12 Falsafah Hidup Orang Jawa dan Maknanya, Bikin Hidup Lebih Bijaksana dan Bahagia
JAKARTA, iNews.id - Ada banyak falsafah hidup orang Jawa yang bisa dijadikan pedoman. Falsafah atau nilai luhur yang dianut orang Jawa dalam menjalani kehidupan memang mempunyai kebijaksanaan tersendiri.
Setiap peradaban dan kebudayaan tentu memiliki falsafah hidup atau nilai-nilai yang dijadikan pegangan oleh kelompok masyarakatnya. Tak terkecuali dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Nilai-nilai kehidupan masyarakat Jawa sudah mengakar kuat di alam pikir dan mempengaruhi cara orang Jawa menyikapi dan menjalani kehidupan. Nilai-nilai yang diturunkan oleh leluhur orang-orang Jawa juga masih relevan digunakan dalam kehidupan modern saat ini.
Falsafah hidup orang Jawa banyak mengandung kebijaksanaan yang mencerminkan mentalitas hingga religiusitas orang-orang Jawa. Berikut adalah beberapa filosofi hidup orang Jawa yang membuat hidup lebih bahagia.
Narima ing pandum bisa diartikan sebagai menerima apa yang sudah digariskan pada kita. Nilai filosofi ini adalah representasi atas betapa orang Jawa mampu bersikap ikhlas dan pasrah kepada Tuhan yang Maha Esa atas apa yang diterimanya dalam hidup.
Sikap ini sangat baik untuk dijadikan pedoman hidup. Pasalnya, apa yang terjadi dalam hidup terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Ini bukan sikap menyerah, tetapi berserah dan menerima ketetapan dengan penuh rasa syukur. Sikap ini juga bisa menjadi kontrol agar kita tidak menjadi manusia serakah.
Filosofi hidup alon-alon waton kelakon memiliki sebagai pelan-pelan asal selamat. Meski terdengar sederhana, tetapi nilai sikap yang satu ini memiliki makna yang mendalam.
Alon-alon waton kelakon adalah sikap berhati-hati, waspada, tetapi tetap ulet dalam berusaha atau menjalani hidup.
Singkat, namun mempunyai makna yang luas dan mendalam. Urip iku urup artinya adalah hidup itu harus menyala.
Jika dijabarkan, nilai ini mengarahkan seseorang agar selalu menjadi penerang bagi sesama. Hidup yang menyala artinya adalah hidup yang bermanfaat untuk sesama, khususnya orang-orang di sekitar.
Jika diartikan, aja gumunan artinya adalah pengingat agar kita tidak gampang heran terhadap sesuatu. Aja getunan artinya adalah jangan mudah menyesal atau kecewa terhadap apapun.
Aja kagetan berarti tidak perlu mudah terkejut terhadap apa yang terjadi dalam hidup. Dan aja aleman artinya adalah jangan manja terhadap cobaan hidup.
Filosofi hidup yang satu ini memiliki makna sangat panjang jika dijabarkan. Nilai ini mengajarkan seseorang agar menjadi pribadi yang kesatria, kuat dan bisa menerima semua keadaan dengan.
Ini adalah salah satu falsafah hidup orang Jawa yang bersifat pengingat atau pepeling. Aja kuminter artinya adalah menjadi manusia yang merasa paling pintar sendiri.
Jangan menjadi orang yang merasa selalu benar atau paling pandai agar tidak salah arah. Sedangkan aja cidra mundak cilaka artinya adalah jangan curang dalam hidup agar tidak celaka.
Ini juga bersifat pepeling dan mempunyai makna yang dalam. Sapa nandur bakal ngunduh artinya adalah siapa yang menanam dialah yang akan menuai hasilnya, baik dalam konteks kebaikan atau keburukan.
Filosofi yang satu ini memiliki makna bahwa semua kebaikan pasti akan terlihat dan semua keburukan atau kejahatan juga akan tampak pada waktunya.
Filosofi ini mengajarkan kita agar senantiasa memperbanyak perbuatan baik. Terlebih, semua keburukan pasti akan terbongkar dan mendapatkan ganjarannya juga.
Ngunduh wohing pakarti secara sederhana bisa diartikan memetik hasil atau buah dari perbuatan sendiri. Kita diajarkan bahwa semua orang pasti akan mendapatkan akibat dari segala perilakunya sendiri.
Oleh karena itu, kita harus selalu ingat dan berhati-hati dalam betindak. Semua hal baik dan buruk pasti akan kita tuai hasilnya di hari depan.
Ajining diri saka lathi artinya adalah kehormatan pribadi seseorang dinilai dari berasal dari lisan atau ucapannya. Sementara ajining raga saka busana artinya adalah kehormatan fisik seseorang dinilai dari apa yang dikenakannya, dalam hal ini adalah sopan santun berpakaian.
Cara berpakaian bagi orang Jawa dapat menentukan kehormatan raga, sedangkan cara berbicara menunjukkan kehormatan 'diri' dari seseorang. Ucapan dan penampilan akan mempengaruhi bagaimana seseorang berinteraksi dan menghargai satu sama lain.
Ini adalah salah satu filosofi hidup yang mencerminkan sikap kesatria orang Jawa. Ngluruk tanpa bala artinya adalah berjuang tanpa perlu membawa pasukan. Ini bisa direpresentasikan bahwa seseorang haruslah mengandalkan kemampuan dan dirinya sendiri serta harus bertanggung jawab.
Menang tanpa merendahkan artinya adalah menang tanpa merendahkan. Ini berarti kita tidak boleh sombong atau merendahkan sesama ketika dalam keadaan lebih baik atau unggul.
Sekti tanpa aji-aji artinya adalah sakti tanpa ajian. Ini bermakna bahwa seseorang hendaknya tetap berwibawa tanpa harus mengandalkan kekuasaannya.
Sugih tanpa banda artinya adalah Kaya tanpa kemewahan. Bisa diartikan bahwa seseorang tidak boleh bermental miskin, karena kekayaan bukan semata soal materi.
Nilai yang satu ini memiliki makna bahwa segala sifat keras hati, angkara murka, hanya bisa dikalahkan oleh kebijaksanaan, hati yang lembut dan sabar.
Datan serik lamun ketaman artinya adalah jangan mudah sakit hati manakala sedang menerima ujian atau musibah. Datan susah lamun kelangan artinya adalah tidak perlu bersedih ketika kehilangan sesuatu.
Filosofi hidup yang satu ini juga mengajarkan kita untuk ikhlas dengan cara yang kesatria. Pasalnya, semua keadaan dalam hidup sudah ditetapkan.
Itulah 12 falsafah hidup orang Jawa yang patut dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan. Itu hanya sebagian kecil karena ada banyak lagi nilai-nilai luhur yang mencerminkan karakter dan cara hidup orang Jawa.
Editor: Komaruddin Bagja