur ulang serta dibangun di lokasi yang memiliki daya dukung sumber daya air memadai.

"Terus bagaimana solusinya? Bukan berhenti memakai AI. Buat metode siklus pendinginan tertutup, air daur ulang, dan bangun data center di lokasi yang daya dukung airnya memadai. Jangan di lingkungan penduduk, terjadi persaingan konsumsi air," kata Prof Zulys.

Dari sisi pengguna, efisiensi juga dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan AI untuk hal-hal yang sebenarnya dapat dikerjakan sendiri. Pengguna juga disarankan membuat prompt secara lebih efektif agar tidak melakukan permintaan berulang yang tidak diperlukan.

"Sebagai user, kita bisa membantu meningkatkan efisiensi pemakaian air pendingin dengan cara yaitu kurangi query pada prompt yang tidak perlu. Gunakan AI sesuai dengan beban kerjanya, jangan semua pekerjaan kita minta bantuan AI. Kalau bisa kita kerjakan sendiri aja," ujarnya.

Prof. Zulys mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tetap perlu diimbangi dengan kesadaran terhadap sumber daya alam yang digunakan untuk menopangnya.

"Toh kita masih bisa hidup tanpa AI, tapi manusia tidak bisa hidup tanpa air," kata Prof Zulys.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut