Jangan Cuma Lihat Model dan Warna, Begini Cara Bijak Memilih Pakaian Anak
JAKARTA, iNews.id - Pernah melihat si kecil semangat memilih baju karena model atau warnanya lucu, tetapi setelah dipakai justru mengeluh panas, gatal, terlalu ketat, atau sulit bergerak?
Kondisi seperti itu menjadi pengingat bahwa memilih pakaian anak tidak cukup hanya berdasarkan tampilan. Ya, bagi anak yang aktif sepanjang hari, kenyamanan pakaian menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan orang tua.
Sebab, pakaian yang terlihat menarik belum tentu terasa nyaman ketika digunakan untuk berlari, bermain, berolahraga, atau sekadar bergerak bebas.
Hal tersebut semakin relevan di tengah perhatian terhadap aktivitas fisik anak di Indonesia.
Berdasarkan Physical Activity Factsheet: Indonesia 2024 dari World Health Organization (WHO), sebanyak 58 persen anak dan remaja Indonesia usia 10-14 tahun tergolong kurang aktif secara fisik berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.
Pada kelompok usia 15-19 tahun, angkanya mencapai 50,4 persen.
Pakaian memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan seberapa aktif seorang anak. Namun, lingkungan dan perlengkapan yang membuat anak merasa nyaman dapat menjadi bagian dari pengalaman mereka ketika beraktivitas.
Managing Director moodytiger Indonesia Hengky Wijaya mengatakan, orang tua biasanya menjadi pihak yang menentukan pakaian yang dibeli. Namun, anak memiliki keputusan sendiri setelah pakaian tersebut berada di rumah.
"Orang tua biasanya menjadi pihak yang menentukan pembelian, tetapi setelah itu anak membuat keputusan lain, apakah mereka mau memakai pakaian tersebut lagi atau tidak," ujar Hengky dalam keterangannya, Minggu (27/9/2026).
Menurut dia, pengalaman anak ketika mengenakan pakaian juga perlu menjadi pertimbangan. Pakaian yang terlihat bagus dan memiliki ukuran sesuai belum tentu nyaman jika membuat gerakan terbatas atau terasa panas.
Lantas, apa saja yang perlu diperhatikan orang tua ketika memilih pakaian untuk si kecil? Simak berita selengkapnya hanya di sini.
1. Jangan hanya melihat ukuran di label
Ukuran pada label memang penting, tetapi bukan satu-satunya patokan. Orang tua perlu melihat apakah pakaian tersebut memberikan ruang yang cukup bagi anak untuk bergerak.
Untuk pakaian yang digunakan beraktivitas, ukuran yang terlalu ketat dapat membuat anak merasa tidak leluasa. Sebaliknya, pakaian yang terlalu longgar juga perlu disesuaikan dengan jenis kegiatan agar tidak justru mengganggu pergerakan.
Karena itu, pakaian sebaiknya dicoba sambil mempertimbangkan aktivitas yang biasa dilakukan anak, bukan hanya bagaimana tampilannya ketika anak berdiri diam.
2. Pilih bahan yang sesuai dengan aktivitas
Material pakaian juga penting, terutama ketika anak akan mengenakannya dalam waktu lama atau menggunakannya untuk aktivitas fisik.
Di tengah cuaca Indonesia yang cenderung hangat dan lembap, orang tua dapat mempertimbangkan bahan yang terasa nyaman ketika bersentuhan dengan kulit dan sesuai dengan aktivitas anak.
Keluhan sederhana seperti merasa gerah, gatal, atau tidak nyaman setelah memakai pakaian dapat menjadi petunjuk bahwa pilihan material perlu dievaluasi.
3. Pastikan pakaian tidak membatasi gerak
Anak memiliki aktivitas yang berbeda-beda setiap hari. Pakaian untuk sekolah tentu tidak selalu memiliki kebutuhan yang sama dengan pakaian untuk olahraga atau bermain di luar ruangan.
Karena itu, orang tua dapat mempertimbangkan fungsi pakaian sebelum membeli. Apakah anak akan berlari? Banyak membungkuk? Bermain di luar? Atau mengikuti kelas olahraga?
Semakin aktif kegiatan yang dilakukan, semakin penting memastikan pakaian memberikan keleluasaan bergerak.
4. Dengarkan apa yang dirasakan anak
Anak tidak harus menjadi pihak yang menentukan seluruh keputusan pembelian. Namun, mendengarkan pengalaman mereka dapat membantu orang tua memilih pakaian yang lebih sesuai.
Jika anak berulang kali mengeluh bajunya panas, gatal, terlalu ketat, atau membuatnya sulit bergerak, keluhan tersebut sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai sekadar rengekan.
"Anak tidak harus menentukan setiap keputusan pembelian, tetapi mendengarkan apa yang mereka rasakan dapat membantu orang tua membuat pilihan yang lebih tepat," kata Hengky.
Dengan cara tersebut, orang tua tetap dapat mempertimbangkan kualitas, material, dan fungsi pakaian, sementara anak memiliki ruang untuk menyampaikan apakah pakaian tersebut benar-benar nyaman digunakan.
Perhatian terhadap kenyamanan juga muncul seiring berkembangnya kategori pakaian anak di Indonesia.
Data Euromonitor International yang dipublikasikan melalui MarketResearch(dot)com menunjukkan nilai penjualan ritel pakaian anak di Indonesia mencapai Rp16,8 triliun pada 2025. Angka tersebut tumbuh 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Laporan tersebut mencatat peningkatan pendapatan kelas menengah serta perhatian yang lebih besar terhadap kenyamanan dan keamanan anak turut mendorong pertumbuhan kategori pakaian anak.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pakaian anak kini tidak hanya dipandang dari sisi tampilan. Fungsi, kenyamanan, dan kesesuaiannya dengan aktivitas sehari-hari juga menjadi bagian dari pertimbangan.
Pada akhirnya, memilih pakaian untuk si kecil bukan sekadar mencari warna yang menarik atau model yang sedang tren. Pakaian yang tepat juga perlu membuat anak merasa nyaman, leluasa bergerak, dan tentu saja mau mengenakannya kembali.
Editor: Muhammad Sukardi