Tanjung Lesung, Sanctuary Baru di Pesisir Banten yang Menenangkan
JAKARTA, iNews.id - Di tengah ritme hidup yang semakin cepat dan dunia yang dipenuhi ketidakpastian, banyak orang kini mencari cara baru untuk berlibur. Bukan lagi sekadar berburu destinasi populer, tetapi mencari ruang yang mampu menghadirkan ketenangan, kenyamanan, dan kesempatan untuk kembali terhubung dengan alam.
Di pesisir Pandeglang, Banten, Tanjung Lesung menawarkan pengalaman tersebut. Apa yang bisa dieksplor dari destinasi wisata satu ini?
Kawasan wisata Tanjung Lesung berada di sekitar 1.500 hektare. Lokasi ini perlahan berkembang bukan hanya sebagai destinasi liburan, tetapi juga sebagai sanctuary, alias tempat untuk beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.
Hamparan pantai yang membentang, udara laut yang segar, serta suasana yang jauh dari kepadatan perkotaan menjadi daya tarik utama kawasan ini. Beragam aktivitas wisata juga tersedia, mulai dari wisata air, wisata darat, wisata udara hingga pengalaman budaya yang memperkenalkan kekayaan lokal Banten.
Menurut Setyono Djuandi Darmono atau SD Darmono, Chairman of PATA (Pacific Asia Travel Association) Indonesia Chapter, kebutuhan akan destinasi yang menawarkan ketenangan dan kedekatan dengan alam semakin relevan dengan kondisi dunia saat ini.
"Indonesia memiliki banyak kawasan yang berpotensi menjadi sanctuary. Salah satunya adalah Tanjung Lesung yang lokasinya relatif dekat dari Jakarta," ujar Darmono dalam keterangannya, Rabu (10/6/2026).
Bagi banyak wisatawan modern, pengalaman berlibur kini tidak hanya diukur dari kemewahan fasilitas atau banyaknya atraksi yang tersedia. Lingkungan yang terjaga justru menjadi nilai tambah yang semakin dicari.
Pantai yang bersih, ekosistem laut yang sehat, serta budaya lokal yang tetap hidup menjadi elemen penting dalam menciptakan pengalaman wisata yang bermakna. Menurut Darmono, tren tersebut menunjukkan perubahan cara pandang dunia terhadap pembangunan dan pariwisata.
"Kalau model pembangunan abad ke-20 sebagian besar didorong dengan pemanfaatan sumber daya (alam), model pembangunan abad ke-21 ditentukan oleh kemampuan kita melakukan restorasi, termasuk restorasi lingkungan," katanya.
Pandangan itu membuat kawasan seperti Tanjung Lesung memiliki peluang besar untuk berkembang dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan. Alam tidak lagi diposisikan sebagai objek yang dieksploitasi, melainkan aset yang harus dijaga untuk masa depan.
Keindahan alam yang terpelihara bukan hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga nilai ekonomi yang berkelanjutan. Ketika wisatawan datang untuk menikmati pantai yang bersih, terumbu karang yang sehat, serta budaya yang autentik, maka muncul dorongan untuk terus menjaga kualitas lingkungan tersebut.
"Ketika wisatawan menghargai pantai yang bersih, hutan yang lestari, terumbu karang yang sehat, dan budaya lokal yang hidup, maka ekonomi akan memberikan insentif untuk menjaga semuanya," ungkap Darmono.
Karena itu, ia menilai pariwisata yang dikelola dengan baik dapat menjadi instrumen konservasi yang efektif. Wisata tidak hanya menghadirkan manfaat ekonomi, tetapi juga membantu menjaga keberlangsungan alam dan budaya setempat.
Potensi Tanjung Lesung juga semakin kuat dengan hadirnya infrastruktur baru yang memperpendek waktu perjalanan dari Jakarta dan kota-kota sekitarnya. Rampungnya Jalan Tol Serang-Panimbang diyakini akan membuat kawasan ini semakin mudah diakses wisatawan.
Namun bagi Darmono, nilai utama Tanjung Lesung bukan semata soal akses yang lebih cepat. Lebih dari itu, kawasan ini dinilai mampu menjawab kebutuhan wisatawan masa kini yang mendambakan ruang untuk beristirahat dan memulihkan diri.
"Dengan hadirnya akses Tol Serang-Panimbang yang segera rampung, Tanjung Lesung tidak hanya menjadi lebih dekat secara geografis. Tanjung Lesung menjadi lebih relevan dengan kebutuhan dunia saat ini," jelasnya.
Editor: Muhammad Sukardi