Rumah Tanpa Banyak Sekat ala Hunian Jepang Makin Diminati, Ini Alasannya!
JAKARTA, iNews.id — Konsep hunian dengan sedikit sekat semakin menarik perhatian. Alasannya, membuat rumah terasa lebih terbuka, lapang, dan mudah disesuaikan dengan berbagai aktivitas.
Konsep ini banyak ditemukan dalam pendekatan desain hunian Jepang. Alih-alih memenuhi rumah dengan dinding permanen, ruang dirancang agar memiliki hubungan yang lebih fleksibel satu sama lain.
Bukan sekadar persoalan estetika, minimnya sekat juga membuat penghuni memiliki lebih banyak pilihan dalam menggunakan ruang. Ruang keluarga, ruang makan, area kerja, hingga area luar dapat terasa saling terhubung tanpa benar-benar kehilangan fungsi masing-masing.
Salah satu alasan konsep ruang terbuka semakin diminati adalah kemampuannya menciptakan kesan rumah yang lebih luas.
Ketika pandangan tidak terhalang dinding, cahaya alami dapat masuk lebih jauh ke dalam ruangan. Hubungan visual antara satu area dengan area lain pun menjadi lebih kuat.
Pada hunian dengan lahan terbatas, pendekatan semacam ini bisa menjadi solusi untuk menghindari kesan sempit dan penuh.
Namun, konsep rumah minim sekat bukan berarti seluruh ruangan harus dibuat terbuka tanpa batas. Justru, kuncinya terletak pada bagaimana penghuni dapat mengatur tingkat keterbukaan sesuai kebutuhan.
Di sinilah pintu geser menjadi salah satu elemen yang menarik. Saat dibuka, dua ruang dapat terasa menyatu. Ketika privasi dibutuhkan, ruang tersebut dapat kembali dipisahkan.
Kebutuhan penghuni rumah juga semakin dinamis. Satu ruangan tidak selalu digunakan untuk satu aktivitas.
Ruang keluarga misalnya, bisa menjadi tempat bersantai, bekerja, menerima tamu, hingga menjadi area bermain anak. Karena itu, desain rumah yang fleksibel menjadi semakin relevan.
Konsep tersebut terlihat dalam pendekatan desain yang dihadirkan Toestem Pavilion pada IndoBuildTech Expo 2026. Paviliun tersebut dirancang bukan sekadar sebagai tempat melihat produk, tetapi sebagai rangkaian ruang yang mengajak pengunjung mengeksplorasi, berdiam, melakukan refleksi, hingga menjalin relasi.
Pendekatan itu memperlihatkan bagaimana elemen seperti pintu dan jendela dapat berperan lebih jauh daripada sekadar pembatas atau pelengkap bangunan
Pengalaman tersebut menjadi penting karena dalam konsep hunian terbuka, pintu bukan lagi sekadar benda yang dibuka dan ditutup. Mekanisme, ukuran, suara, hingga bagaimana sebuah bukaan menghubungkan dua ruang ikut menentukan pengalaman penghuni.
Konsep minim sekat juga membuat jendela dan pintu kaca memiliki peran yang semakin besar.
Bukaan lebar memungkinkan penghuni mendapatkan lebih banyak cahaya alami sekaligus memperluas pandangan ke taman, balkon, atau area luar rumah. Batas antara ruang dalam dan luar pun terasa lebih cair.
Pendekatan tersebut dapat ditemukan pada berbagai desain hunian Jepang yang mengutamakan hubungan antara manusia, ruang, dan lingkungan di sekitarnya.
Menurut Hirokazu Morokuma, Leader, Indonesia, LHT Asia, rumah terbuka tidak selalu berarti mengorbankan kenyamanan. Dengan perencanaan yang tepat, keterbukaan justru dapat membuat ruang terasa lebih hidup sekaligus memberikan pengalaman berbeda sepanjang hari.
Menariknya, kenyamanan rumah minim sekat tidak hanya ditentukan oleh desain besar seperti denah atau ukuran ruangan.
Detail kecil justru bisa sangat terasa dalam penggunaan sehari-hari. Misalnya, bagaimana pintu bergerak ketika dibuka, apakah terdapat rel yang mengganggu lantai, seberapa besar suara yang muncul ketika pintu dioperasikan, hingga seberapa mudah ruang tersebut diubah sesuai kebutuhan.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan berbagai sistem bukaan modern, termasuk inovasi pada IN16 Series. Sistem seperti Corner Sliding IN16 memungkinkan area sudut dibuka lebih leluasa dengan tampilan bingkai yang ramping.
Ada pula Floor Spring Door yang memungkinkan bukaan ayun dua arah tanpa rel bawah serta Synchronized Hanging Door yang memungkinkan dua panel bergerak secara simetris.
Teknologi tersebut pada akhirnya bukan sekadar mengejar tampilan minimalis. Tujuannya adalah membuat elemen pembatas ruang terasa semakin ringan dan tidak mendominasi interior.
Konsep rumah minim sekat pada akhirnya berbicara tentang fleksibilitas.
Rumah tidak lagi harus memiliki fungsi yang kaku. Ketika keluarga bertambah, pola aktivitas berubah, atau kebutuhan privasi meningkat, ruang idealnya dapat beradaptasi tanpa harus selalu melakukan renovasi besar.
Pada akhirnya, tren hunian minim sekat bukan semata-mata tentang membuat rumah terlihat modern atau mengikuti gaya Jepang.
Lebih dari itu, konsep tersebut menjawab kebutuhan akan ruang yang lebih fleksibel, terang, lapang, dan mampu mengikuti ritme kehidupan penghuninya.
Rumah pun tidak lagi dipandang sebagai kumpulan ruangan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai satu kesatuan ruang yang dapat berubah sesuai aktivitas dan kebutuhan orang-orang di dalamnya.
Editor: Muhammad Sukardi