Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : ASUS Rilis ExpertBook P5 G2, Laptop AI untuk Profesional Hybrid dan Pebisnis
Advertisement . Scroll to see content

Terlalu Sering Pakai AI, Studi Ungkap Daya Ingat Bisa Menurun

Sabtu, 25 Juli 2026 - 20:35:00 WIB
Terlalu Sering Pakai AI, Studi Ungkap Daya Ingat Bisa Menurun
AI secara berlebihan ternyata berpotensi menurunkan kemampuan otak dalam menyimpan informasi atau memori jangka panjang. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) seperti ChatGPT, Gemini dan sebagainya telah mengubah cara pelajar dan mahasiswa menyelesaikan tugas akademik. Meski menawarkan kemudahan dan efisiensi, penggunaan AI secara berlebihan ternyata berpotensi menurunkan kemampuan otak dalam menyimpan informasi atau memori jangka panjang.

Temuan tersebut terungkap dalam penelitian terbaru yang diterbitkan Elsevier melalui jurnal Social Sciences & Humanities Open Volume 12 (2025) berjudul "ChatGPT as a cognitive crutch: Evidence from a randomized controlled trial on knowledge retention".

Penelitian berbasis randomized controlled trial itu melibatkan 120 mahasiswa yang dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama diperbolehkan menggunakan ChatGPT sebagai alat bantu belajar, sedangkan kelompok kedua hanya mengandalkan metode belajar konvensional tanpa bantuan AI.

Setelah proses pembelajaran selesai, seluruh peserta mengikuti tes mendadak yang dilakukan secara berkala hingga 45 hari kemudian untuk mengukur seberapa banyak materi yang masih mereka ingat.

Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan yang cukup mencolok. Mahasiswa yang mengandalkan ChatGPT hanya memperoleh rata-rata skor retensi pengetahuan sebesar 57,5 persen. Sementara itu, kelompok yang belajar secara mandiri mampu mencatatkan rata-rata skor 68,5 persen.

Selisih sekitar 11 poin persentase tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI tanpa kontrol dapat berdampak pada menurunnya kemampuan otak mempertahankan informasi dalam jangka panjang.

Peneliti menjelaskan, kondisi ini dipengaruhi oleh fenomena yang dikenal sebagai cognitive offloading atau pelepasan beban kognitif. Saat AI langsung memberikan jawaban yang lengkap dan instan, otak tidak lagi melalui proses berpikir yang menantang untuk membangun ingatan yang kuat.

Padahal, pembentukan memori jangka panjang membutuhkan proses berpikir yang melibatkan usaha (effortful process). Ketika proses tersebut digantikan oleh AI, ikatan memori menjadi lebih lemah sehingga informasi yang dipelajari lebih mudah terlupakan.

Penelitian juga menemukan bahwa dampak tersebut terjadi secara konsisten pada berbagai jenis mata pelajaran. Bahkan, efeknya tetap muncul meski pengguna sudah terbiasa atau sangat mahir menggunakan teknologi AI.

Selain menurunkan retensi pengetahuan, ketergantungan pada AI juga memunculkan fenomena yang disebut sebagai ilusi pemahaman atau metacognitive blind spot. Kondisi ini membuat seseorang merasa telah memahami suatu materi hanya karena mampu membaca atau memperoleh jawaban yang tersusun rapi dari AI.

Padahal, pemahaman tersebut belum tentu benar-benar dimiliki oleh otaknya. Akibatnya, pengguna dapat merasa percaya diri telah menguasai materi, meski sebenarnya belum melalui proses berpikir kritis yang diperlukan untuk memahami dan mengingat informasi secara mendalam.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa AI sebaiknya dimanfaatkan sebagai alat pendukung proses belajar, bukan pengganti aktivitas berpikir. Menggunakan AI untuk mencari referensi atau membantu memahami konsep tetap bermanfaat, selama pengguna tetap aktif menganalisis, mengolah, dan mengingat materi secara mandiri.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut